Revitalisasi Samudera Pase Sebagai Pusat Peradaban Islam Pertama Di Nusantara

Advertisement
http://s-hukum.blogspot.com/
SUDUT HUKUM | Berikut materi yang disampaikan Rektor IAIN Ar Raniry Banda Aceh, Profesor DR. H. Farid Wajdi Ibrahim, MA pada seminar Islam internasional samudera pasai di hall islamic center, kota Lhokseumawe, Ahad (17/03).

I. Pendahuluan
Kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah kerajaan Samudera Pasai. Kerajaan ini terletak di pesisir timur laut Aceh. Kemunculannya sebagai kerajaan Islam di perkirakan mulai awal atau pertengahan abad ke 13 M, sebagai hasil dari proses Islamisasi daerah–daerah pantai yang pernah di singgahi pedagang– pedagang muslim sejak abad ke 7, ke 8 M, dan seterusnya. Daerah ini sudah disinggahi pedagang muslim sejak abad ke-7 dan ke-8 M. Proses Islamisasi tentu telah berjalan di sana sejak abad tersebut, baik dalam bidang politik maupun perdagangan.
Tidak diragukan lagi, bahwasanya peradaban Islam di Nusantara dengan kemajuan di bidang tradisi keilmuan dan praktek keagamaan muslim Melayu Nusantara berawal dari kerajaan samudra Pase. Samudera Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Nusantara yang bukan hanya terkenal sebagai kerajaan yang berpengaruh di bidang pengembangan Islam di Nusantara semata, melainkan peradabannya berhasil menyatukan sejumlah kerajaan kecil di daerah Peurelak, seperti Rimba Jreum dan Seumerlang. Kerajaan ini diperkirakan berdiri pada awal atau pertengahan abad ke-13 M, sebagai hasil dari proses Islamisasi di daerah-daerah pantai yang pernah disinggahi oleh para pedagang-pedangan muslim sejak abad ke-7 hingga seterusnya.
Petunjuk pertama tentang muslim Indonesia berkaitan dengan bagian utara Sumatera. Di pemakaman Lamreh ditemukan nisan Sultan Sulaiman bin Abdullah bin Al-Bashir yang wafat tahun 608 H/ 1211 M. Ini merupakan petunjuk pertama tentang keberadaan kerajaan Islam di wilayah Indonesia.
Telah disebutkan di muka bahwa, Pasai merupakan kerajaan besar, pusat perdagangan dan perkembangan agama Islam. Sebagai kerajaan besar, di kerajaan ini juga berkembang suatu kehidupan yang menghasilkan karya tulis yang baik. Sekelompok minoritas kreatif berhasil memanfaatkan huruf Arab yang dibawa oleh agama Islam, untuk menulis karya mereka dalam bahasa Melayu. Inilah yang kemudian disebut sebagai bahasa Jawi, dan hurufnya disebut Arab Jawi. Di antara karya tulis tersebut adalah Hikayat Raja Pasai (HRP). Bagian awal teks ini diperkirakan ditulis sekitar tahun 1360 M. HRP menandai dimulainya perkembangan sastra Melayu klasik di bumi nusantara. Bahasa Melayu tersebut kemudian juga digunakan oleh Syaikh Abdurrauf al-Singkili untuk menuliskan buku-bukunya.
Sejalan dengan itu, juga berkembang ilmu tasawuf. Di antara buku tasawuf yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu adalah Durru al-Manzum, karya Maulana Abu Ishak. Kitab ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh Makhdum Patakan, atas permintaan dari Sultan Malaka. Informasi di atas menceritakan sekelumit peran yang telah dimainkan oleh Samudera Pasai dalam posisinya sebagai pusat tamadun Islam di Asia Tenggara pada masa itu.
Oleh karena itu, dalam kesempatan ini kita mencoba untuk menguraikan bagaimana revitalisasi Samudera Pasai dalam bingkai historis, sosiologis dan filosofis sehingga menjadikannya sebagai pusat peradaban Islam pertama di Indonesia?

II. Pembahasan
A. Masuknya Islam di Indonesia
Masuknya Islam di Indonesia Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 atau ke-8 yang bertepatan dengan abad ke-1 atau ke-2 H, rute atau jalur yang dilewati adalah jalur utara dan selatan. Daerah yang mula-mula menerima masuknya agama Islam adalah pantai barat Pulau Sumatera. Penyebaran Islam di Indonesia yang berjalan secara damai tanpa menimbulkan kekerasan merupakan cermin hakikat ajaran Islam yang menjadi rahmatan lil alamin.
Perkembangan Islam di Sumatera. Pada pertengahan abad ke-13, di Sumatera telah berdiri kerajaan Islam Samudera Pasai yang merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia, kerajaan ini terletak di pesisir timur laut aceh yang sekarang merupakan wilayah Kabupaten Lhoksumawe. Samudera Pasai adalah sebuah kerajaan maritim, samudera pasai telah mengadakan hubungan dengan Sultan Delhi di India pada pelayaran kerajaan Samudra Pasai merupakan pusat studi agama Islam dan tempat berkumpulnya para ulama dari berbagai negara Islam.
Pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.
Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi’i.
Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.
Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil’alamin.
Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali para penjajah – terutama Belanda – menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.
Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani.
Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada mazhab Syafi’i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup Eropa. Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang. Terlepas dari hal ini, ulama-ulama Nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada Nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda. Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar).
Kesultanan aceh berdiri pada tahun 1514, terletak di ujung utara pulau Sumatra. Pendirinya adalah sultan Ali Mughayat Syah yang bertakhta dari tahun 1514 – 1530. Pada tahun 1520, beliau memulai kampanye militernya untuk menguasai bagian utara Sumatra. Dalam sejarah ini Kampanye pertamanya dilakukan di Daya, di sebelah barat laut, yang menurut Time Pires belum mengenal Islam. Selanjutnya, Ali mughayat Syah melebarkan sayap sampai ke pantai timur yang terkenal kaya akan rempah-rempah dan emas. Untuk memperkuat perekonomian rakyat dan kekuatan militer laut, didirikannya banyak pelabuhan. Penyebrangan ke Deli dan Aru adalah perluasan daerah terakhir yang dilakukan oleh sultan Ali Mughayat. Sultan juga mampu mengusir garnisun POrtugis dari daerah Deli, yang meliputi Pedir dan Pasai. Namun saat penyebrangan terhadap Aru (1824), tentara Ali Mughayat dapat dikalahkan oleh Armada Portugis. Selain mengancam portugis sebagai pemilik kekuatan militer laut di kawasan itu, aksi militer Sultan Ali Mughayat Syah ternyata juga mengancam Kesultanan Johor. Pada tahun 1521 kesultanan Aceh diperluas sampai Pidie, dan pada tahun 1524 ke pasai dan Aru, kemudian menyusul Perlak, Tamiang, dan Lamuri. Kesultanan Aceh Darusalam merupakan kelanjutan dari kesultanan Samudra pasai yang hancur pada abad ke 14. Ada beberapa versi sejarah lain mengenai terbentuknya Kerajaan Aceh Darussalam. Menurut Hikayat Aceh, Aceh Darusalam adalah persatuan dua kerajaan yang masing-masing diperintah oleh Sultan Muzaffar Syah (Pidie) dan raja Inayat Syah (Aceh Besar), dua orang bersaudara. Suatu saat pecah peperangan antara keduanya, dan dimenangi oleh Muzaffar Syah. Dia menyatukan Pidie dan Aceh Besar, lantas memberinya nama Kesultanan Aceh Darussalam membawahkan enam kerajaan kecil; kerajaan Perlak, Kerajaan Samudra Pasai, Kerajaan Tamiang, Kerajaan Pidie, Kerajaan Indrapura, dan Kerajaan indrajaya. Kitab Bustanus Salatin, kitab kronik raja-raja aceh, menyebut Sultan Ali Mughayat Syah sebagai sultan aceh yang pertama. Ia mendirikan Kesultanan Aceh dengan menyatukan beberapa kerajaan kecil tersebut. Pusat kesultanan adalah . Banda Aceh, yang juga disebut Kuta Raja.
Banda Aceh sebagai Bandar niaga tidak terlalu kecil untuk pelabuhan kapal-kapal besar pada abad ke 16. pelabuhan banda aceh mudah dirapati oleh berbagai jenis kapal dagang. Maka, aceh pun semakin ramai. Apalagi sejak Malaka jatuh ke tangan Portugis, para saudagar muslim lebih memilih berlabuh di Banda Aceh. Tak hanya pedagang Muslim, pedagang asing non portugis pun juga turut meramaikan pelabuhan Banda Aceh, sehingga kesultanan Aceh mendapatkan banyak keuntungan.
B. Kerajaan Samudra Pase dan Kejayaannya
• Awal Berdirinya
Kerajaan Samudera biasa juga di sebut samudera Pase yang didirikan oleh raja Murah Silo yang kemudian bergelar Maliku’s Shaleh. Adanya kerajaan ini dibuktikan adanya batu nisan di atas makamnya di Blang Me yang disebutkan mangkatnya pada tahun 697 H bertepatan 1297 M. Kerajaan ini kemudian diwariskan kepada putranya yang pertama bernama Sultan malikul Zahir.
Kerajaan Samudera Pasai terletak di Aceh, dan merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan ini didirikan oleh Meurah Silu pada tahun 1267 M. Bukti-bukti arkeologis keberadaan kerajaan ini adalah ditemukannya makam raja-raja Pasai di kampung Geudong, Aceh Utara. Makam ini terletak di dekat reruntuhan bangunan pusat kerajaan Samudera di desa Beuringin, kecamatan Samudera, sekitar 17 km sebelah timur Lhokseumawe. Di antara makam raja-raja tersebut, terdapat nama Sultan Malik al-Saleh, Raja Pasai pertama. Malik alSaleh adalah nama baru Meurah Silu setelah ia masuk Islam, dan merupakan sultan Islam pertama di Indonesia. Berkuasa lebih kurang 29 tahun (1297-1326 M). Kerajaan Samudera Pasai merupakan gabungan dari Kerajaan Pase dan Peurlak, dengan raja pertama Malik alSaleh.
Seorang pengembara Muslim dari Maghribi, Ibnu Bathutah sempat mengunjungi Pasai tahun 1346 M. ia juga menceritakan bahwa, ketika ia di Cina, ia melihat adanya kapal Sultan Pasai di negeri Cina. Memang, sumber-sumber Cina ada menyebutkan bahwa utusan Pasai secara rutin datang ke Cina untuk menyerahkan upeti. Informasi lain juga menyebutkan bahwa, Sultan Pasai mengirimkan utusan ke Quilon, India Barat pada tahun 1282 M. Ini membuktikan
bahwa Pasai memiliki relasi yang cukup luas dengan kerajaan luar Pada masa jayanya, Samudera Pasai merupakan pusat perniagaan penting di kawasan itu, dikunjungi oleh para saudagar dari berbagai negeri, seperti Cina, India, Siam, Arab dan Persia. Komoditas utama adalah lada. Sebagai bandar perdagangan yang besar, Samudera Pasai mengeluarkan mata uang emas yang disebut dirham. Uang ini digunakan secara resmi di kerajaan tersebut. Di samping sebagai pusat perdagangan, Samudera Pasai juga merupakan pusat perkembangan agama Islam.
Seiring perkembangan zaman, Samudera mengalami kemunduran, hingga ditaklukkan oleh Majapahit sekitar tahun 1360 M. Pada tahun 1524 M ditaklukkan oleh kerajaan Aceh. Adapun silsilahnya adalah sebagai berikut:
1.    Sultan Malik al-Saleh (1267 M – 1297 M)
2.    Sultan Muhammad Malikul Zahir (1297 M – 1326 M)
3.    Sultan Ahmad Laidkudzahi (1326 M – 1383 M)
4.    Sultan Zainal Abidin Malik al-Zahir (1383 M – 1405 M)
5.    Sultan Shalahuddin (1405 M – 1412 M)
Rentang masa kekuasan Samudera Pasai berlangsung sekitar 3 abad, dari abad ke-13 hingga 16 M.
Keterangan Ibnu Batutah tersebut dapat ditarik kesimpulan pendidikan yang berlaku di zaman kerajaan Pasai sebagai berikut:
a. Materi pendidikan dan pengajaran agama bidang syari’at adalah Fiqh mazhab Syafi’i
b. Sistem pendidikannya secara informal berupa majlis ta’lim dan halaqoh
c. Tokoh pemerintahan merangkap tokoh agama
d. Biaya pendidikan bersumber dari negara. (Zuhairini, et.al., 2000: 136)
Pada zaman kerajaan Samudra Pasai mencapai kejayaannya pada abad ke-14 M, maka pendidikan juga tentu mendapat tempat tersendiri. Mengutip keterangan Tome Pires, yang menyatakan bahwa “di Samudra Pasai banyak terdapat kota, dimana antar warga kota tersebut terdapat orang-orang berpendidikan”. (M. Ibrahim, et.al, 1991: 61)
Menurut Ibnu Batutah juga, Pasai pada abad ke-14 M, sudah merupakan pusat studi Islam di Asia Tenggara, dan banyak berkumpul ulama-ulama dari negara-negara Islam. Ibnu Batutah menyatakan bahwa Sultan Malikul Zahir adalah orang yang cinta kepada para ulama dan ilmu pengetahuan. Bila hari jum’at tiba, Sultan sembahyang di Masjid menggunakan pakaian ulama, setelah sembahyang mengadakan diskusi dengan para alim pengetahuan agama, antara lain: Amir Abdullah dari Delhi, dan Tajudin dari Ispahan. Bentuk pendidikan dengan cara diskusi disebut Majlis Ta’lim atau halaqoh. Sistem halaqoh yaitu para murid mengambil posisi melingkari guru. Guru duduk di tengah-tengah lingkaran murid dengan posisi seluruh wajah murid menghadap guru.
Dari keterangan Ibnu Batutah di sebutkan bahwa kerajaan ini telah mengadakan kontak kerja secara luas baik dengan Tiongkok maupun India. Pada zaman Malikus Shaleh hingga pertualangan Ibn Batutah, Pase telah bangkit dengan cepat dan baik dalah kehidupan perokonomiannya dan perkembangan Islam pertama di kepulauan Nusantara.

• Kejayaan Pase
Hikayat Raja-Raja Pasai, merupakan salah satu sumber tentang cerita masuknya Islam ke Samudra. Dalam cerita ini disebutkan bahwa Khalifah di Mekah mendengar tentang adanya Samudra dan memutuskan untuk mengirim sebuah kapal ke sana untuk memenuhi harapan forcasting Nabi Muhammad SAW bahwa suatu hari nanti akan ada sebuah kota besar di timur yang bernama Samudra, yang akan menghasilkan orang suci. Kapten kapal itu, Syekh Ismail, singgah dulu di India untuk menjemput seorang sultan yang telah mengundurkan diri karena ingin menjadi da’i. Penguasa Samudra, Merah Silau (atau Silu), bermimpi bahwa Nabi menampakan diri kepadanya, mengalihkan secara gaib pengetahuan tentang Islam kepadanya dengan cara meludah ke dalam mulutnya, dan memberinya gelar Sultan Malik As-Salih. Setelah terbangun, sultan yang baru ini mendapati bahwa dia dapat membaca Qur’an walaupun dirinya belum pernah diajar, dan bahwa dia telah dikhitan secara gaib. Dapat dimengerti bahwa para pengikutnya merasa takjub atas kemampuan sultan mengaji dalam bahasa Arab. Kemudian kapal dari Mekah tadi tiba. Ketika Syekh Ismail mendengar pengucapan dua kalimat syahadat Malik As-Salih, maka dia pun melantiknya menjadi penguasa dengan tanda-tanda kerajaan dan jubah-jubah kenegaraan dari Mekah. Syekh Ismail terus mengajarkan dua kalimat Syahadat. Syekh Ismail kemudian meninggalkan Samudra, sedangkan da’i yang berkebangsaan India tetap tinggal untuk menegakan Islam secara lebih kokoh di Samudra. Sultan Malik As-Salih meninggal pada tahun 1297 M.
Dibawah pemerintahan Sultan Muhammad Malik al-Zahir (1297 – 1326), kerajaan Samudra Pasai mengeluarkan mata uang emas yang beridentitas ketuhanan. Mata uang tersebut, sampai saat ini, dianggap sebagai mata uang emas tertua yang pernah di keluarkan oleh sebuah kerajaan Islam di Asia Tenggara.
Kerajaan Samudera Pasai berkembang dengan armada lautnya yang besar untuk ukuran saat itu, yang memang diperlukan untuk mengawasi perdagangan di dalam wilayahnya. Pengawasan perdagangan itu merupakan sendi-sendi kerajaan, karena dari bidang inilah kerajaan mendapatkan dana yang besar.
Perdangan yang menjadi basis hubungan antara Malaka, China dan India saat itu telah menjadikan kerajaan Samudera Pasai menjadi sebuah kerajaan yang terkenal dan berpengaruh di Asia Tenggara terutama pada abad ke-14 dan 15 M. Dengan kondisi ini pula kerajaan Samudera Pasai bisa mengembangkan ajaran agama Islam ke wilayah-wilayah lainnya di Nusantara. Pada abad ke-14 M, kerajaan inipun menjadi pusat studi agama Islam.

C. Revitalisa Peran Samudra Pase sebagai pusat peradamain Islam pertama di Nusantara
Makna revitalisasi menurut kamus lengkap bahasa Indonesia adalah proses, praktek, perbuatan memvitalkan (menjadikan pokok). Makna revitalisasi menurut Merriam Webster Thesaurus: “the act or an instance of bringing something back to life”, suatu tindakan atau upaya mengembalikan sesuatu hal menjadi hidup kembali (eksis). Revitalisasi dalam kajian ini adalah proses atau praktek menghidupkan kembali peradaban Islam samudra pase sebagai pusat peradaban Islam pertama di Nusantara.
Kehidupan sosial masyarakatnya samudra pase cukup kental dengan nuansa agama serta kebudayaan Islam. Hal inilah yang membuat Aceh kemudian dijuluki sebagai Serambi Makkah. Kehidupan masyarakat Aceh yang religius perlu untuk dihidupkan kembali dengan tradisi intelektualnya yang menghargai ulama hingga saat ini. Tradisi dan sikap menghargai ulama Aceh terhadap ulama dapat dilihat dalam perspektif perkembangan Islam dan Raja-raja Aceh, antara lain Malik al-Zahir (1297-1326 M) salah seorang sultan pasai, putra sultan Malik al-Shaleh, yang sangat gemar mengkaji dan mendiskusikan masalah-masalah agama dengan para ulama yang datang dari berbagai negara Islam lainnya.
Demikian juga tradisi di istana Sultan dijadikan sebagai pusat pengkajian Islam (Islamic Centre) secara rutin dan terjadwal dengan baik. Berbagai disiplin ilmu dibahas di dalamnya, di antara mereka ada yang diangkat sebagai penasehat Sultan dalam urusan negara dan agama, dengan gelar “Makhdum” yang dipakai di kerajaan Pasai. Demikian pula dengan gelar “Syaikh al-Islam” yang diberikan kepada para ulama di zaman kesultanan Aceh. Pada masa-masa kesultanan, ulama Aceh dengan kapasitasnya sebagai penasehat Sultan dan pembimbing umat, peran-peran itu termanifestasikan dalam kehidupan praktis. Kitab-kitab dalam aneka disiplin ilmu keislaman disusun dalam rangka mensosialisasikan dan memberikan pemahaman kepada umat tentang berbagai ajaran Islam.
Dalam masyarakat Aceh yang dikenal sangat religius, elit sosial ulama menempati peran yang signifikan. Ulama dalam hal ini diakui punya kelebihan tingkat intensitas keilmuan (capable) dan pengalaman terhadap ajaran Islam (credible) serta reputasi kealimannya diakui masyarakat (acaptable). Oleh karenanya, ulama dipandang sebagai sumber kekuatan moral spiritual umat dalam suatu ikatan emosional keagamaan yang kukuh. Kedudukan para ulama dalam masyarakat Aceh merupakan satu-satunya kekuatan yang mampu menyeru dan menggerakkan massa dalam jumlah yang besar sepanjang sejarah. Mereka berhasil merebut hati rakyat melalui cara-cara yang tidak bersifat materil.
Pemerintahnya bersifat teokrasi berdasarkan ajaran Islam. Sebagai sebuah kerajaan yang berpengaruh, Pasai juga menjalin persahabatan dengan penguasa negara lain seperti Campa, India, Tiongkok, Majapahit, dan Malaka. Pada tahun 1350 M, Kerajaan Majapahit menggempur Samudera Pasai dan mendudukinya. Samudera Pasai pun mulai mengalami kemunduran. Sekitar tahun 1524 M, wilayah Pasai berhasil diambil kerajaan Aceh. Sejak saat itulah, riwayat kejayaan Samudera Pasai berakhir.
Pada abad ke 13 M Pasai dan Pidie menjadi Pusat perdagangan internasional yang salah satu ekspor utamanya adalah Lada. Hubungan perdagangan antara Pasai dan Jawa berkembang dengan pesatnya. Tome Pires memperkirakan bahwa Pasai mengekspor lada kira – kira 8000 sampai 10.000/Bahar setiap tahun. Disamping mengekspor lada Samudera Pasai juga mengekspor sutra, kapur barus, dan emas dari daerah pedalaman. Di percayai bahwa metode memroses sutra diperkenalkan di Samudera Pasai oleh orang – orang Cina. Ibn Batutah seorang pengembara Maghribi yang mengunjungi Samudera Pasai pada tahun 1346 M mengemukakan bahwa ia telah bertemu kapal Sultan Pasai di negeri Cina. Utusan-utusan Samudera Pasai telah mengadakan hubungan dengan Cina sejak abad ke 13 M.
Sebagai Bandar perdagangan yang telah maju pada masanya, Samudera Pasai mengeluarkan mata uang emas yang dinamakan Dirham atau Deureuham, yang ditemukan di Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, Nanggroe Aceh Darussalam.Dibagian muka semua dirham Pasai, kecuali kepunyaan Sultan Salah al-Din (1405-1412), tertera nama sultan dengan gelar Malik al-Zahir. Setelah Kerajaan Aceh menaklukan Kerajaan Samudera Pasai pada tahun1524 M, para Sultan Aceh meniru kebiasaan para sultan Samudera Pasai dengan memakai gelar Malik al-Zahir pada sisi belakang dirham mereka. Hal ini terjadi sejak pemerintahan Sultan Aceh Darussalam yang pertama, yaitu Sultan Ali Mughayat Syah (1571-1530) sampai dengan Sultan Ali Ri’ayat Syah (1571-1579). Akan tetapi sejak Sultan Iskandar Muda ( 1607-1637 ), kata – kata seperti gelar Malik al-Zahir dan Al-Sultan Al-‘Adil tidak lagi digunakan pada dirham Aceh.
Kejayaan Kesultanan Samudera Pasai mulai mengalami ancaman dari peradaban terbesar di Jawa waktu itu, yakni dari Kerajaan Majapahit dengan Gadjah Mada sebagai Mahapatihnya yang paling legendaris. Gadjah Mada diangkat sebagai Patih di Kahuripan pada periode 1319-1321 Masehi oleh Raja Majapahit yang kala itu dijabat oleh Jayanegara. Pada 1331, Gadjah Mada naik pangkat menjadi Mahapatih ketika Majapahit dipimpin oleh Ratu Tribuana Tunggadewi. Ketika pelantikan Gadjah Mada menjadi Mahapatih Majapahit inilah keluar ucapannya yang disebut dengan Sumpah Palapa, yaitu bahwa Gadjah Mada tidak akan menikmati buah Palapa sebelum seluruh Nusantara berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Mahapatih Gadjah Mada rupanya sedikit terusik mendengar kabar tentang kebesaran Kesultanan Samudera Pasai diseberang lautan sana. Majapahit khawatir akan pesatnya kemajuan Kesultanan Samudera Pasai. Oleh karena itu kemudian Gadjah Mada mempersiapkan rencana penyerangan Majapahit untuk menaklukkan Samudera Pasai. Desas-desus tentang serangan tentara Majapahit, yang menganut Agama Hindu Syiwa, terhadap kerajaan Islam Samudera Pasai santer terdengar di kalangan rakyat di Aceh. Ekspedisi Pamalayu armada perang Kerajaan Majapahit di bawah komando Mahapatih Gadjah Mada memulai aksinya pada 1350 dengan beberapa tahapan.
Serangan awal yang dilakukan Majapahit di perbatasan Perlak mengalami kegagalan karena lokasi itu dikawal ketat oleh tentara Kesultanan Samudera Pasai. Namun, Gadjah Mada tidak membatalkan serangannya. Ia mundur ke laut dan mencari tempat lapang di pantai timur yang tidak terjaga. Di Sungai Gajah, Gadjah Mada mendaratkan pasukannya dan mendirikan benteng di atas bukit, yang hingga sekarang dikenal dengan nama Bukit Meutan atau Bukit Gadjah Mada.
Selanjutnya, Gadjah Mada menjalankan siasat serangan dua jurusan, yaitu dari jurusan laut dan jurusan darat. Serangan lewat laut dilancarkan terhadap pesisir di Lhokseumawe dan Jambu Air. Sedangkan penyerbuan melalui jalan darat dilakukan lewat Paya Gajah yang terletak di antara Perlak dan Pedawa. Serangan dari darat tersebut ternyata mengalami kegagalan karena dihadang oleh tentara Kesultanan Samudera Pasai. Sementara serangan yang dilakukan lewat jalur laut justru dapat mencapai Istana.
Selain alasan faktor politis, serangan Majapahit ke Samudera Pasai dipicu juga karena faktor kepentingan ekonomi. Kemajuan perdagangan dan kemakmuran rakyat Kesultanan Samudera Pasai telah membuat Gadjah Mada berkeinginan untuk dapat menguasai kejayaan itu. Ekspansi Majapahit dalam rangka menguasai wilayah Samudera Pasai telah dilakukan berulangkali dan Kesultanan Samudera Pasai pun masih mampu bertahan sebelum akhirnya perlahan-lahan mulai surut seiring semakin menguatnya pengaruh Majapahit di Selat Malaka.
Hingga menjelang abad ke-16, Samudera Pasai masih dapat mempertahankan peranannya sebagai bandar yang mempunyai kegiatan perdagangan dengan luar negeri. Para ahli sejarah yang menumpahkan minatnya pada perkembangan ekonomi mencatat bahwa Pasai pernah menempati kedudukan sebagai sentrum kegiatan dagang internasional di Nusantara semenjak peranan Kedah berhasil dipatahkan.
Namun kemudian, peranan Pasai yang sebelumnya sangat penting dalam arus perdagangan di kawasan Asia Tenggara dan dunia mengalami kemerosotan dengan munculnya bandar perdagangan Malaka di Semenanjung Melayu. Bandar Malaka segera menjadi primadona dalam bidang perdagangan dan mulai menggeser kedudukan Pasai. Tidak lama setelah Malaka dibangun, kota itu dalam waktu yang singkat segera dibanjiri perantau-perantau dari Jawa.
Akibat kemajuan pesat yang diperoleh Malaka tersebut, posisi dan peranan Pasai kian lama semakin tersudut, nyaris seluruh kegiatan perniagaannya menjadi kendor dan akhirnya benar-benar patah di tangan Malaka sejak tahun 1450. Apalagi ditambah kedatangan Portugis yang berambisi menguasai perdagangan di Semenanjung Melayu. Orang-orang Portugis yang pada 1521 berhasil menduduki Kesultanan Samudera Pasai.
Tidak hanya itu, Kesultanan Samudera Pasai semakin lemah ketika di Aceh berdiri satu lagi kerajaan yang mulai merintis menjadi sebuah peradaban yang besar dan maju. Pemerintahan baru tersebut yakni Kerajaan Aceh Darussalam yang didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah. Kesultanan Aceh Darussalam sendiri dibangun di atas puing-puing kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Aceh pada masa pra Islam, seperti Kerajaan Indra Purba, Kerajaan Indra Purwa, Kerajaan Indra Patra, dan Kerajaan Indrapura. Pada 1524, Kerajaan Aceh Darussalam di bawah pimpinan Sultan Ali Mughayat Syah menyerang Kesultanan Samudera Pasai. Akibatnya, pamor kebesaran Kerajaan Samudera Pasai semakin meredup sebelum benar-benar runtuh. Sejak saat itu, Kesultanan Samudera Pasai berada di bawah kendali kuasa Kesultanan Aceh Darussalam.
Di masa keemasannya, Kerajaan Samudera Pasai dan Kerajaan Aceh Darussalam menjelma menjadi pusat perdagangan internasional. Kerajaan Pelabuhan Islam itu begitu ramai dikunjungi para Pedagang dan Saudagar dari berbagai Benua seperti, Asia, Afrika, Cina, dan Eropa. Tidak hanya menjadi pusat perdagangan internasional, kerajaan Samudera Pasai serta Kerajaan Aceh Darusslam ini pun menjadi Pusat Keilmuan dan peradaban Islam di Asia Tenggara.

III. Penutup
Kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah kerajaan Samudra Pasai. Dari keterangan Ibnu Batutah pendidikan yang berlaku di zaman kerajaan Pasai adalah; (a) Materi pendidikan dan pengajaran agama bidang Syari’at adalah Fiqh Mazhab Syafi’I, (b) Sistem pendidikannya secara informal berupa majlis ta’lim dan halaqah, (c) Tokoh pemerintahan merangkap tokoh Agama, (d) Biaya pendidikan bersumber dari negara.
Sejalan dengan berkembangnya agama Islam di Pasai, ilmu tasawuf pun mendapat tempat yang penting pula. Selain itu bahasa melayu yang di sebut bahasa Jawi itu juga sangat berkembang di kerajaan Samudera Pasai sehingga mampu untuk menerjemahkan kitab Tasawuf seperti Durru’l-manzum itu. Di samping orang datang berguru ke Pasai, ada pula diantara para ulama Pasai yang seperti di ceritakan oleh hikayat Patani, meninggalkan negerinya pergi ke Patani untuk mengembangkan agama Islam di negeri itu.
Samudera Pasai yang menjadi pusat tamaddun Islam di Asia Tenggara merupakan kerajaan pertama yang berikhtiar mengaktualisasikan perintah Allah dalam al-Qur’an dengan mempergunakan ungkapan Al-Sultan Al-‘adil dalam mata uangnya yang terbuat dari emas yang dinamakan Dirham.

DAFTAR KEPUSTAKAAN
·          M, Zainuddin, Tarich Atjeh dan Nusantara, Cet. I, Medan: Pustaka Iskandar Muda, 1961
·          Muhammad Said, Aceh Sepanjang Abad , Medan: Waspada Medan, 1981
·         Desi Anwar, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Surabaya: Amelia Computindo, Cet. I, 2002
·         Sahari Ganie, Revitalisasi Diplomasi Aceh, Opini; Serambi Indonesia edisi kamis tanggal 15 September 2011
·         M. Hasbi Amiruddin, Aceh dan Serambi Makkah, Banda Aceh, Yayasan PeNA, 2006
·         Muliadi Kurdi, Ulama Aceh dalam Melahirkan Human Resource di Aceh, Cet. I, Banda Aceh, Yayasan Aceh Mandiri, 2010
·         Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah, Kepulauan Nusantara Abad XII dan XVIII, Melacak Akar-akar Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia, Bandung: Mizan, 1995
·         Sri Suyanta Harsa, Ulama Aceh, Dulu, Kini dan Nanti, Aceh Expres, Tanggal 10 s/d 16 April 2000
·         Nazaruddin Syamsuddin, Revolusi di Serambi Mekkah, Perjuangan Kemardekaan dan Pertarungan Politik di Aceh 1945-1949, Jakarta: UI-Press, 1998

(Santri Dayah.Com)
Ads