Kelahiran dan silsilah keluarga Imam Syafi’i

Advertisement
SUDUT HUKUM | Imam Syafi’i adalah imam ketiga menurut urutan dan susunan tarikh kelahiran. Beliau adalah pendukung terhadap ilmu hadits dan pembaharu dalam agama (Mujadid ) dalam abad kedua hijriah.

Dia dilahirkan di daerah Guzzah pada tahun ketika guru fiqih terkemuka dan imam ahli qiyas di Iraq, Hanafi meninggal dunia. Menurut berbagai riwayat, antara lain yang dikemukakan oleh Al-Khayyaal kelahiran Syafi’i dimaksudkan oleh Tuhan sebagai upaya agar wajah bumi tidak sempat sepi dari ahli fiqih, artinya kehendak Tuhan melahirkan Syafi’i ke dunia fana ini memang sematamata untuk menggantikan kedudukan Hanafi yang telah mangkat tadi.[1]

Kelahiran dan silsilah keluarga Imam Syafi’iNamun menurut riwayat lain, diterangkan bahwa bulan dan tahun itu juga wafatnya Imam ibnu Junaij Al – Makky, seorang alim besar dikota Mekkah yang terkenal sebagai imam ahli Hijaz , dengan adanya kewafatan dua orang imam besar itu, maka para orang yang ahli meramalkan bahwa pribadi Syafi’I adalah akan menggantikan kedudukan mereka tentang kemahirannya dalam urusan ilmu pengetahuan.

Abdur Rahman bin Abi Halim Al-Rafi yang meninggal tahun 327 H (938 M ) adalah peneliti biografi Syafi’i paling awal dan terperinci yang berkata bahwa Syafi’i dilahirkan di Ghazza, sebuah kota kecil di Laut tengah, sedangkan penulis lain berkata bahwa dia dilahirkan di Asqalan, tak jauh dari Ghazza pada tahun 150 H / 767 M.[2]
Nama Imam  Syafi’i dari kecil adalah Abdillah bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’i bin Al-Saib bin Ubaid bin Abdul Yazid bin Abdul Muthalib bin Abdi Manaf,[3] dengan ini jelas bahwa silsilah dari ayahnya adalah dari keturunan bangsa Quraisy dan keturunan beliau bersatu dengan keturunan nabi pada Abdi Manaf (datuk nabi yang ketiga ) dan Hasyim yang tersebut dalam silsilah beliau itu Adapun silsilah dari arah ibunya adalah binti Fatimah binti Abdullah bin Al-Hasan bin Ali bin abi Thalib (paman nabi) . Dari silsilah ini diketahui bahwa Syafi’i bertalian rapat dengan silsilah yang diturunkan nabi.

Imam Syafi’i lahir pada zaman dinasti Abasiyah, tepatnya pada kekuasaan Abu Ja'far Al-Manshur (137-159 H / 754 – 774 M ), Imam Syafi’i berusia 9 tahun ketika Al- Manshur diganti oleh Al-Mahdi dan berusia 19 tahun Al-Mahdi diganti oleh Musa Al-Mahdi,ia berkuasa hanya 1 tahun dan diganti oleh Harun Al-Rasyid yang saat itu Syafi’i berusia 20 tahun, kemudian diganti oleh Al-Amien dan akhirnya oleh Al-Ma'mun.[4]

Keluarganya adalah dari keluarga Palestina yang miskin dan dihalau dari negaranya, mereka hidup dalam perkampungan orang Yaman tetapi kemuliaan keturunan beliau menjadi jaminan dan tebusan bagi kemiskinan. Kemiskinaan dan nasab yang tinggi ini mendorongnya untuk menjadi orang yang bercita-cita luhur, dua hal itu pula yang membuatnya dekat dengan keluarga miskin.[5]





[1] Syafiq Hasyim, Hal-hal yang tidak terpikirkan, tentang isu-isu keperempuanan dalam islam, Bandung: Mizan, 2001, hlm. 116
[2] KHE. Abdul Rahman, Perbandingan Madzhab-Madzhab, Bandung ; Sinar Baru, 1986, hlm.159
[3] DR. Jahih Mubarok, Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam, Bandung ; PT. RemajaRosdakarya, cet ke-2, 2000, hlm. 101
[4] Ibid.
[5] Syafiq Hasyim, Hal-hal yang tidak terpikirkan…
Ads