Asbab al-Nuzul Surat Yusuf

Advertisement

Sudut Hukum | Asbab al-Nuzul Surat Yusuf

Asbabun nuzul adalah salah satu ilmu yang harus dipelajari bagi seseorang yang ingin menafsuirkan al-Qur’an. Pemahaman terhadapnya merupakan sebuah kemestian, agar tidak terjadi kesalahan dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. pemahaman terhadap ilmu ini juga akan memperkaya penafsiran dalam menggali mukjizat-mukjizat al-Qur’an.

Ibnu Daqiq al-‘Ied berkata, “Keterangan tentang sebab turunnya ayat merupakan jalan kuat untuk memahami makna-makna al-Qur’an”. Ibnu Taimiyah menambahkan, “Pengetahuan terhadap sebab turunnya ayat menjadikan seseorang dapat memahami kandungan ayat tersebut. Dengan begitu, seseorang dapat mengetahui akibat dari sebab tersebut”. Beberapa ulama dari kalangan salaf, tidak jarang mengalami kesulitan dalam memahami makna-makna ayat al-Qur’an. Namun ketika mereka mengetahui sebab turunnya ayat tersebut, sirnalah kesulitan yang menghalangi pemahaman mereka”.[1]

Asbab al-Nuzul Surat Yusuf
Surat Yusuf turun setelah surat Hud, dalam masa-masa sulit dan situasi saat itu serupa dengan situasi saat turunnya surat Yunus, yakni sangat kritis, khususnya terkait setelah peristiwa isra’ dan mi’raj dimana banyak orang meragukan pengalaman beliau tersebut, dan ada pula sebagian umat yang lemah imannya menjadi murtad.[2] Disisi lain, saat itu Nabi sedang dirundung duka atas kematian dua orang yang dicintainya, yakni istri beliau, sayyidah Khadijah dan paman beliau Abu Tahlib baru saja wafat. Atas kesedihan yang Nabi dan umat muslim alami saat itu, maka kemudian masa itu dikenal sebagai ‘Am al hazn.

Pada waktu Rasulullah bersama umat muslim lainnya mengalami kesedihan, Allah mewahyukan cerita tentang Nabi Yusuf ibn Ishaq ibn Ibrahim. Cerita itu menerangkan bahwa Nabi Yusuf juga pernah merasakan kesedihan, mengalami ujian dan cobaan. Berbagai ujian dan cobaan dihadapi Nabi Yusuf dengan penuh kesabaran, dan dicelah-celah kesempatan ia terus mendakwahkan Islam. sampai pada akhirnya kisah Nabi Yusuf sampai pada tujuannya dan bertemu kembali dengan orang tuanya serta takwil mimpi yang menjadi nyata.

Oleh karena itu tidaklah heran bila surat ini turun pada masa sedih dan masa sulit Rasulullah. Tujuannya adalah untuk menghibur, menyenangkan dan menenangkan hati yang terisolir, berduka, terusir dan menderita. Dan itulah isyarat berlakunya sunnatullah, bahwa suatu ujian dan cobaan apabila dihadapi dengan kesabaran maka pastilah akan ditemukan jalan keluar, hingga terwujudnya kegembiraan dan kebahagiaan.




[1] Jalaluddin as-Suyuthi, Asbabun Nuzul; Sebab Turunnya Ayat al-Qur’an, terj. Tim Abdul hayyie, (Cet. III, Jakarta; Gema Insani, 2009), hlm. 9.
[2] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, ..., hlm. 4.
Ads