Perjalanan Intelektual Imam Syafi’i

Advertisement
SUDUT HUKUM | Sebagai seorang anak, beliau seorang yang cerdas dan cemerlang, selalu giat belajar ilmu keislaman yang azasi. Seperti halnya setiap anak muslim masa itu, dia mulai belajar Al-Qur’an dan dapat mengkhatamkannya pada usia menjelang 7 tahun. Selama waktu itu, kitab karya Imam Malik (Al-Muwatha' ) yang merupakan kitab Hadits terkenal diberbagai kawasan dunia muslim telah dapat dihafalnya pada usia 15 tahun. Dia mempelajari ilmu islam dibawah bimbingan seorang ulama kenamaan, Muslim Al-Khallaj Al-Zamjy (mufti Mekkah ) dan Sofyan bin Uyainah.

Beliau sangat tekun mempelajari kaidah kaidah nahwu, bahasa arab. Untuk tujuan itu beliau pernah mengembara ke kampung-kampung dan tinggal bersama puak (kabilah ) Huzail selama 10 tahun lantaran hendak mempelajari bahasa dan adat-istiadat mereka.

Kabilah Huzail adalah salah satu kabilah yang terkenal sebagai suatu kabilah yang baik bahasa Arabnya, beliau banyak menghafal syair dan qasidah dari kabilah ini, karena dusun itulah sartu-satunya dusun yang penduduknya terkenal masih berbahasa arab yang fasih dan asli.

Didusun itulah beliau rajin mempelajari bahasa arab dan kesusastraannya serta syairnya kepada para pemuka dusun itu dan beliau mempelajari adat istiadat bangsa arab yang asli dan cara pergaulan mereka yang baik budi serta jauh dari pengaruh adat bangsa lain. Setelah itu beliau sangat pandai bahasa arab dan kesusastraannya, mahir dalam mengarang dan menyusun syair, sajak dengan bahasa arab yang fasih dan tinggi. Dengan ilmunya itu menyebabkan Al-Ashmai seorang tokoh seni Jahiliyyah harus mentashhihkan syair Hudzail yang dimiliknya kepada Imam Syafi’i.

(Baca juga: Kelahiran dan silsilah keluarga Imam Syafi’i)


Disamping itu, meskipun beliau telah hafal Muwatha, tetapi belum merasa puas hatinya jika belum berjumpa sendiri dengan Imam Malik, seorang alim kota Madinah yang terkenal itu, oleh sebab itu beliau meminta persetujuan para gurunya di Mekkah dan meminta surat pengantar Wali kota Mekkah bahwa beliau hendak belajar di Madinah.

Beliau meninggalkan kota Mekkah menuju Madinah untuk belajar kepada Imam Malik, seorang Ulama dan fuqaha termasyhur disana waktu itu, beliau melanjutkan pelajarannya itu pada usia 20 tahun.

Oleh karena pada masa itu Imam Syafi’i telah mendengar berita yang menyatakan kebesaran ulama Iraq, seperti Imam Yusuf dan Muhammad bin Hasan ( sahabat Hanafi ) maka beliau berkeinginan dan berhasrat hendak bertemu dengan mereka.

Setelah dua tahun di Madinah, yakni dalam usia 22 tahun, Imam Syafi’i berangkat ke Iraq ( Kufah dan Baghdad ) dimana beliau bermaksud selain menimba ilmu dalam soal kehidupan bangsa, juga untuk menemui ulama ahli Hadits dan ahli Fiqih yang bertebaran disana.

Sampai di Kufah, beliau menemui ulama sahabat Hanafi, yaitu Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan, dimana acap kali Imam Syafi’i bertukar fikiran dengan beliau dalam soal ilmu pengetahuan agama.

Dalam kesempatan ini Imam Syafi’i dapat mengetahui aliran dan cara fiqih dalam madzhab Hanafi yang agak jauh berbeda dari cara dan aliran fiqih dalam madzhab Maliki.

Dan selama beliau di Iraq, dapatlah menambah dan meluaskan ilmu fiqih ahli Iraq dan beliau dapat pula menambah pengetahuan tentang cara Qadhi memeriksa perkara dan memutuskan urusan, cara memberi fatwa dan menjatuhkan hukum yang selamanya belum pernah diketahui di Negara Hijaz.

Di Iraq pula beliau dapat menambah pemandangan serta pengalaman tentang keadaan peri kehidupan dan pergaulan penduduk disana, menambah pengetahuan adat-istiadat.

Imam Syafi’i ketika itu dapat mendalami dan menganalisa cara yang dipakai Malik dan Hanafi. Beliau tidak lama di Iraq ketika itu dan terus mengembara sampai ke Persi dan Andholi ( Turki ) kemudian ke Romalah ( Palestina ) dimana dalam perjalanan mencari dan menjumpai ulama tabi'in / tabi'it tabi'in . hal ini nantinya menolong beliau dalam membangun fatwanya dalam madzhab Imam Syafi’i.

Sesudah dua tahun mengembara antara Baghdad, Persia, Turki dan Palestina, Imam Syafi’i kembali ke Madinah, kembali ke Malik sampai wafat. Setelah gurunya wafat, Imam Syafi’i pergi ke Yaman.

Menurut riwayat Imam Syafi’i merupakan seorang yang suka mengembara, pindah dari satu Negara ke Negara lain, terutama dalam hal mencari ilmu . beliau lahir di Ghazza, pergi ke Mekkah, pindah ke Madinah, pindah ke Yaman, ke Baghdad sampai ke Syam, ke Mekkah, Baghdad dan terakhir ke Mesir hingga wafat dan dimakamkan disana.

Harus diketahui bahwa seluruh fatwa dengan lisan dan tulisan pada waktu Imam Syafi’i di Iraq dinamakan Qaul Qadim (fatwa lama) sedangkan fatwa yang dikeluarkan sesudah beliau pindah ke Mesir disebut Qaul Jadid (fatwa baru).

Imam Imam Syafi’i menetap di Mesir hampir 6 tahun lamanya, yakni sejak akhir Syawal tahun 198 sampai akhir Rajab tahun 204 hijriyah. Setelah 6 tahun tinggal di Mesir mengembangkan madzhabnya dengan lisan dan tulisan, mengarang kitab Ushul Fiqih dan kitab lainnya, maka beliau meninggal dunia pulang ke rahmatullah.

Berkata Rabi' bin Sulaiman (murid Imam Syafi’i ) bahwa Imam Syafi’i berpulang ke Rahmatullah sesudah shalat Maghrib, petang kamis malam jum'at, akhir dari bulan Rajab dan kami memakamkan beliau hari jum'at, sorenya kami lihat hilal bulan Sya'ban 204 H, dalam tarikh masehi bertepatan dengan 28 Juni 819 M.

Guru

Selama hidupnya Imam Imam Syafi’i belajar ilmu tafsir fiqih dan Hadits kepada banyak guru, negaranya / wilayahnya antar yang satu dengan yang lain saling berjauhan.

Imam Syafi’i sebelum menjadi Mujtahid telah mempelajari aliran fiqih Maliki dari pemiliknya sendiri, yakni Imam Malik, telah mempelajari fiqih Hanafi dari Qadhi Yusuf dan Muhammad bin Hasan, Yaitu murid Hanafi di Kufah, telah mempelajari fiqih Auza'I di Yaman dari pembangunnya sendiri Umar bin Abi Salamah dan mempelajari fiqih Al-Laits di Yaman juga dari pembangunnya Yahya bin Hasan.

Dalam ilmu tafsir, beliau telah memperhatikan tafsir ibnu Abbas yang pada waktu itu berkembang disana dan mengalami kemajuan.

Menurut dari apa yang telah diketahui bahwa guru Imam Syafi’i sangat banyak, diantaranya mereka yang mengutamakan hadits dan ada yang mengutamakan pikiran (Ra'yu ) , selain itu juga ada dari golongan Mu'tazilah bahkan dari golongan Syi'ah.

Keadaan gurunya yang berlainan dapat membantu beliau dalam meluaskan bidang ilmu fiqih juga menambah banyaknya ilmu yang dipelajari serta meninggikan ilmu pengetahuannya.

Setelah ilmu Imam Syafi’i banyak dan tinggi, beliau mulai mengeluarkan pendapatnya tersendiri dan kadangkala pendapatnya itu berlainan dengan pendapat gurunya, keadaan tersebut menunjang beliau untuk membentuk prinsip dan kaidah hukum.

Murid

Selain memiliki banyak guru, Imam Syafi’i juga banyak mempunyai murid yang tersebar di berbagai negeri,dalam suatu riwayat disebutkan bahwa murid Imam Syafi’i yang ada pada masa berikutya menjadi Ulama dan menjabat selaku pemuka Islam pada masa mereka, Imam Syafi’i juga mempunyai murid yang pada masa berikutnya mengembangkan ajaran fiqihnya, bahkan ada pula yang mendirikan aliran fiqih tersendiri.

Diantara murid Imam Syafi’i adalah:
  1. Makkah: Abu Bakar Humaidi
  2. Baghdad: Ahmad bin Hanbal, Al Karabasi, Al-Za’farani, Abu Saur
  3. Mesir : Al- Buwaithi, Harmalah, Al-Robi, Al-Jizi, Yunus ibn Abdul Al-A’la, Rabi’ Al-Muradi Al-Muzanny


Dengan perantara murid Imam Syafi’i inilah pelajarannya tersiar luas ke pelosok dunia Islam dan dunia non islam. Kitab Karangan Imam Syafi’i.

Imam Syafi’i selain seorang alim ahli mengajar dan ahli mendidik, juga sebagai pengarang syair dan sajak dan pengarang kitab yang bermutu tinggi dan sangat berguna besar bagi dunia Islam.

Adapun kitab karangan Imam Syafi’i terbagi dalam dua bagian, yaitu yang diajarkan dan didiktekan kepada murid ketika di Iraq (Baghdad), pengajaran itu kemudian disusun dan dihimpun menjadi suatu kitab yang disebut madzhab Imam Syafi’i Qadim sedangkan yang diajarkan dan didiktekan kepada muridnya di Mesir kemudian dihimpun dan disusun dalam kitab disebut Madzhab Imam Syafi’i Jadid.

Kitab yang pertama dibuat Imam Syafi’i adalah Al-Risalah yang disusun di Mekkah atas permintaan Abdul Al-Rahman AL-Mahdi, sedangkan di Mesir beliau mengarang kitab baru,kitab yang dikarang Imam Syafi’i di Mesir diantaranya:
Perjalanan Intelektual Imam Syafi’i
Kitab al-Umm, salah satu
buah tangan Imam Syafii.
Anda Bisa Mendapatkannya
DISINI
  1. Al-Risalah
  2. Ahkam Al-Qur’an
  3. Ikhtilaf Al-Hadits
  4. Ibthalu Al-Istihsan
  5. Al-Qiyas
  6. Al-Musnad
  7. Al-Umm, dan lain-lain


Risalah baru yang sampai kepada kita telah memberikan pengaruh yang besar terhadap hukum islam secara umum, sehingga dengan karyanya beliau memperoleh gelar "Bapak Hukum Islam " yang mencerminkan pandangan hukum islam Imam Syafi’i yang matang saat ia berada di puncak karirnya sebagai seorang ahli di bidang hukum.

Tak diragukan lagi, Imam Syafi’i merupakan seorang ulama beken ahli hadits dan akan selalu dikenang oleh orang sepanjang masa. Sedemikian besarnya pengaruh yang dibuatnya dalam lapangan hukum islam, sehingga madzhabnya diambil dari namanya dan jutaan pengikutnya pada masa ini bangga mengikuti jejak langkahnya dalam berbagai pandangan hukum yang ditinggalkannya sebagai petunjuk bagi mereka.
Ads