Metode dan Corak Penafsiran Hasbi ash-Shiddieqy

Advertisement
Sudut Hukum | Metode dan Corak Penafsiran Hasbi ash-Shiddieqy

Berbagai metode penafsiran Al-Qur’an berkembang, mulai tafsir yang penafsirannya didasarkan atas sumber ijtihad, pendapat para ulama, dan berbagai teori pengetahuan yang teori semacam ini dikenal dengan metode Bil Ra'yi dan Bil Ma'tsur. Di samping itu juga ada mufassir yang memadukan dua bentuk metode di atas, yaitu dengan cara mula-mula mencari sumber penafsiran Al-Qur’an, Al-Hadits maupun dari sahabat tabi’in, yang kalau itu tidak ada atau mungkin untuk memperjelas, maka kemudian didasarkan pada ijtihad.

Untuk menentukan metode apa yang digunakan oleh Hasbi ash-Shiddieqy, harus diketahui dulu motivasi dan sumber-sumber dalam penafsiran An-Nur. Pada kata pengantar tafsir An-Nur, beliau mengatakan: 
“Indonesia membutuhkan perkembangan tafsir dalam bahasa persatuan Indonesia, maka untuk memperbanyak lektur Islam dalam masyarakat Indonesia dan untuk mewujudkan suatu tafsir yang sederhana yang menuntun para pembacanya kepada pemahaman ayat dengan perantaraan ayat-ayat itu sendiri. Sebagaimana Allah telah menerangkan : bahwa Al-Qur‟an itu setengahnya menafsirkan yang setengahnya, yang meliputi penafsiran yang diterima akal berdasarkan pentakwilan ilmu dan pengetahuan, yang menjadikan intisari pendapat para ahli dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan yang diisyaratkan Al-Qur‟an secara ringkas. Dengan berharap taufiq dan inayah yang maha pemurah lagi maha penyayang kemudian dengan berpedoman kepada kitab-kitab tafsir yang mu‟tabar, kitab-kitab hadits yang mu‟tamad, kitab-kitab sirah yang terkenal. Saya menyusun kita tafsir ini dengan saya namai An-Nur”.[1]

Melihat ungkapan di atas, terlihat bahwa motivasi Hasbi ash-Shiddieqy sangat mulia yaitu untuk memenuhi hajat orang Islam di Indonesia untuk mendapatkan tafsir dalam bahasa Indonesia yang lengkap, sederhana dan mudah dipahami. Sumber yang beliau gunakan dalam menyusun tafsir An-Nur adalah :
  • Ayat-ayat Al-Qur’an;
  • Hadits-hadits Nabi yang Shahih;
  • Riwayat-riwayat Sahabat dan Tabi’in;
  • Teori-teori Ilmu Pengetahuan dan Praktek-praktek penerapannya;
  • Pendapat Mufassir terdahulu yang terhimpun dalam kitab-kitab tafsir Mu’tabar.

Berdasarkan sumber-sumber yang di pakai, maka dapat diketahui bahwa metode yang dipakai oleh Hasbi ash-Shiddieqy dalam menyusun tafsir An-Nur adalah metode campuran antara metode Bil Ra'yi dan Bil Ma'tsur. Hal ini juga beliau kemukakan bahwa dalam menyusun tafsir ini berpedoman pada tafsir induk, baik kitab tafsir Bil Ma'tsur maupun kitab tafsir Bil Ma'qul.

Tafsir An-Nur karya Hasbi ash-Shiddieqy tidak mempunyai corak penafsiran dan orientasi terhadap bidang tertentu, sebab kalau diperhatikan semua tafsirnya tidak memuat bidang ilmu tertentu, seperti bidang Bahasa, Hukum, Sufi, Filsafat, dan sebagainya. Hasbi ash-Shiddieqy membahasnya dengan mengaitkan bidang ilmu pengetahuan secara merata artinya tidak ada penekanan pada bidang tertentu, sebab membahas dengan memfokuskan pada bidang tertentu menurutnya akan membawa para pembaca keluar dari bidang tafsir.

Namun tidak bisa disangkal bahwa Hasbi ash-shiddieqy adalah tenaga pengajar pada fakultas Syari’ah dan ahli dalam bidang hukum Islam, maka ketika beliau menafsirkan ayat-ayat hukum kelihatan lebih luas, namun tidak berarti dia memberi corak dan berorientasi pada tafsir hukum. Pada kata pengantar kitab tafsir An-Nur beliau menyatakan : “Meninggalkan uraian yang tidak langsung berhubungan dengan tafsir ayat, supaya tidak selalu para pembaca dibawa keluar dari bidang tafsir, baik ke bidang sejarah atau bidang ilmiah yang lain”.

Dari ungkapan di atas, Hasbi ash-Shiddieqy tidak bermaksud tidak akan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan uraian ilmiah yang panjang lebar yang dikhawatirkan keluar dari tujuan ayat-ayat tertentu. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tafsir An-Nur bercorak Adabi Ijtimai.



[1] Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Tafsir Al-Qur‟anul Madjid An-Nur (Jakarta: Cakrawala Publishing, 2011), h. v
Ads