Hakikat Sebuah Teks

Advertisement
Hakikat Sebuah Teks
Berubahnya teks dari wilayah pengetahuan tertentu dan menjadi garapan pemikiran, memiliki arti bahwa ia mempunyai gagasan (rancangan) dan dunianya sendiri. Dunia teks membutuhkan perhatian, dengan tanpa mentransformasikan kepada pengarangnya dan dunia luar. Dalam logika kritik, teks terlepas dari pengarangnya dan dunia luar. Dalam logika krtik, teks terlepas dari pengarangnya sebagaimana ia terlepas dari acuanya, agar dapat menyuguhkan dunia wacana yang memiliki kebenaran dan keadilan dari semua yang ada. Tentu tidak semua wacana mewarnai (membetuk) sebuah teks.

Hakikat Sebuah Teks
Teks adalah wacana yang sempurna setelah diakui dan diresmikan. Ia adalah pembicaraan yang menetapkan kemampuanya, mendapatakan ketunggalnnya, dan menjadi pengaruh yang dikembalikan pada dirinya. Jadi, teks bukan realitas (al-wâqi), itulah yang menjadi acuan. Yakni bahwa dirinya memaksa dan mendorong pembaca untuk membacanya secara terus-menerus. Pembaca tidak membaca teks lantaran ia merefleksikan atau mengubahnya menjadi realitas. Maka, teks yang merefleksikan realitas tidak lagi memiliki signifikansi karena ia berhenti seiring dengan berhentinya realitas yang terjadi.


Misalnya membaca kembali Muqaddimah-Nya Ibnu Khaldun, bukanlah untuk mengetahui realitas yang ada pada masa Ibnu Khaldun, melainkan agar pembaca dapat mengerti realitas saat ini atau menyambut (realitas) masa depan yang akan datang. Teks bukanlah cermin dari realitas, melainkan ia berkutat diantara apa yang sedang terjadi dan yang mungkin harus terjadi. Sampai disini, maka keterkaitan teks dengan realitas merupakan peniadaan realitas itu sendiri. Ia adalah penghalang yang bertumpuk-tumpuk; mengabaikan kebenaran teks dari satu sisi, dan melepaskan realitas pada sisi yang lain. 



Demikian itu karena teks bukan realitas yang ditemukan dalam arah dan tempatnya, melainkan di sana terdapat kejadian dan peristiwa yang tidak bisa dipisahkan dari penafsiran-penafsiran atau pembacaan yang ditundukan. Artinya, pada akhirnya teks hanya berupa riwayat-riwayat dan wacana-wacana. Jika wacana dengan tabiatnya menghalangi realitas maka usaha untuk mentransformasikan atau mengaitkannya dengan realitas tertentu hanya sekedar penafsiran sebuah teks dengan teks lainnya, menutupi penghalang (hijbu li al-hijbi). Hal itu tidak berarti bahwa teks hanya menciptakan realitas. Tetapi teks menciptakan realitas sekaligus memiliki (menguasai) kerealitasnya. Ia membuat kemungkinan bagi pemikiran, penegah pemahaman, atau penerima relitas.


Kritik teks membuka sebuah kritik terhadap kebenaran dan temuantemuan dunia. Ia membuka hubungan baru dengan kebenaran yang seharusnya mengubah pemahaman dan cara bergaul dengannya. Dalam pandangan kritik, kebenaran bukanlah esensi yang melampaui kondisinya, atau ditemukan terpisah dari wacananya melainkan ia diciptakan oleh teks itu sendiri. Dengan kata lain, bahwa teks, dari aspek ini, tidak mengkaji kebenaran tetapi ia menentukan kebenaran sendiri. Misalnya saja, apa yang dikaji Immanuel Kant bukanlah yang dimaksudkan untuk mencapai kebenaran transendental yang mendahului pengalaman, tetapi itulah teks yang ditinggalkan olehnya untuk manusia, yang memiliki kekuatan untuk melawan, disamping melampaui upaya-upaya perubahan dan penghimpunan, dan tidak bisa kembali kepadanya. Contoh lain adalah kebenaran yang ada dalam kitab al-Asfâr al- Âqliyyah al-Arba’ah karya Sadruddin as-Sairazi, bukanlah apa yang coba dikaji dan dicapai oleh sang pengarang melalui perjalanan intelektualnya, tetapi kebenaran itu sendiri adalah kebenaran teks yang mendorong pembaca untuk membaca dan menulisnya, yakni kemungkinan yang dikandung oleh teks atau temuan-temuan pada saat pembaca melakukan pembacaan dan pembongkaran terhadapnya.

Jadi teks bukan yang berkata tentang kebenaran yang terdapat dalam teks, melainkan ia adalah wacana yang menetapkan kemampuan dan menciptakan kebenaran sendiri, kritik adalah perpindahan dari teks kebenaran (Nashsh al-Haqîqah) menuju kebenaran teks (Haqîqah an-Nashs).

Tidak ada pembicaraan benar dan salah dalam konsep hubungan antara teks dan kebenararn. Pembenaran dan penyalahan dibenarakn jika pembaca bergumul bersama teks yang mencerminkan atau sesuai dengan kebenaran pikiran dan hal-hal yang berdiri di luarnya, sebagaimana kritik klasik yang menggunakan konsep kontradiksi atau kerancuan. Jika sebuah teks menciptakan kebenaran dan memiliki keralitasannya maka pembaca harus memberlakukan teks tersebut sebagaimana memberlakukan sebuah peristiwa, artinya pembaca harus berusaha membuka dimensi atau membuka kemungkinan-kemungkinan, membebaskan belenggu, atau memikirkan fungsi dan manfaatnya. Dalam pengertian seperti ini, teks menjadi kuat dan urgen (signifikan). Ia melepaskan kerancuanya dan melahirkan beberapa interaksi, atau bahkan ia bebas dari pengaruh apa pun. Ada perbedaan antara ungkapan yang kuat/kokoh, sepeti puisi al-Mutanabbi yang selalu mengajak kepada pembaca untuk merujuknya dan ungkapan penyair sendiri yang tidak meninggalkan pengaruh apa pun di sisi pembacanya.  Ada juga perbedaan antara pendapat Hegel yang selalu melahirkan beragam interpretasi, dan ungkapan Hegel sendiri yang hanya sekedar penjelasan kelompoknya.

Kritik bukan berarti melawan berbagai usaha dan teks, sebagaimana yang ditempuh oleh al-Ghazali. Menurut Ibnu Sina dan al- Farabi, hal-hal kontradiktif yang dibangun al-Ghazali lebih kuat dibanding dengan apa yang harus dimusnahkan. Dalam arti bahwa teks senantiasa memaksa dan mendorong pembaca untuk membaca dan memikirkanya. Krtik bukan berarti pengelabuhan wacana-wacana, sebagaimana menurut Abi al- Ala al-Ma'ari dalam komentarnya terhadap Maqậlật ar-Rusul dan shadiq Jalal al-Azham dalam konsepnya tentang dogma dan kebenaran tunggal. Teks nabawî misalnya, ia tidak menyimpan sesuatu yang signifikan dalam memaparkan kebenaran atau apa yang sesuai denganya. Tetapi pada tingkat pertama, ia menyembunyikan kebenaranya dalam melihat segala yang ada (maujûd), mekanisme pemproduksi makna bagaimana berinteraksi dengan kebenaran, dan juga cara mengungkapkan sesuatu.


Bergumul dengan teks tidak memiliki arti apa-apa jika dilihat dari kacamata dialektika. Teks yang kuat dan signifikan tidak akan rapuh, tetapi mungkin malah memberikan peluang pada pembaca untuk memperbincangkan kekontradiksian dan keragamanya. Lebih tepatnya teks-teks mengajak kepada pembaca untuk mengkritisi dan mendekonstruksi. Contoh konkretnya adalah pembacaan Michel Faucoult terhadap teks Plato, terutama dalam hal cinta.

Setelah melakukan beberapa interpretasi metafisis-dalam waktu yang cukup panjang-terhadap Plato, Michel Foucault tampil dengan interpretasi yang berbeda. Menurutnya cinta dalam pengertian plato bukanlah sesuatu yang menjahui jasad dikarenakan adanya persoalan lain, yaitu tentang kebenaran cinta sebagai hubungan dengan kebenaran yang mengubah dari kerinduan yang hakiki menjadi rindu terhadap kebenaran.


Pembacaan Foucault itu mengisyaratkan bahwa: pertama, teks yang kuat akan lebih kuat dari pada usaha pengarangnya. Dalam arti bahwa ia sulit ditahan atau malah berubah menjadi madzhab, dogma, sekte, atau ideologi, kedua teks tidak membuthuhkan seorang pen-syarah dan pengkaji, sebagaimana segala sesuatu membutuhkan pada pembacaan secara aktif-produktif dengan membaca segala yang tidak terbaca sebelumnya. Secara singkat dapat dikatakan bahwa teks mempunyai kebenaranya sendiri. Artinya teks tidak memuat kebenaran karena wacana yang hanya berupa teks kebenaran akan berakhir seiring dengan berakhirnya realitas yang menjadi keberlangsungan kebenaran. Adapun teks yang mengharuskan dirinya sendiri merupakan teks yang senantiasa mendorong membaca untuk merujuknya dalam memahami realitas dan kebenaran. Teks tidak membicarakan kebenaran, tetapi membuka hubungan dengannya.
Ads