Menerima atau Menolak Warisan

Advertisement
Sudut HukumMenerima atau Menolak Warisan
Jika warisan sudah terbuka, ahli waris dapat memilih dua alternatif/pilihan, yaitu menerima atau menolak warisan. Dalam hukum waris terdapat ketentuan bahwa para ahli waris, disamping berhak menerima bagian warisan dari pewaris, berkewajiaban pula membayar utang-utang pewaris yang belum terbayar. Sehingga karena adanya ketentuan demikian, seorang ahli waris dapat menyatakan menerima warisan tetapi dengan ketentiuan bahwa ia tidak diwajiban membayar utang pewaris, meskipun jumlah utang tersebut melebihi bagian warisan yang diterimanya. Seorang ahli waris juga dapat menyatakan menolak sama sekali warisan.

Kemungkinan lain adalah bahwa seorang ahli waris menyatakan antara menerima dan menolak warisan (benificiaire aan vaarding). Jika ahli waris menghendaki demikian, ahliwaris itu harus menyatakan di pengadilan negeri kepada panitera pengadilan negeri tersebut. Penerimaan dengan cara ini dimaksudkan oleh ahli waris agar tidak diwajibkan melunasi utang pewaris yang melebihi jumlah warisan yang diterimanya. Maksud lain adalah agar tidak terjadi percampuran antara harta peninggalan dan harta ahli waris. Keadaan apakah ahli waris menolak atau menerima warisan kadang-kadang merugikan pihak ketiga yang ber piutang pada pewaris.

Ahli waris benificiaire mempunyai kewajiban-kewajiban antara lain:
    Menerima atau Menolak Warisan
  1. melakukan pencatatan adanya harta peninggalan dalam waktu 4 bulan setelah ia menyatakan kehendaknya kepada penitera pengadilan negeri bahwa ia menerima warisan secara benificiare.
  2. mengurus harta peningglan warisan dengan baik
  3. selekas mungkin membereskan urusan warisan
  4. Mendahulukan kepada penagih yang memegang hak hipotek.
  5. memberikan pertanggungjawaban kepada sumua penagih utang dan orang-orang yang menerima pembagian secara legaat.
  6. memanggil orang-orang berpiutang yang tidak dikenal melalui surat kabar resmi.[]
Ads