Berdirinya Kerajaan Mughal di India

Advertisement
Sudut Hukum | Sebelum Islam masuk di India, sekitar 6000-5000 SM bangsa Dravida datang dari Asia Barat ke India dengan kepercayaan terhadap adanya Tuhan secara abstrak. Kemudian pada abad VI SM bangsa Aria dari Persia dating menguasai Punjab dan Benaras (India Utara) dengan membawa kepercayaan adanya Tuhan secara nyata. Pada tahun 599 SM lahir Mawahir yang mempelopori lahirnya agama Jaina (ajaran ini kemudian melebur dalam agama Hindu).

Pada tahun 557 SM lahir Gautama Budha di Kapilabastu di kaki gunung Himalaya dan menjadi pelopor lahirnya agama Budha. Sementara agama Hindu adalah agama yang paling penting dan banyak dianut oleh rakyat India. Hampir semua raja yang sedang berkuasa menganut agama tersebut. Tekanan yang besar dari kelompok kasta Brahmana terhadap penganut agama Budha menyebabkan mereka mengharapkan datangnya kekuatan lain yang bisa memberi perlindungan dan menghindari kekejaman penguasa Hindu. Di sisi lain, di antara penganut agama Hindu terjadi perebutan kekuasaan. konflik Hindu dan Budha, secara umum, tampak jelas dalam persaingan perdagangan. Kelompok Hindu cenderung lebih senang untuk memonopoli, sedangkan Budha lebih giat dalam memperoleh keuntungan.

Berdirinya Kerajaan Mughal di India
Menjelang masuknya Islam, agama Jaina tidak populer dan Agama Budha sedang menurun. Pada saat itulah Islam mulai masuk di India. Karena kelompok Budha lebih banyak terkalahkan dalam persaingan, akhirnya mereka lebih terbuka untuk menerima Islam.[1] Sejarah awal masuknya Islam di India dapat dibagi dalam empat periode yaitu : Zaman Nabi Muhammad SAW, Dinasti Umayyah, Ghaznawi, dan Ghuri.

Pada zaman Nabi Muhammad SAW (mulai tahun 610 M), pedagangpedagang Arab yang telah menganut Islam sudah berhubungan erat dengan dunia Timur melalui pelabuhan-pelabuhan India, sehingga mereka berdagang sambil berda’wah. Pada masa ini, Cheraman Perumal, raja Kadangalur dari pantai Malabar telah memeluk Islam dan menemui nabi. Inilah sejarah awal masuknya Islam di Anak Benua India.[2]

Pada masa Umar Ibn Khattab, pada tahun 643-644 M panglima Mughira menyerang Sind, tetapi gagal dikarenakan tentara Arab kurang ahli perang di laut di bandingkan di darat. Pada tahun ini pula Abdullah Ibn Amar Rabbi sampai ke Mekran untuk menyiarkan Islam dan memperluas daerah kekuasaan Islam. Pada masa Usman Ibn Affan dan Ali Ibn Abi Thalib, dikirim utusan ke wilayah India untuk menyelidiki adat istiadat dan jalan-jalan menuju India. Inilah awal mula Islam menyebar ke India melalui jalan darat.

Pada masa Mu’awiyah I, terjadi perampokan terhadap orang-orang Islam di India. Atas izin Khalifah Al-Walid, ia mengirim Muhammad Ibn Qasim (usianya 17 tahun), untuk memimpin pasukan. Dalam waktu 4 tahun lebih, Sind dan Punjab dapat ditaklukkan dan dikuasai. Bin Qasim menjadi gubernur yang menjalankan pemerintahan dengan rasa kemanusiaan yang tinggi. Riwayatnya berakhir tragis akibat pertikaian politik, setelah itu ada 9 orang gubernur tetap berkuasa di wilayah itu sampai datangnya dinasti Ghazni.

Pada akhir abad ke-10, Alptgin menaklukkan Ghazni dan memperkuat kota dengan parit dan benteng. Pada tahun 976-977 M, naiklah menantu dan bekas budaknya, Sabktegin, ia dapat menaklukkan Kabul dan Kandahar, menyerang Lahore, Delhi, Ajmir, Qanauj, Kalinjar. Pada tahun 997 M Sabktegin digantikan oleh putranya Mahmud, yang kemudian terkenal dengan gelar Mahmud Ghaznawi. Ia melakukan penyerangan dan penaklukan sebanyak 17 kali ke daerah Lahore, Delhi, Ajmir, Qanauj, Gawaliur, Kalinjar, Ujjain, Nagarakot, dan Doab yang semuanya dimenangkan. Pada tahun 1024-1025 M menyerang dan menaklukkan Gujarat dan menghancurkan berhala Samonath yang terkenal besar dan megah di India. Mahmud digantikan oleh putranya Muhammad, tetapi Muhammad tidak lama memerintah, lalu digantikan oleh saudaranya, Mas’ud Ibn Mahmud. Mas’ud memperluas kekuasaannya dengan menaklukkan negeri Oudh (Ayyuda) dan Benaras. Sepinggal Mas’ud tidak ada lagi pengganti yang kuat.

Pada tahun 1186 M, Alauddin Husain Ibn Husain merebut negeri Ghaznah yang sudah lemah, setelah itu ia digantikan oleh Ghias al-Din Abul Muzaffar Muhammad Ibn Sam. Kemudian ia digantikan oleh saudaranya Syihab al-Din. Kemudian naiklah Alauddin Muhammad Ibn Sam. Tokoh yang terkenal dalam sejarah adalah Sultan Muhammad Abdul Muzaffar Ibn al-Husain al-Ghori (Muhammad Ghuri). Ia menguasai seluruh wilayah yang dahulunya dikuasai Dinasti Ghazni. Pada tahun 1192 M ia memenangkan peperangan Tarain II melawan persekutuan raja-raja India yang dipimpin oleh Pritthiraj dan menguasai Delhi, Merat dan Agra. Pada tahun 1193 M ia menaklukkan Qanauj, dan menunjuk panglima perang dan hamba sahayanya, Aibek sebagai wakil tetap di India yang berpusat di Delhi. Aibek dapat menaklukkan Oudh dan Benaras.

Penaklukkan berlanjut pada tahun 1195 M ke Guwaliur, 1196 M ke Gujarat, 1201 M ke Kalinjar. Di samping itu ada pula hamba sahayanya yang bernama, Bakhtiar Khilji, yang merampas negeri Bihar dan Bengala (sekarang Bangladesh) dari kerajaan Magadh (Budha) pada tahun 1194 M. Sepeninggal Muhammad Ghuri, naiklah Quthubuddin Aibek yang merupakan bekas budak dan panglima perang Ghuri, yang memberi letter of manumission (merdeka dari perbudakan). Aibek mendapat gelar sultan pada tahun 1206 M.[3] Sejak saat itu berdirilah kesultanan Delhi yang meliputi : Dinasti Mamluk (1206-1290 M), Khalji (1290-1320 M), Tughlug (1320-1414 M), Sayyed (1414-1451 M), dan Lodi (1451-1526 M).

Dinasti Mamluk didirikan oleh seorang budak yang bernama Altamasy yang di merdekakan oleh Aibek dan di angkat menjadi pembesar istana karena pada saat itu menganti Aibek, anaknya Aram Shah tidak bisa memimpin dengan baik. Altamasy berhasil memperluas kekuasaan Islam ke sebelah utara (Malawa) dan menyelamatkan negerinya dari serangan Mongol. Setelah itu ia menunjuk anak perempuannya, Raziya, sebagai pengganti dengan alasan semua anak lakilakinya tidak ada yang mampu. Dalam sejarah Islam Sultan Raziya adalah perempuan pertama yang berkuasa. Pada tahun 1240 M terjadi pemberontakan untuk menolak sultan perempuan yang menjatuhkan Raziya oleh Bahram Shah, putra dari Iltutmish, namun Bahram Shah tidak mampu memimpin , akhirnya pada tahun 1246 M pamannya, Nasiruddin Mahmud naik tahta, kemudian ia di gantikan oleh Balban.

Setelah Balban wafat, penggantinya, Kaikobad, tidak cakap sebagai pemimpin. Dengan dukungan para pembesar istana, Jalaluddin Khalji (75 tahun) naik tahta pada tahun 1290M. Setelah itu Alauddin Khalji yang merupakan keponakan sekaligus menantu Jalaluddin Kahlji naik tahta berkat dukungan para bangsawan.[4] Alauddin Khalji memperluas kekuasaannya sampai ke Gujarat, Rajasthan, Deccan, dan sebagian wilayah India Selatan.[5] Pengganti Alauddin Khalji adalah Quthubuddin Mubarak Khalji, namun ia dan keluarganya dibunuh oleh Khusru, gubernur Deccan yang ingin merebut tahta. Lima bulan kemudian Ghazi Malik Tughlaq, gubernur Depalpur, dapat menguasai Delhi dengan membunuh Khusru.[6]

Ghazi Malik menduduki tahta dengan gelar Ghiyasuddin Tughlug. Beberapa wilayah dikuasainya antara lain Bidar, Warrangal dan Bangla. Namun dalam perjalanan kembali dari Bengla, Ghiyasuddin Tughlug meninggal dunia pada tahun 1325 M. Juna Khan terpilih sebagai pengganti Sultan ia naik tahta dengan gelar Muhammad Ibn Tughlug.[7] Ia merupakan sultan pertama yang mengangkat warga non-Muslim dalam tugas kemiliteran dan tugas-tugas administratif pemerintahan, terlibat di dalam perayaan lokal, dan mengizinkan pembangunan kuil-kuil Hindu.[8] Ia wafat pada tahun 1351 M ketika Negara dilanda pemberontakan. Fihruz Shah, sepupunya, naik tahta setelah meredam pemberontakan di Sind dan penyerangan Mongol. Setelah kematian Fihruz pada tahun Shah pada tahun 1388 M penggantinya tidak ada yang mampu. Nashiruddin Muhammad Tughluq adalah orang terakhir dalam Dinasti Tughlug. Pada tahun 1414 M, Khizir Khan, utusan Timur di Debalpur dan Multan dapat menguasai politik di Delhi.

Khizr Khan merupakan pendiri dari Dinasti Sayyid yang alim, pemberani dan sangat mampu memimpin. Ia meninggal dunia pada tahun 1421 M. Kemudian Mubarak Shah naik tahta, namun ia terbunuh pada tahun 1434 M oleh seorang bangsawan bernama Sardarul Mulk. Keponakan Mubarak, Muhammad Shah, naik tahta. Ia membalas kematian pamanya dengan menangkap dan membunuh Sardarul Mulk. Muhammad Shah memimpin selama 12 tahun, ia di gantikan oleh anaknya, Alauddin Alam Shah, yang merupakan raja terakhir dan terlemah dalam Dinasti Sayyid. Ia secara sukarela menyerahkan tahtanya kepada Bahlul Lodi.

Bahlul Lodi naik tahta pada tahun 1451 M. Sultan Lodi adalah satusatunya sultan Delhi yang berasal dari suku bangsa Pathan. Sultan-sultan Delhi yang lain adalah bangsa Turki. Aksi Bahlul Lodi yang menonjol adalah penaklukan Jaunpur. Ia bertahta selama 38 tahun dan meninggal pada 1389 M. Nizam Khan, putra kedua Bahlul Lodi naik tahta dengan gelar Sikander Lodi. Ia meninggal dunia pada tahun 1517 M setelah berhasil memimpin selama 28 tahun. Akhirnya, Ibrahim Lodi, naik tahta. Tetapi terjadi pemberontakan di Jalal Khan. Ia banyak memenjarakan bangsawan yang menentang. 

Hal ini memicu lebih banyak pemberontakan. Pada 21 April 1526 M terjadi pertempuran yang dahsyat di panipat antara Babur dan Ibrahim Lodi.[9] Pasukan Lodi berjumlah 100.000 kekuatan tentara dengan 1000 pasukan gajah, sedangkan tentara Babur hanya berjumlah 25.000.[10] Ibrahim Lodi beserta ribuan tentaranya terbunuh dalam pertempuran itu. Walaupun pasukannya lebih kecil jumlahnya, barangkali karena keperkasaan yang diwarisi leluhurnya serta prajuritnya yang terlatih dan loyal, Babur berhasil tampil sebagai panglima yang memenangkan pertempuran.[11] Setelah Babur memperoleh kemenangan ia beserta pasukannya memasuki kota Delhi untuk menegakkan pemerintahan. Dengan ditegakkannya pemerintahan Babur di kota Delhi, maka berdirilah kerajaan Mughal di India pada tahun 1526 M.




[1] Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, 304.
[2] M. Abdul Karim, “Peradaban Islam Di Anak Benua India” dalam Siti Maryam (ed.), Sejarah Peradaban Islam Dari Masa Klasik Hingga Modern (Yogyakarta : LESFI, 2004),165-166. 
[3] Ibid., 168-169. 
[4] Ibid., 169-170.
[5] Lapidus, Sejarah Sosial, 674.
[6] Karim, Sejarah Peradaban Islam, 170.
[7] Ibid., 170-171.
[8] Lapidus, Sejarah Sosial, 676.
[9] Much. Kamdi Ihsan, “Peradaban Islam Masa Mughal Di India”, dalam Umar Faruq Thohir dan Anis Hidayatul Imtihanah (ed.), Dinamika Peradaban Islam Perspektif Historis (Yogyakarta : Pustaka Ilmu, 2013), 230. 
[10] Ensiklopedi Islam Jilid 5 (Jakarta : PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2005), 57.
[11] Fuad, Sejarah Peradaban Islam , 199.
Ads