Sekilas Tentang Hermeneutik

Advertisement
Pengertian Hermeneutik
ILMU | Banyak ragam metode penelitian filsafat maupun pengetahuan ilmiah lainya, namun belum sepenuhnya mencukupi untuk menyingkap nilai kebenaran dari realitas[1]Metode merupakan pondasi dan dasar penalaran manusia. Setiap manusia berpikir secara khas, sebenarya sudah menggunakan metode, hanya tingkatan kadar saja yang berbeda. Salah satunya adalah metode hermeneutik, yaitu metode yang ditawarkan oleh beberapa ilmuwan, untuk mencari kebenaran melalui penafsiran simbol yang berupa teks atau benda konkret untuk dicari arti dan maknanya.


Hermeneutik secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu teori atau filsafat tentang interpretasi makna[2 Kata hermeneutika itu sendiri berasal dari bahasa Yunani dari kata kerja hermeneuin, yang berarti “menafsirkan”, dan kata benda hermenia, “interpretasi”.3 Sedangkan pengertian hermeneutik secara istilah adalah sebuah teori tentang operasi-operasi pemahaman dalam hubungannya dengan teks.4

Secara teologis pesan Hermes ini bisa dinisbatkan sebagaimana peran Nabi utusan Tuhan. Sayyed Hoseen Nashr memiliki hipotesis bahwa Hermes tersebut tidak lain adalah Nabi Idris a.s., yang disebut dalam Al-Quran, dan dikenal sebagai manusia pertama yang mengetahui tulisan, teknologi tenun, kedokteran, astrologi dan lain-lain. Menurut riwayat yang beredar di lingkungan pesantren, Nabi Idris adalah orang yang ahli dibidang pertenunan (tukang tenun/memintal). Sedangkan dilingkungan agama Yahudi Hermes dikenal sebagai Thoth, yang dalam mitologi mesir dikenal dengan Nabi Musa.

Bagi Nabi Idris atau Hermes, persoalan krusial yang harus diselesaikan adalah bagaimana menafsirkan pesan Tuhan yang berbicara dengan bahasa “langit” dapat dipahami oleh manusia yang “berbahasa bumi”. Dari sini makna metaforis dari profesi tukang tenun/memintal muncul, yaitu merangkai kata Tuhan agar dapat ditangkap dan mudah dipahami oleh manusia.

Dengan demikian kata hermeneutika yang diambil dari peran Hermes adalah sebuah ilmu atau seni menginterpretasikan (the art of interpretation) sebuah teks. Sebagai sebuah ilmu, hermeneutika harus menggunakan cara-cara ilmiah dalam mencapai makna rasional dan dapat diuji sebagai sebuah seni, ia harus menampilkan sesuatu yang baik dan indah tentang sesuatu penafsiran.

Pengasosiasian hermeneutik dengan Hermes ini, secara sekilas menunjukan adanya tiga unsur yang pada akhirnya menjadi variabel utama dalam kegiatan manusia dalam memahami, yaitu :
a.    Tanda, pesan atau teks yang menjadi sumber atau bahan dalam penafsiran yang diasosiasikan dengan pesan yang dibawa Hermes.
b.    Pranata atau penafsiran (Hermes)
c.     Penyampaian pesan itu oleh sang perantara agar bisa dipahami dan sampai kepada yang menerima.6

Secara lebih luas hermeneutika didefinisikan oleh Zygmunt Bauman sebagai upaya menjelaskan dan menelusuri pesan dan pengertian dasar dari sebuah ucapan atau tulisan yang tidak jelas, kabur, remang-remang dan kontradiktif yang menimbulkan kebingungan bagi pendengar atau pembaca. Jika diruntut keberadaan hermeneutik dapat dilacak sampai Yunani kuno. Pada waktu itu sudah ada diskursus hermeneutik sebagaimana yang terdapat dalam tulisan Aristoteles yang bejudul peri hermenian (the interpretation).

Hemeneutik dalam perjalanannya, sebagaimana dikemukakan oleh Richard E. Palmer. Palmer memberikan peta hermeneutik sebagai berikut:
Pertama, hermeneutik sebagai teori penafsiran kitab suci. Hermeneutik dalam bentuk ini membicarakan tentang tradisi gereja dimana masyarakat Eropa mendiskusikan otensitas Bibel untuk mendapatkan kejelasan maknanya, hermeneutik identik dengan prinsip interpretasi. Kenyataan ini acap kali termanifestasikan sampai sekarang, terutama jika dihubungkan dengan penafsiran kitab suci (exegesis of scripture) bentuk hermeneutik semacam ini dikaji oleh J. C. Dannhauer’s. Kajian semacam ini memiliki aneka macam bentuk dan melahirkan berbagai corak pemikiran seperti yang dilakukan Martin Luther yang memberikan interpretasi dalam Bibel melukis mistik, dogmatik, humanis, dan lain sebagainya.

Kedua, hermeneutik sebagai sebuah metode filologi. Dimulai dengan munculnya rasionalisme dan hal-hal yang berhubungan dengannya, perjalanan filologi klasik pada abad ke-18 mempunyai pengaruh pada hermeneutik Bibel. Kenyataan ini menimbulkan metode kritik sejarah dalam teologi. Kajian dalam bentuk semacam ini dimulai oleh Ernesti pada 1761 M. Sampai akhirnya corak ini dianggap sebagai metode penafsiran sekuler oleh pihak gereja. Namun, sejak munculnya abad pencerahan di Eropa sampai sekarang, metode Bibel tidak dapat dipisahkan dengan metode research dalam filologi. Kehadiran bentuk ini mulai tampak pada abad ke-19 M yang sering didiskusikan oleh filolog, Schleimacher, Frederich August Wolf, dan Frederich Ast. Ia memberikan porsi yang sama dengan tafsir terhadap kitab suci dan teks lainnya.7

Ketiga, hermeneutik sebagai ilmu pemahaman linguistik (science of linguistic understanding). Schleimacher membedakan hermeneutik sebagai science (ilmu) dan hermeneutik sebagai art (seni) dalam memahami. Bentuk memahami dalam hermeneutik merupakan arti secara umum dalam keilmuan hermeneutik dan hal ini masih digunakan sampai saat ini. Arti tersebut merupakan asal dari hermeneutik. Oleh karena itu, dalam perspektif historis, hermeneutik patut dianggap sebagai pahlawan dalam penafsiran Bibel serta filologi tradisional. Sebab dengan munculnya kedua bentuk disiplin tersebut menandai adanya pemahaman secara linguistic (bahasa) terhadap teks.

Keempat, hermeneutik sebagai tradisi ilmu kemanusiaan. Kerangka hermeneutik dalam bentuk ini dimulai Wilhelm Dilthey.8 Ia berusaha membawa hermeneutik dalam menafsirkan ilmu kemanusiaan, seperti menginterpretasikan ekspresi kehidupan manusia. Dilthey memberi kritik terhadap Kant terutama dalam pure reason-nya. Di akhir perkembangan pemikiran Dilthey, mereka berusaha menginterpretasikan psikologi dalam memahami dan menginterpretasikan.

Kelima, hermeneutik sebagai fenomena das sein dan pemahaman eksistensialisnya yang dipengaruhi gurunya, Edmund Husserl dalam perjalanannya bentuk hermeneutik filosofis ini dikembangkan oleh Gadamer yang memberikan perhatian lebih terhadap hermeneutik dalam kaitannya dengan filsafat. Ia tidak percaya dengan adanya metode tertentu dalam mendapatkan hasil yang baik dalam menginterpretasikan teks.

Keenam, hermeneutik sebagai sistem penafsiran. Bentuk pemaknaan hermeneutik merupakan suatu teori tentang seperangkat aturan yang menentukan yaitu interpretasi (exsegesis) suatu bagian dari teks atau sekumpulan tanda yang dianggap sebuah teks kajian tipe terakhir dari hermeneutik ini dikemukakan oleh Paul Ricouer.

Asumsi paling mendasar dari hermeneutika ini sebenarnya sudah jelas, yaitu adanya pluralitas dalam proses pemahaman manusia; pluralitas yang dimaksud sifatnya niscaya, karena pluralitas tersebut bersumber dari keragaman konteks hidup manusia.9 Sebenarnya, kesadaran akan pluralitas pemahaman yang disebabkan oleh perbedaan konteks ini telah muncul sejak lama dalam tradisi intelektual filosofis, misalnya dalam pembedaan antara nomena-fenomena dari Immanuel Kant.

Menurut Kant, ketika seseorang berinteraksi dengan sesuatu dan kemudian memahaminya lalu menghasilkan sebuah pengetahuan tentang sesuatu tersebut, tidak pernah seseorang itu mampu memproduksi pengetahuan tentang sesuatu tersebut sebagai sesuatu yang otentik sebagaimana adanya namun pengetahuan yang dihasilkanya adalah pengetahuan tentang sesuatu itu “menurut dia” atau “sebagaimana yang ia tangkap” peristiwa yang sama, jika dipahami oleh yang berbeda. Sangat mungkin hasil pemahamannya juga berbeda.10 Bahkan peristiwa yang sama jika dihayati oleh orang yang sama dalam waktu yang berbeda, sangat mungkin hasil penghayatanya juga berbeda. Peristiwa itu sendiri tidaklah terjangkau karena selalu saja ketika disentuh dipahami orang, maka peristiwa tersebut menjadi “peristiwa menurut yang menyentuh atau yang memahaminya”. (*Nur Fatoni)
____________
Footnote:
1 Sudarto, Metode Penelitian Filsafat, Jakarta, PT Raja Grafido Persada, 2002, hlm. 83
2 Ahmala, Hermeneutik Transendetal, Yogyakarta, IRCiSoD, 2003, hlm. 15
3 Hasan Sutanto, Hermeneutik Prinsip dan Metode Penafsiran Al-Kitab, Magelang: Departemen Literature Saat, 2000, hlm. 1
4Kris Budiman, Kosa Semiotika, Yogyakarta, LKiS, 1999, hlm. 45
5 E. Sumaryono, Hermeneutika Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta, Kanisius, 1995, hlm. 24
6 Fahruddin Faiz, Hermenutika Al-Qur'an : Tema-Tema Controversial,Yogyakarta, eLSAQ Press, 2005, hlm. 4
7 Sahiron Syamsuddin, Hermenutika Al-Qur'an Madzhab Yogya, Yogyakara, Islamika, 2003, hlm. 57
8 Hans – Georg Gadamer, Kebenaran Dan Metode Pengantar Filsafat Hermenutika, terj. Ahmad Sahidah, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2004, hlm. 260
9 M. Mansur, Studi Al-Qur'an Kontemporer, Wacana Baru Berbagai Metodologi Tafsir, Yogyakarta, PT Tiara Wacana, 2002, hlm. 104
10 Ali Harb, Kritik Kebenaran, diterjemahkan dari Naqd Al-Haqiqah terj. Sunarwoto Demo, Yogyakarta, LKiS, 2004, hlm. 37
Ads