TAKDIR dan PILIHAN

Advertisement
SUDUT HUKUM | SETIAP saat kita harus mengambil keputusan. Setiap waktu kita diberi pilihan oleh Allah. Dan tiap pilihan ada konsekuensinya. Ada takdir selanjutnya.


Kita pilih tahajud, dosa kita diampuni. Kita pilih tobat, doa kita diijabah sesuai janji Allah. Kalau kita tidak memilih tahajud, berarti kita memilih ‘dikencingi’ setan. Dan itu ada rangkaian takdirnya. Jadi kita harus sadar sekali bahwa manusia diberikan pilihan oleh Allah.


Benar, bahwa segala sesuatu sudah ada di lauh mahfudz, termasuk dua pilihan tadi. Kalau kita memilih tahajud, di lauh mahfudz sudah ada catatan apa takdir yang Allah berikan, begitu juga sebaliknya.
takdir


Contoh, ketika selesai salat subuh, kita punya pilihan mau sedekah atau tidak. Kalau kita sedekah, takdirnya kalau ikhlas ada malaikat yang mendoakan. Kita akan dibukakan rezeki yang berkah. Kalau tidak mau sedekah, takdirnya ada juga malaikat yang mendoakan, kesulitan menimpa kita.


Hari ini Allah tahu apa yang akan menimpa kita yang sudah terjadwal di sisi-Nya. Aneka nikmat dan musibah. Tapi Allah juga sudah memberikan amalan-amalannya. Misalkan hari ini kita dalam rencana Allah akan ditimpa musibah, tapi kita berdoa kepada Allah dengan baik, maka takdir kita akan diganggu oleh manusia diubah oleh Allah. Sebabnya, kita memilih mengamalkan doa tersebut.


Jadi tidak ada yang lepas. Semua yang terjadi tidak ada yang keluar dari takdir Allah. Hanya kita diberikan pilihan-pilihan. Karena kita manusia dan jin sudah diilhamkan. Tetapi kalau pilihan kita kebaikan dan kita jadi berbuat baik, tidak boleh kita menganggap itu kebaikan kita. Harus anggap semua itu adalah karunia Allah.
Ads