Ini Dia 5 Cara Cuci Otak

Advertisement
SUDUT HUKUM | Banyak kelompok atau organisasi (keagamaan, sosial hingga politik) melakukan upaya cuci otak untuk mendapatkan anggota yang militan. Cuci otak tak harus diartikan secara negatif, kita maksudkan sebagai istilah yang netral saja.

Sebagai pengikut sebuah organisasi, perlu juga menyadari apakah kita sedang dicuci otak. Hal ini penting supaya kita bisa menimbang secara sadar apakah organisasi yang kita ikuti memang berada di koridor yang benar atau malah sebaliknya.

Jika ingin melakukan cuci otat (memasukkan ideologi tertentu ke orang lain), atau ingin mengenali diri sendiri sedang menjadi sasaran proses itu, baiknya memperhatikan lima proses berikut:

    Ini Dia 5 Cara Cuci Otak
  1. Yakinkan tak ada kelompok yang benar selain kelompok sendiri. Nafikan kebenaran kelompok lain.  Pastikan dari awal ditegaskan bahwa kelompok lain sedang tersesat, perlu diluruskan dan didoakan supaya kembali ke jalan yang lurus. Penafian kesesatan kelompok lain dimulai dari dosis yang rendah, dan terus ditingkatkan seiring intensitas pertemuan.
  2. Puji habis-habisan bahwa anggota yang baru adalah orang-orang yang berada di jalan yang benar ketika masuk ke organisasi. Katakan mereka adalah orang-orang terpilih, yang mendapat petunjuk dan sejenisnya.
  3. Buat jargon atau laras bahasa yang ekslusif, yang akan dipakai dalam percakapan sehari-hari. Lalu, lekatkan konotasi-konotasi tertentu pada ungkapan tersebut.
  4. Lakukan proses itu berulang-ulang, secara simultan alias tanpa henti selama beberapa waktu. Apapun yang dilakukan secara berulang-ulang akan menjadi ideologi. Sekali tak hadir dalam agenda pertemuan, sasaran harus dikejar sampai ideologi itu masuk di kepala mereka.
  5. Setelah ideologi itu tertanam, kasih target jabatan atau tugas, minimal penyebar pamflet atau perekrut calon anggota baru. Dengan cara ini, harga dirinya bakal terjaga dan ideologi tak akan pudar selamanya.

Silakan dicoba sekaligus melirik ke diri sendiri. Apapun bisa menjadi ideologi selama diterima sebagai kebenaran oleh seseorang. Aliran kepercayaan, politik, hingga merek sebuah produk dapat menjadi ideologi.

Jadi, tak perlu bangga jika kita sedang memeluk ideologi tertentu karena yang dinamakan ideologi tak ada kaitannya dengan kebenaran hakiki. (bijaks.net)
penulis: dhuha hadiansyah
Ads