[sejarah] Aceh Sebelum Aceh

Advertisement
Aceh | Sebelum awal abad XVI sejarah pelabuhan-pelabuhan dagang di Sumatera Utara berdasarkan dokumen-dokumen yang terpenggal- penggal. Dari pada mencoba menyusunnya kembali dengan terlalu berani, lebih baik semua penggalan itu dibuat daftar dan diterbitkan dalam urutan yang sebanyak mungkin mengindahkan kronologinya.
  
Sangat beranekaragamnya sumber-sumber yang masih mengandung ingatan akan pelabuhan-pelabuhan dagang itu – sumber Cina, Arab, India, bahkan Eropa — adalah bukti yang cukup kuat bahwa tempat itu memang dari dahulu kala sudah merupakan persimpangan internasional. Pada abad VI Sejarah rajaraja Leang sudah banyak juga membicarakan kerajaan Po-li yang menurut sementara orang sama dengan Sumatera Utara.

[sejarah] Aceh Sebelum Aceh
Sedini abad IX beberapa teks Arab menyebut suatu daerah yang bernama "Rami" atau "Ramni" atau kadang-kadang "Lamri", yang letaknya kira-kira di sana-sana juga  . Pada tahun 1030/31 inskripsi Tanjore yang besar itu menyebut tanah "Ilämuridesam" yang letaknya dekat Mähakkaväram (pulau Nikobar besar) dan yang diperintah oleh Räjendracoladeva  .

Pada abad XIII teks-teks Cina  menceritakan negeri Lanwu- li atau Lan-li, nama-nama tempat yang mengingatkan akan Lamuri pula. Pada akhir abad XIII, Marco Polo singgah di pelabuhan- pelabuhan Sumatra Utara dan memberitakan terdapatnya agama Islam dalam salah satu dari enam pelabuhan dagang yang nama-namanya disebut olehnya, yaitu: Ferlec, Basman, Sumatra, Dagroian, Lambri, Fansur. Nama Lamuri disebut pula oleh Ibn SaTd (akhir abad XIH). oleh Rasyid ad-Din (1310) dan oleh Abulfida (1273-1331)  .

Pada tahun 1323 Padre Odoric de Pordenone dengan marah menunjuk pada adat kebiasaan "biadab" (poligami dan kanibalisme) di negeri Lamuri; pada tahun 1349 Ibn Batata" dari Magrib tinggal beberapa lama di Samudra. Pada tahun 1365 Nagarakertagama menyebut Tamiang, Perlak, Samudra, Barus, Lamuri dan Barat di antara kotakota yang "setia" pada Majapahit  .

Kisah-kisah Cina dari zaman perjalanan-perjalanan sida-sida Cheng Ho di laut-laut selatan (Ying-yai Sheng-lan, Hsing-ch'a Sheng-lan, Hsi-yang Fankuo che) semuanya ada catatan yang cukup padat mengenai A-lu (Aru), Su-men-ta-la atau Hsiu-wen-ta-la (Samudra), Lanwu- li atau Lan-po-li (Lamuri) . Pada tahun 1435 Nicolo de Conti menyebut nama "Samutera".

Daftar nama yang sudah panjang ini belum lengkap, tetapi catatan-catatannya yang sering sekali amat singkat, sangat berjauhan waktunya satu sama lain; maka sukarlah menentukan perkembangan yang bersinambungan. Paling-paling dapat ditegaskan bahwa pernah ada beberapa pelabuhan dagang di pinggiran sebuah negeri yang pasti masih cukup primitif dan bahwa pelabuhan-pelabuhan dagang itu dihidupkan dari luar oleh pedagang- pedagang yang datang merapat; kapal-kapal datang dari India atau Cina, beristirahat di sana dan memuatkan hasil hutan yang tinggi nilainya [kapur (barus), kayu sapang, kayu alo, kasturi] yang dapat dikumpulkan dari hutan-hutan pedalaman.

Melihat timbulnya lalu hilangnya nama-nama tempat tertentu, kita dapat membayangkan bahwa perniagaan itu tidak berlangsung tanpa persaingan, boleh jadi tidak tanpa perjuangan, tetapi sejarahnya yang lebih mendalam belum ada yang tertangkap oleh kita.

Meskipun begitu, selama abad XIV agaknya terjadi beberapa perubahan penting dalam kehidupan pelabuhan-pelabuhan dagang itu tadi. Boleh jadi waktu itulah ada pedagang-pedagang dari India yang memperkenalkan penanaman lada (mungkin sekali dari Malabar yang sudah lebih dulu diketahui adanya tanaman itu) bersamaan dengan agama Islam.

Sumber-sumber pertama yang kami ketahui (termasuk juga kisah Ibn Batütä) tidak bicara tentang lada, sedangkan teks-teks Cina dari awal abad XV memberi pemerian yang jelas mengenai penanamannya  ; menurut kesaksian- kesaksian Portugis yang pertama, Pidir dan Pasai pada awal abad XVI mengekspor lada dalam jumlah besar ke Cina dan ke tempat-tempat lain. Ada kemungkinan lain, yaitu dimasukkannya pertanian ulat sutera - lewat jalan yang masih harus ditentukan (barangkali asalnya dari Tiongkok). Sumber-sumber lama tidak menceritakannya, sedangkan teks-teks Cina abad XV menyebutnya  dan Tome Pires memasukkan sutera dalam penghasilan Sumatra yang besar .

Terlalu sedikit yang kita ketahui tentang "pembaruan-pembaruan" itu, tetapi dengan mudah dapat kita fahami perubahan-perubahan dasar yang dapat diakibatkan kalau orang beralih dari kegiatan meramu ke membudidayakan, dari hutan ke perkebunan.

Ketika orang Portugis mulai mendatangi laut-laut Indone-sia, ada terutama dua pelabuhan dagang yang memperebutkan tempat pertama: Pasai dan Pidir. Orang Eropa pertama yang singgah di sana pada tahun 1509 ialah Siqueira; hubungan yang dijalinnya pada mulanya sangat ramah. Menurut Tome Pires, "Paeee yang oleh sementara orang dinamakan Camotora" mempunyai 20.000 orang penduduk pada waktu itu, "kebanyakan orang Bengali"; mereka sudah 60 sampai 100 tahun dilslamkan oleh orang Moro yang memanfaatkan hal itu untuk mengangkat salah seorang bangsa mereka ke atas takhta  . "Sejak Malaka dihajar", artinya sejak direbut oleh bangsa Portugis (1511), kerajaan' Pasai menjadi kaya dan makmur; banyak pedagangnya: orang Moro dan orang Keling (orang India dari Kalinga), orang Rum (orang dari Roma, artinya Istambul), orang Turki, Arab, Parsi, Gujarat, Melayu, Jawa, Siam .

Di samping Pasai, kota Pidir yang lebih tua melanjutkan kegiatan dagangnya meskipun dihalangi persaingan dan peperangan. Akan tetapi Tome Pires berkata bahwa pamornya yang dulu sudah luntur sekali: "Pidir dahulu kala menguasai tempat masuk ke selat-selat, memegang seluruh perniagaan dan lebih ramai didatangi daripada Paçee"; tapi para pedagang ("mercadores de todas naçoes") masih juga berdatangan; menurut perhitungan, pelabuhannya disinggahi setiap tahun oleh dua kapal dari Kambay dan dari Bengal, satu kapal dari "Benua Quelin, satu lagi dari Pegu. Barang ekspor yang terpenting ialah lada; "empat tahun belakangan ini, hanya 1 sampai 3.000 bahar setahun yang terdapat di Pidir, tidak lebih", sedangkan dahulunya ada 10.000 bahar dan menurut sementara orang bahkan 15.000. Sutera putih dan menyan juga diekspor; emas didatangkan dari pedalaman.

Berkat pemerian terperinci yang cukup banyak mengenai pelabuhan-pelabuhan dagang di Sumatra Utara pada kira-kira 1510-1520 itu, kita dapat memahami dalam konteks yang bagaimanalah kekuasaan Aceh yang masih muda sekali itu bakal memantapkan diri. (*DENYS LOMBARD, dalam buku KERAJAAN ACEH:JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA(1607 — 1636))
Ads