Habeas corpus di Amerika Serikat

Advertisement
Habeas corpus di Amerika Serikat
PIDANA | Habeas corpus di Amerika Serikat merupakan perlindungan penting untuk mencegah tindakan penahanan dan pemenjaraan yang melanggar hukum.1 Konstitusi Amerika Serikat Pasal I Section 9 ayat (2) menegaskan, privilege dan habeas corpus tidak akan ditangguhkan, kecuali dalam situasi Pemberontakan atau invasi di mana keamanan umum mungkin mengharuskannya. Jaminan ini memungkinkan seseorang yang ditahan untuk dibebaskan dengan mengajukan petisi ke pengadilan mengenai surat perintah habeas corpus untuk menguji apakah penahanannya konstitusional atau tidak.


Dalam peradilan pidana Amerika Serikat, hakim pemeriksaan pendahuluan (Magistrat) sudah terlibat dalam pretrial sejak proses penyelidikan pidana dilakukan atau sejak seseorang melakukan komplain atas suatu tindak kejahatan. Ketika menjelaskan perihal crime control model, Herbert L. Packer menjelaskan fungsi dari magistrat adalah “... to provide an assurance of regularity on the record, not to protect any special right of the defendant".2

Proses pre-trial dalam rangka habeascorpus dilakukan dalam tiga proses yaitu: preliminary hearing, arraignment, dan pretrial conference. Selain itu, sistem peradilan federal dan beberapa negara bagian di Amerika Serikat juga mengenal grand jury.

Preliminary hearing dilakukan atas permintaan polisi yang memerlukan surat perintah untuk menangkap atau menggeledah (arrest warrant or search warrant), setelah mencatat keluhan seseorang yang melaporkan tindak kejahatan. Menurut James A. Inciardy, preliminary hearing bertujuan melindungi tersangka dari proses peradilan yang tanpa surat perintah.

Berdasar peristiwa atau laporan tentang dugaan tindak pidana, penyidik menghadap ke pengadilan untuk memperoleh penilaian hakim apakah telah terdapat alasan yang kuat (probable cause) bahwa tersangka merupakan pelaku tindak pidana dan dapat ditahan dan diadili. Jika tidak ditemukan probable cause, maka perkara dapat dihentikan.3

Tahapan berikutnya ialah grand jury, yang menerima pengaduan dan tuduhan kejahatan, mendengar bukti awal pada sisi orang yang menjadi korban kejahatan (pelapor), dan membuat tuduhan formal atau dakwaan (Persons who receive complaints and accusations of crime, hear preliminary evidence on the complaining side, and make formal accusations or indictments).

Awalnya, grand jury digunakan untuk menjaga penuntutan dilakukan secara adil dan tidak sewenang-wenang. Perumus Konstitusi Amerika Serikat meyakini pentingnya keberadaan juri, sehingga mereka nyatakan keberadaannya di dalam Amandemen Kelima Konstitusi, yang menyebutkan: "[N]o person shall be held to answer for a capital, or otherwise infamous, crime, unless on a presentment or indictment of a Grand Jury".

Grand Jury duduk untuk waktu yang cukup lama dan dipanggil untuk mendengar kasus-kasus yang diperlukan. Tujuan utama grand jury sama dengan sidang pendahuluan, yaitu menentukan apakah ada penyebab yang membuat seseorang dapat target penyidikan atas dugaan tindak kejahatan.4
Dalam sistem federal, grand jury hanya digunakan untuk tindak pidana berat (felony). Tidak semua negara bagian menerapkan sistem grand jury dalam proses peradilan pidana. Ada yang menggunakannya untuk semua perkara dan ada yang hanya untuk tindak pidana berat.
Grand Jury terdiri dari 12 hingga 23 orang berasal dari masyarakat dan dipilih seperti jury petit (juri yang menentukan bersalah atau tidak seseorang yang disangka melakukan kejahatan). Tujuan utama merekrut grand juror dari masyarakat adalah untuk merepresentasikan berbagai budaya, etnik, dan kehidupan serta merefleksikan berbagai kepentingan dan keinginan masyarakat. Grand Jury sendiri harus mendapatkan minimal 12 suara dari seluruh anggota untuk membuat sebuah tuduhan tindak pidana (indictment).5

Sementara itu, arraignment dan pretrial conference dilakukan setalah adanya alasan yang kuat dari preliminary hearing atau grand jury. Arraignment merupakan pemeriksaan di depan hakim atau wakilnya yang terjadi setelah seseorang ditahan di mana tuduhan tersangka dibacakan dan tersangka ditanyakan sikapnya bersalah atau tidak.

Dalam arraignment, tersangka dapat memilih: (1) menolak tuduhan yang dituduhkan kepadanya dan diteruskannya proses peradilan ke tahap persidangan pengadilan (not guilty); (2) mengakui tuduhan dan langsung dijatuhi pidana tanpa melalui proses pengadilan (guilty plea); atau (3) nolo contender, memiliki dampak yang hampir sama dengan sikap guilty plea, tetapi jika tersangka memilih nolo contendere maka proses dilanjutkan ke pengadilan dan di pengadilan terdakwa tidak menolak tuduhan penuntut umum.

Sebelum sidang di bawah jury, seorang dihadapkan ke pretrial conference, yang lebih ditujukan untuk merancang sidang pengadilan, terutama mengenai pembuktian dan hak-hak pihak yang berperkara untuk memperoleh pembuktian dari pihak lain (discovery).

Dengan mengaku bersalah, terdakwa mengakui semua tuduhan kecuali kesepakatan pembelaan telah tercapai dengan pemerintah. Sebuah kesepakatan pembelaan, yang dikenal dengan tawar-menawar pembelaan (plea bargain), adalah produk dari negosiasi antara jaksa dan terdakwa. Jaksa dapat mengabaikan satu atau lebih tuduhan berlapis atau untuk mengurangi biaya ganti kerugian permohonan terdakwa bersalah. Plea bargain merupakan aspek penting dari prosedur pidana. Lebih dari 90 persen kasus kejahatan pidana berat adalah hasil dari plea bargain.

Ft;
1 John N. Ferdico, Henry F. Fradella, and Christopher D. Totten, Criminal Procedure for the Criminal Justice Professional, (Belmont: Wadsworth, 2009), hal. 15.
2 Lihat Herbert L. Packer, The Limits of The Criminal Sanction, (California: Standford University Press, 1968), hal. 222-223.
3 Daniel E. Hall, Criminal Law and Procedure, Fifth Edition, (New York: Maxwell, 2009), hal. 446-447.
4 Daniel E. Hall, Criminal Law ... Ibid., hal. 447. Grand jury, awalnya muncul di Inggris pada masa King Henry II pada Tahun 1166, yang kompisinya terdiri dari 12 knights atau good and lawful Men (kesatria).



Ads