Enam Keutamaan Puasa

Advertisement
SUDUT HUKUM | Diantara sekian banyak keutamaan berpuasa antara lain adalah diampuninya dosa-dosa, terbukanya pintu surga serta tertutupnya pintu neraka, dan mendapatkan surga lewat pintu khusus Ar-Rayyan.

Enam Keutamaan Puasa

Diampuni Dosa

Orang yang mengerjakan puasa dijanjikan Allah SWT untuk diampuni dosa-dosanya. Padahal biasanya setiap amal dijanjikan dengan pahala. Tetapi khusus puasa, termasuk jenis amalan yang tidak dijanjikan pahala, melainkan dijanjikan pengampunan dosa.

Dan tidak ada seorang pun yang luput dari dosa di dunia ini. Jangankan manusia biasa, para nabi dan rasul di dalam Alquran pun diceritakan kisah-kisah mereka dengan kesalahan dan dosa yang pernah mereka lakukan.

Pengampunan dosa adalah peristiwa yang paling eksentrik dan dramatik. Bagaimana tidak, seseorang telah melakukan dosa, entah dengan meninggalkan kewajiban atau melanggar larangan dari Allah SWt, lalu kesalahan yang melahirkan dosa itu diampuni Allah, seolah tidak pernah terjadi.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Siapa yang puasa Ramadhan dengan iman dan ihtisab, telah diampuni dosanya yang telah lalu. Dan siapa yang bangun malam Qadar dengan iman dan ihtisab, telah diampuni dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari Muslim)
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ r كَانَ يَقُولُ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda: “Shalat lima waktu dan juma’t ke Jum’at berikutnya, Ramadlan ke Ramadlan berikutnya menghapus dosa (seseorang) di antara waktu tersebut selama ia menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)
فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِى أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلاَةُ وَالصَّدَقَةُ وَالأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْىُ عَنِ الْمُنْكَرِ
“Dosa seseorang kepada istrinya, hartanya, dirinya, anaknya dan keluarganya dihapuskan oleh shalat, puasa, sedekah, amar ma’ruf dan nahi munkar.” (HR. Bukhari Muslim)
Adanya pengampunan dosa yang menjadi keutamaan puasa ini tentu amat menguntungkan seorang hamba. Boleh jadi justru pengampunan dosa inilah yang membuat seorang hamba akan selamat dari api neraka dan masuk surga.

Sebab dibandingkan dengan jumlah pahala yang bisa dikumpulkan dengan susah payah, dosa-dosa itu terjadi begitu saja mengalir tanpa terbendung dan tanpa disadari.

Rasulullah SAW telah mengingatkan kita dengan kisah seorang yang muflis atau bangkrut.
أَتَدْرُونَ مَنِ المُفْلِس؟ قَالُوا المُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ : إِنَّ المـُفْلِسَ مِنْ أمَّتِي مَنْ يَأْتِى يَوْمَ القِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكاَةٍ وَيَأْتِي مَنْ قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ ماَلَ هَذَا وَسَفَكَ دَامَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا. فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ .فَأَنَّ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يَقْضِى مَاعَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطَرَحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فيِ النّاَرِ
Tahukah kalian semua, siapakah orang yang bangkrut itu ? Tanya Rasulullah kepada para sahabatnya – merekapun menjawab : orang yang bangkrut menurut kita adalah mereka yang tidak memiliki uang dan harta benda yang tersisa.” Kemudian Rasulullah menyampaikan sabdanya : “Orang yang benar-benar pailit – diantara umatku – ialah orang yang di hari kiamat dengan membawa banyak pahala shalat, puasa dan zakat; tapi (sementara itu) datanglah orang-orang yang menuntutnya, karena ketika (di dunia) ia mencaci ini, menuduh itu, memakan harta si ini, melukai si itu, dan memukul si ini. Maka di berikanlah pahala-pahala kebaikannya kepada si ini dan si itu. Jika ternyata pahala-pahala kebaikannya habis sebelum dipenuhi apa yang menjadi tanggungannya, maka diambillah dosa-dosa mereka (yang pernah di dzaliminya) dan ditimpakan kepadanya. Kemudian dicampakkanlah ia ke api neraka.” (HR. Muslim)
Maka dengan diampuninya dosa-dosa itu, otomatis seseorang yang barangkali nilai palaha amalnya tidak terlalu banyak, tetap bisa masuk surga. Karena dosa-dosanya telah banyak dikurangi, bahkan boleh jadi telah habis, karena keutamaan puasa yang telah dikerjakannya.

Maka puasa termasuk ibadah yang amat berharga, salah satunya untuk mengurangi dosa-dosa yang boleh jadi amat banyak tak terhingga.

Alangkah sayangnya bila momen pengampunan dosa ini terlewat begitu saja. Nabi SAW telah mengingatkan jangan sampai bulan puasa lewat tetapi dosa-dosa belum termpuni.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَال : قَال رَسُول اللَّهِ r : رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَل عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْل أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
Dari Abi Hurairah radhiyallahuanhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Alangkah sayangnya bagi seseorang yang telah dilewati Ramadhan kemudian berlalu tanpa sempat diampuni dosanya. (HR. Tirmizy).

Pahala Puasa Ditetapkan Khusus

Ibadah puasa adalah ibadah yang memiliki kedudukan khusus di sisi Allah SWT. Ibadah puasa yang dilakukan oleh seorang anak Adam itu langsung menuju kepada Allah, dan menjadi urusan Allah SWT saja masalah balasannya.

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِى بِهِ
Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. (HR. Muslim)
Berbagai macam ibadah kepada Allah SWT yang selain dari ibadah puasa memang banyak dijanjikan dengan balasan pahala yang berlipat-lipat kali. Namun semua lipatan pahala itu tetap masih bisa dihitung-hitung secara matematis, misalnya dikali lipatkan sepuluh hingga sampai 700 kali lipat.

Sedangkan khusus untuk pahala dari ibadah puasa, Allah SWT sudah tidak lagi menggunakan hitung-hitungan secara matematis. Para ulama menyebutkan bahwa maksudnya adalah balasannya menjadi sedemikian banyak bahkan mencapai nilai yang tidak terhingga, karena saking banyaknya pahala itu diberikan.

Rahasianya di balik itu semua terisyaratkan di bagian akhir hadits ini, yaitu ketika seorang hamba yang menjalankan ibadah puasa itu mampu menahan syahwatnya dan rasa laparnya semata-mata karena dia taat kepada Allah SWT. Ternyata menahan syahwat dan rasa lapar itu punya nilai yang luar biasa, yang mampu menandingi berbagai macam jenis ibadah lainnya, sehingga Allah SWT sampai tidak lagi berhitung-hitung untuk memberikan pahala balasan dari amal tersebut.

Mendapatkan Dua Jenis Kebahagiaan

Orang yang mengerjakan ibadah puasa disebutkan oleh Rasulullah SAW sebagai orang yang akan mendapatkan dua jenis kebahagiaan.

Dasarnya adalah sambungan dari hadits di atas, dimana beliau SAW menyebutkan tentang dua jenis kebahagiaan itu
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ
Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. (HR. Muslim)
Kebahagiaan yang pertama adalah ketika dia berbuka puasa, yang tidak bisa digantikan dengan berbagai jenis kebahagiaan. Hanya mereka yang sepanjang siang telah mengalami beratnya puasa, merasakan beratnya menahan lapar, haus dan menahan nafsu syahwat yang normal secara biologis, yang akan merasakan betapa nikmatnya berbuka puasa di kala senja hari.

Kenikmatan semacam ini tidak bisa diukur berdasarkan menu masakan yang aneh-aneh, atau disajikan oleh restoran yang terkenal, atau dimasak oleh chef yang kondang, atau yang berharga selangit. Semua kemegahan itu tidak bisa diukur dengan kebahagiaan seorang yang berpuasa lalu di sore hari berbuka puasa walau pun hanya dengan seteguk air dan sebutir kurma, tetapi kenikmatannya tiada bandingannya.

Sedangkan kebahagiaan yang kedua adalah kebahagiaan ketika nanti bertemu dengan Allah SWT, yaitu nanti di akhirat setelah kehidupan di dunia ini, orang yang berpuasa akan mendapatkan balasan dari sisi Allah SWT yang tidak seperti umumnya pahala suatu ibadah.

Bau Mulutnya Disukai Allah

Sambungan dari hadits riwayat imam Muslim di atas adalah ketika Rasulullah SAW menyebutkan bahwa mulut orang yang berpuasa akan berbau tidak sedap, karena seharian kering dan terkena makanan atau minuman.

Namun bau mulut itu justru lebih harum dari wangi minyak kasturi di sisi Allah SWT. Hal itu karena orang itu menjalankan ibadah puasa yang telah Allah SWT perintahkan.
وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi. (HR. Muslim)
Bahkan para ulama di dalam madzhab Asy-Syafi’iyah sampai memakruhkan bila seseorang secara sengaja menghilangkan bau mulut ini, berdasarkan hadits ini. Di antara perbuatan yang makruh untuk dilakukan ketika berpuasa adalah menggosok gigi, khususnya setelah zawal asy-syamsi, atau tergelincirnya matahari.
Dasarnya karena bau mulut itu belum begitu terasa ketika masih pagi hari. Bau mulut baru mulai terasa ketika siang hingga sore hari. Dan istilah zawal asy-syamsi digunakan untuk menandai waktu yang telah beranjak siang.

Mendapatkan Surga Melalui Pintu Ar-Rayyan

Salah satu pintu surga yang dijanjikan Allah SWT bagi mereka yang mengerjakan puasa adalah pintu Ar-Rayyan. Pintu ini pintu istimewa yang hanya diberikan kepada mereka yang secara khsusus telah terdaftar mengerjakan puasa.

Di dalam surga meski pun banyak orang, namun hanya mereka yang secara khusus saja yang boleh masuk lewat pintu ini.
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَال لَهُ : الرَّيَّانُ يَدْخُل مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ يَدْخُل مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَال : أَيْنَ الصَّائِمُونَ ؟ فَيَقُومُونَ لاَ يَدْخُل مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُل مِنْهُ أَحَدٌ
Di dalam surga ada sebuah pintu yang disebut pintu ar-Rayyan. Yang masuk melalui pintu itu di hari kiamat hanyalah orang-orang yang berpuasa, yang lainnya tidak masuk lewat pintu itu. Dan diserukan saat itu, ”Manakah orang-orang yang berpuasa?”. Maka mereka yang berpuasa bangun untuk memasukinya, sedangkan yang lain tidak. Bilamana mereka telah masuk, maka pintu itu ditutup dan tidak ada lagi yang bisa memasukinya.

Doanya Tidak Tertolak

Orang yang berpuasa adalah satu dari tiga orang yang sesuai sabda Nabi SAW dikatakan bahwa doanya tidak akan tertolak.
ثَلاثَةٌ لا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ تُحْمَلُ عَلَى الْغَمَامِ وَتُفْتَحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ وَعِزَّتِي لأَنْصُرَنَّكَ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ
“Tiga orang yang tidak akan ditolak doanya: Imam yang adil, orang yang berpuasa hingga ia berbuka dan dan orag orang yang didzalimi. Doanya diangkat ke awan dan dibukakan baginya pintu langit dan Tuhan azza wa jalla berfirman: demi kemuliaanku saya pasti menolong engkau setelah ini. (HR. Ahmad).
Ads