Kelak, Tetaplah Jadi Guru Yang Mulia

Advertisement
Sudut Hukum | Kelak, Tetaplah Jadi Guru Yang Mulia 

Kelak, Tetaplah Jadi Guru Yang Mulia

Guru adalah sosok yang berperan penting dalam perkembangan manusia. Melalui pengajaran yang diberikan, guru mampu membawa masyarakat ke arah yang lebih baik. Di masa silam, guru merupakan tempat terbaik yang dipercaya oleh masyarakat sebagai seseorang yang mampu memecahkan segala masalah. Selain masalah, guru juga dapat mengerti dan memahami apa yang sedang menjadi kebutuhan masyarakatnya. Bahkan bukan hanya itu, ilmu yang diberikan oleh guru sanggup mengantarkan mereka menjadi seseorang yang berguna bagi seseorang lainnya. Jika dilihat dari masa ke masa, tidak mudah menjadikan guru ada dan lahir di Indonesia. 

Selama kurun waktu ini, sistem pendidikan guru di Indonesia semakin berubah. Guru yang tidak lagi dapat dekat dengan masyarakat, mendorong munculnya pemikiran-pemikiran negatif akan kinerjanya sebagai pendidik. Pada masa orde lama, perbedaan-perbedaan dalam sistem persekolahan yang ada di RI dan negara-negara bagian lainnya menjadi salah satu permasalahan pokok seorang guru. 

Dalam masa itu, guru dituntut untuk patuh secara penuh terhadap peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah. Guru terikat oleh keterbatasan gerak pikir dalam menyampaikan materinya. Sehingga kementrian memutuskan untuk menyelenggarakan pendidikan guru darurat, yaitu pendidikan guru singkat yang berlangsung selama 2 tahun sesudah Sekolah Dasar (SD) dengan bahan pelajaran yang cukup kompleks dan menyita waktu. Dengan begini, guru akan monoton dan tidak bisa mengembangkan apa yang menjadi inovasi dalam dirinya.

Guru tidaklah harus menjadi seperti yang atasan inginkan. Dalam lingkup kerjanya, guru bebas dan berhak menentukan jalan pembelajaran yang mereka mau sesuai kurikulum yang diterapkan. Mengapa demikian? karena guru telah memiliki kompetensinya sendiri yang terbidangi oleh beberapa keahlian dan kemampuan di masing-masing tempatnya. 

Guru menempuh pembelajaran beberapa tahun untuk mengetahui seberapa besar pengetahuan yang wajib diterapkannya pada anak didiknya kelak. Oleh karena itu, seharusnya dengan adanya sosok guru dapat membantu pemerintah menerapkan tercapainya manusia-manusia yang terdidik dan berdaya pikir tinggi sehingga mampu mencetak penghasilan-penghasilan baru terkait kesejahteraan masyarakat banyak.

Jabatan guru tidak hanya mengajar lalu kembali ke rumah. Guru mempersiapkan berbagai materi untuk diperkenalkan dan diajarkan kepada anak didiknya. Guru menerima tanggung jawab yang besar atas segala keputusan dan unjuk kerja yang ditampilkan. Saat ini, guru telah banyak mempelajari berbagai bidang yang mungkin bukan bagian dari pendidikannya. Misalkan guru tersebut menyelesaikan pendidikan dalam bidang IPA, namun tidak berarti guru selalu belajar mengenai ilmu-ilmu alam. Guru pun juga mempelajari bidang-bidang lain yang menunjang bagaimana kelak guru ini dapat berlaku ke semua bentuk materi. Seperti apa yang telah dicantumkan sebagai kriteria, jabatan guru ini memerlukan persiapan latihan yang lama. Mereka melakukan praktek untuk mendapatkan pengalaman melalui pemagangan dan pendidikannya.  

Dari sini, guru haruslah mendapat perlindungan atas otoritasnya, dapat dihargai dan terjaga statusnya dalam masyarakat karena bagaimanapun masyarakat dan pemerintah juga yang nantinya akan mendapatkan pelayanan guru sebagai pendidik mereka.

Adanya sebuah profesi tentunya tak lepas dari masalah kode etik. Dalam menjalankan tugas, guru diharuskan terpaku pada peraturan yang telah disepakati bersama. Peraturan yang berjalan ini bukan semata-mata menghentikan jabatan seorang guru hanya tetap pada posisi yang seperti itu-itu saja. Namun, guru akan dikembangkan melalui hal kecil terlebih dulu. Kode-kode tersebutlah yang juga akan membawa jabatan mereka menjadi layak atau tidak jika nantinya diperuntukkan bagi masyarakat luar. Guru Indonesia cukup memahami apa tujuan dibentuknya peraturan tersebut, misalnya dalam bersikap mereka batasi sesuai yang seharusnya. 

Dari sisi ini, betapa hebat pengabdian guru bagi sebuah negeri. Tanpa guru mungkin kita tidak bisa mengeja huruf hingga membentuk sebuah kata. Guru mampu menunjukkan pada dunia, mereka tidak malu pergi ke suatu tempat untuk menyuarakan hasil belajarnya meski tak ada sehelai kertas pun yang didapat. Namun bukan itu yang menjadi sasaran hidupnnya, guru mendidik dan menyumbangkan ilmunya demi meningkatkan martabat anak didiknya. Setidaknya orang berilmu adalah termasuk orang-orang yang nantinya akan dihargai oleh orang lain juga, dengan ilmu mereka dapat menumbuhkan kepribadian yang baik pula. Ilmu menjadikan masyarakat atau pembelajar tahu akan makna sesuatu dan mengenal dengan cerdas situasi maupun kondisi yang akan atau telah dialaminya. Dengan begitu, individu yang memiliki ilmu dapat mewakilkan segala jenis pengetahuan yang dapat dimilikinya melalui pengembangan yang akan dicapai dari beberapa pengalaman.


Guru memang bukan seseorang yang sempurna, tetapi dengan memiliki guru sebagai pengajar atau pendidik kita dapat mengenal berbagai bentuk huruf, angka, bahkan sebuah arti kehidupan. Guru layak mendapatkan tempatnya sesuai dengan apa yang telah ia berikan bagi masyarakat. Guru tetap bisa mengabdi meski keadaan tak mengharapkan mereka bergelut kembali dalam bidang pembelajaran. Pengabdian ini tidak hanya dapat berlaku dan diterapkan dalam sebuah ruang yang bernamakan kelas, di segala tempat dan situasi apapun dapat dijadikan pengisi pengetahuan di atas ucapan seorang guru. Kehadiran dan jasa mereka mampu tertancap pada naluri anak didik. Pengetahuan yang telah terbagi jauh mengantarkan keberadaan masyarakat menuju keadaan sosial yang lebih baik lagi. 

Di sinilah, mengapa guru harus dan tetap jadi orang tua kedua dalam pengembangan seorang anak, sebab guru menambah apa yang perlu diketahui oleh setiap anak dalam hal belajar yang nantinya akan menghasilkan pengetahuan-pengetahuan baru yang belum diajarkan dalam lingkungan utamanya atau keluarga. Guru bak laut yang tak pernah kehabisan air meski air tersebut dihabiskan dengan cara apapun akan tetap jadi laut itu sendiri. Seperti halnya anak didik, guru juga tidak akan bisa mengembangkan pengalaman belajarnya tanpa kehadiran masyarakat. 

Jadi, semua komponen yang dimiliki guru dan anak didik adalah bertujuan untuk saling melengkapi dan saling membenarkan sesuatu yang belum dipahami masing-masing dari mereka. Oleh karena itu, kita sebagai calon guru setidaknya berusaha menjaga apa yang telah terjaga sebelumnya, meneruskan apa yang belum sempat dilakukan, dan memperjuangkan keberadaan atau posisi guru sebagai jabatan yang tetap mulia di mata masyarakat luas. Pesan dan harapan dari seorang guru di Indonesia untuk calon-calon guru seperti kita, haruslah dapat kita wujudkan dengan jalan dan cara kita sehingga kelak, kita dapat tunjukkan bahwa kita bisa dan semakin bisa karena usaha dan dorongan mereka yang sangat keras untuk menjaga hadirnya guru-guru baru seperti kita.

Nur AsiyahProdi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan Ilmu dan PendidikanUniversitas Muhammadiyah Malang.
Ads