Perbedaan Hadas dengan Najis

Advertisement
Sudut Hukum |  Perbedaan Hadats dengan Najis

Hadats punya beberapa persamaan dengan najis, namun punya perbedaan. Di antaranya adalah :

1. Hadats Bukan Benda Tapi Status Hukum


Berbeda dengan najis yang merupakan benda yang bisa dilihat berdasarkan warnanya, baunya atau rasanya di lidah, hadats bukan berbentuk sebuah benda.

Hadats adalah status hukum seseorang karena melakukan suatu perbuatan atau mengalami suatu kejadian. Misalnya, seorang yang buang air kecil dan air besar, maka dia berstatus menanggung hadats kecil. Walau pun dia telah beristinja’ dan membersihkan semua najis yang melekat.

http://s-hukum.blogspot.com/2015/08/pengertian-najis.htmlDan wanita yang mendapat haidh, dia berstatus menanggung hadats besar. Walau pun haidhnya telah berhenti total dan sama sekali tidak keluar lagi. Namun selama di belum mandi janabah yang fungsinya mengangkat hadats besar, statusnya tetap dalam keadaan berhadats besar.

2. Hadats Disucikan Dengan Ritual


Seorang yang berhadats baik hadats kecil atau hadats besar, tetap akan berstatus berhadats meski dia telah menghilangkan najis yang ada pada badan atau pakaiannya. Hadats hanya dapat diangkat atau dihilangkan dengan melakukan ritual ibadah tertentu, seperti berwudhu’, mandi janabah atau bertayammum.

Sedangkan hukum najis umumnya diangkat dengan cara dibersihkan, dicuci, atau upaya lainnya sehingga secara fisik najis itu telah hilang. Kecuali najis ringan dan najis berat, dimana keduanya dihilangkan dengan cara melakukan pembersihan yang bersifat ritual.

Najis air kencing bayi yang belum makan apapun kecuali air susu ibu, disucikan dengan cara dipercikkan saja dengan air, dan hukumnya telah suci, meski secara fisik najisnya masih ada.

Sedangkan bekas jilatan anjing dan babi tetap masih ada meski telah dicuci sebersih-bersihnya dengan sabun, selama belum dilakukan ritual pencucian dengan air sebanyak 7 kali dan salah satunya dengan menggunakan tanah.

3. Hadats dan Najis Menghalangi Ritual Ibadah


Meski hadats berbeda dengan najis, namun kedua punya punya persamaan, yaitu sama-sama menghalangi seseorang dari melakukan ibadah ritual seperti shalat, melafadzkan ayat Al-Quran, thawaf dan sebagainya, sebagaimana nanti akan kita bahas bersama.

Seorang yang pada tubuh, pakaian atau tempatnya masih terkena najis, dia tidak sah bila melakukan shalat dan lainnya. Sebagaimana seorang yang masih dalam status berhadats kecil atau besar, dia dia juga tidak sah bila melakukan shalat dan ibadah lainnya.
Ads