Pengertian Akhirat Menurut Al-Qur’an

Advertisement

SUDUT HUKUMPengertian Akhirat Menurut Al-Qur’an

Kata akhirah ( آخرة ) disebut 115 kali di dalam al-Quran. Kata ini selalu disebut secara tersendiri, di samping dihubungkan dengan kata dar دار) ) atau nasy’ah ( نَشأَة ). Selain kata akhirah ( أخرة ), al-Quran juga menggunakan kata al-yaum al-akhir ( اليوم الآخير ) untuk menunjuk pengertian yang sama, dan ini terulang sebanyak 26 kali. Asal kata akhirah آخرة) ) adalah al-akhir ( الآخر ) yang berarti lawan dari al-awwal ( الأوّل ) atau “yang terdahulu”. Kata itu juga berarti “ujung dari sesuatu”, sebagaimana ditunjukkan Qs. Yunus (10): 10 sebagai berikut:
Artinya : “Doa mereka di dalamnya ialah: Subhanakallahumma, dan salam penghormatan mereka ialah: Salam. Dan penutup do'a mereka ialah: Alhamdulilaahi Rabbil 'aalamin.”

Di samping itu, kata akhir ( آخر ) biasanya juga menunjuk pada jangka waktu. Hal ini ditunjukkan oleh pengertian dari Qs. al-Hadid (57): 3 sebagai berikut:

Artinya : “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Pengertian Akhirat Menurut Al-Qur’an
Penggunaan kata akhirat di dalam al-Quran menunjuk pada pengertian alam yang akan terjadi setelah berakhirnya alam dunia. Dengan kata lain, kata akhirat merupakan antonim dari kata dunia. Hal ini ditunjukkan oleh Qs. al-Baqarah (2): 201 Qs. Ali Imran (3): 152 sebagai berikut:

Artinya : “Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.”

Artinya : “…. di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat ….”

Sejalan dengan pengertian asli kata akhirat, yang merupakan lawan dari yang awal, al-Quran juga menggunakan kata al-ula ( الأولى = yang pertama) untuk menunjuk pengertian dunia. Hal ini ditunjukkan dalam ayat berikut:

Artinya : “Maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia.”

Selain penggunaan kata akhirat secara langsung, al-Quran juga menggunakan istilah atau kata lain untuk menggambarkan peristiwa dalam alam akhirat, antara lain yaum al-qiyamah ( يوم القيامة = hari kebangkitan) dalam Qs. al-Qashshash (28): 42; yaum ad-din ( يوم الدّين = hari pembalasan) dalam Qs. al-Fatihah (1): 4; as-sa‘ah ( السّاعة = waktu) dalam Qs. al-Kahfi (18): 21; yaum al-fashl ( يوم الفصل = hari keputusan) dalam Qs. al-Mursalat (77): 14; yaum al-hisab ( يوم الحساب = hari perhitungan) dalam Qs. al- Mukmin (40): 27.

Selain itu juga digunakan istilah yaum al-fath ( يوم الفتح = hari kemenangan) pada Qs. as-Sajadah (32): 29; yaum al-jam‘i ( يوم الجمع = hari pengumpulan) dan yaum at-taghabun ( يوم التّغابن = hari pengungkapan kesalahan) pada Qs. at-Taghabun (64): 9; yaum al-khulud ( يوم الخلود = hari kekekalan) pada Qs. Qaf (50): 34; yaum al-khuruj ( يوم الخروج = hari keluar) pada Qs. Qaf (50): 42; yaum ‘azhim ( يوم عظيم = hari yang besar) pada Qs. al-An‘am (6): 15; yaum kabir ( يوم آبير = hari yang besar) pada Qs. Hud (11): 3; yaum alim ( يوم اليم = hari yang menyedihkan) pada Qs. Hud (11): 26; yaum muhith ( يوم محيط = hari yang membinasakan) pada Qs. Hud (11): 84; yaum al-hasrah ( يوم الحسرة = hari penyesalan) pada Qs. Maryam (19): 39; yaum ‘aqim ( يوم عقيم = hari siksaan) pada Qs. al-Hajj (22): 55; yaum azh-zhullah ( يوم الظلّة = hari naungan) pada Qs. asy-Syu‘ara’ (26): 189; yaum al-ba‘ts ( يوم البعث = hari kebangkitan) pada Qs. ar-Rum (30): 56. Di samping juga digunakan istilah yaum ath-thalaq ( = يوم الطلاق hari pertemuan) dalam Qs. al-Mukmin (40): 15; yaum al-azifah ( = يوم الآزفة hari yang dekat) dalam Qs. al-Mukmin (40): 18; yaum at-tanad ( = يوم التّناد hari panggil-memanggil) dalam Qs. al-Mukmin (40): 32; Qs. al-Waqi‘ah الواقعة) = yang pasti terjadi) dan yaum ma‘lum ( يوم معلوم = hari yang dikenal) dalam Qs. al-Waqi‘ah (56): 1 dan 50; yaum al-haqq ( يوم الحقّ = hari kebenaran) dalam Qs. an-Naba’ (78): 39; al-yaum al-mau‘ud ( = اليوم الموعود hari yang dijanjikan) dalam Qs. al-Buruj (85): 2; al-qari‘ah ( = القارعة bencana yang menggetarkan) dalam Qs. al-Qari‘ah (101): 1 dan alghasyiyah ( الغاشية = pembalasan) dalam Qs. al-Ghasyiyah (88): 1. Nama36 nama lain dari hari akhirat di atas pada umumnya menggambarkan keadaan peristiwa yang terjadi di alam tersebut.

Salah satu nama lain dari akhirat adalah hari kebangkitan (yaum alba‘ ts). Konsep tentang kebangkitan ini telah dikenal oleh masyarakat Arab pra-Islam. Kebangkitan yang dimaksud adalah kebangkitan dari kematian.

Dalam al-Qur’an, ditemukan ucapan orang kafir tentang pengingkaran terhadap gagasan kebangkitan itu.
Artinya : “Dan tentu mereka akan mengatakan : Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja, dan kita sekali-sekali tidak akan dibangkitkan.”

Artinya : “Tidak ada kematian selain kematian di dunia ini. Dan kami sekali-kali tidak akan dibangkitkan.”

Pengingkaran terhadap gagasan kebangkitan tidak mungkin tanpa adanya anggapan bahwa orang-orang kafir sejak awal memiliki konsep tentang kebangkitan. Pengingkaran atas suatu konsep meniscayakan adanya pemahaman terhadap konsep tersebut. Masyarakat Arab pra-Islam telah mengenal konsep tentang adanya kebangkitan itu. Hal itu dapat diketahui melalui syair-syair Arab masa jahiliyah.

Al-Shaddakh ibn Ya’mar, seorang penyair jahiliyah, sebagaimana dikutip Toshihiko Izutsu, menyatakan:

********
Dari syair di atas, dapat diketahui bahwa penyair berusaha mendorong orang-orang dari sukunya yang tidak mau menyerbu musuhnya yang kuat, dengan mengatakan bahwa “musuh-musuh kita juga
orang biasa seperti engkau, yang sama-sama memiliki rambut di kepala, dan juga tidak akan pernah hidup kembali apabila mereka terbunuh”.

Ungkapan “mereka tidak akan pernah hidup kembali” sama sekali tidak ada artinya dan tidak ada maknanya apabila konsep tentang kebangkitan tidak dikenal.

Salmah al-Ju’fi, seorang penyair Mukhadram, yang meratapi kematian saudara laki-lakinya mengatakan:
‘Aku dulu mengalami sesuatu seperti kematian karena perpisahan pada suatu hari; bagaimana mungkin aku dapat menahan perpisahan yang panjang yang hanya akan berakhir sehingga bertemu kembali pada hari kebangkitan?’


Dengan demikian, gagasan tentang hari kebangkitan atau akhirat telah dikenal oleh masyarakat Arab pra-Islam. Hal ini menunjukkan bahwa ketika al-Qur’an menginformasikan eksistensi akhirat, maka pada umumnya masyarakat Arab telah mengenal tentang adanya gagasan tersebut. Hanya saja orang-orang kafir di antara mereka mengingkarinya.
Ads