Jual Beli Anjing Dalam Perspektif Hukum Islam

Advertisement
SUDUT HUKUM | Salah satu dari sekian banyak usaha yang baik untuk mencari rizki adalah jual beli. Hal ini telah diajarkan oleh Allah SWT dengan Firman-Nya:
Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba" (Q.S.Al-Baqarah :275)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu" (Q.S. An-Nisa':29)

Dan umat sepakat bahwa jual beli dan penekunanya sudah berlaku (dibenarkan) sejak zaman Rasulullah SAW hinga hari ini.

Jual Beli Anjing Dalam Perspektif Hukum IslamAllah SWT mengajarkan jual beli tidaklah secara rinci akan tetapi hanyalah secara global saja, sehingga penjelasan jual beli ini merupakan masalah ijtihad, maka tidaklah mengherankan kalau masalah jual beli in banyak terjadi perbedaan pendapat dintara para ulama, terutama tentang obyek dari pada jual beli. 

Menurut Sayyid Sabiq didalam fiqh as-Sunnahnya syarat barang yang diakadkan adalah:
  1. Bersihnya barang
  2. Dapat dimanfaatkan
  3. Milik orang yang melakukan akad
  4. Mampu menyerahkannya
  5. Mengetahui
  6. Barang yang diakadkan ada ditangan


Maka boleh memperjual belikan binatang-binatang dengan tujuan untuk berburu atau dimanfaatkan kulitnya, atau untuk mengangkut barang, atau dengan tujuan menikmati suara dan bentuknya.9

Mengenai jual beli anjing ini terdapat bermacam-macam pendapat diantara ulama.

Imam Syafi'I berpendapat, bahwa harga anjing dengan keadaan apapun juga tidak halal.[1] Hadits dari Ibnu Mas'ud Al-Ansari:
Bahwasanya Rasulullahh SAW melarang dari harga anjing dan hasil lacur dan upah tukang tilik"[2]

Dan haram memelihara anjing kecuali karena darurat untuk kebaikan penghidupan.[3] Hadits dari Ibnu Umar:
قل: رسوالله صلى الله عليه وسلم من اقتنى كلبا الا كلب ماشية اوضاريا نقص من عمله كليوم قير اطا (

Rasulullah saw bersabda: "Barang siapa menyimpan anjing, kecuali anjing untuk menjaga ternak atau untuk berburu, maka kuranglah dari amalanya setiap hari dua qirat"[4]

Menurut An-Nakhai yang diperbolehkan hanya memperjual belikan anjing pemburu.[5] Dia beralasan dengan hadits Jabir yang diriwayatkan oleh An-Nakhai:
نهى رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم عن ثمن الكلب إلاكلب صيد( 15
Rasulullah SAW melarang harga anjing kecuali anjing pemburu"[6]

Sedang menurut Imam Abu Hanifah, anjing yang dapat dijinakkan, seperti untuk penjagaan, anjing penjaga tanaman boleh diperjual belikan.[7]

Hadits Ibnu Abbas ra.:
رخص رسول الله صلى الله عليه وسلم فى ثمن كلب الصيد(
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah"[8]

Imam Al-Qurtubi sebagaimana dinukil oleh Asy-Syaukani didalam kitab Fath al-Qadir berpendapat: boleh menjual anjing, binatang-binatang buas untuk berburu dan boleh memanfaatkan kegunaan lainya, ini ditunjukkan dengan bolehnya kita memakan hasil buruan semua binatang buas yang telah kita ajari, termasuk anjing dan burung-burung buas lainnya.[9]

Seluruh fuqaha bidang hadits berpendapat haram menjual anjing. Hukum ini mencakup sermua anjing, baik yang kecil maupun yang besar, baik untuk tujuan berburu, menjaga ternak maupun untuk menjaga tanaman.[10]

Kemudian Al-Qadi Abd Al-Wahab menerangkan bahwa sebagian sahabatnya memandang makruh penjualan anjing dan sebagian lagi memandang haram.[11]

Dari uraian diatas dapatlah kita memahami perlunya mengetahui penegasan hukum jual beli anjing beserta pemilikanya yang paling tepat, mengingat semakin banyaknya orang yang melakukan jual beli anjing dan memeliharanya.





[1] Muhammad Idris Asy-Syafi’I, Al-Umm. Al-Umm. (ttp. : Al Kulliyah al-Azhariyah, t.t.) III : 11
[2] Imam Bukhari, Shahih Bukhari. “Kitab Al-Buyu“. “Bab Saman Kalbi” (Beirut : Dar al-Fikr, t.t.), II : 43. Hadits Riwayat Imam Bukhari dari Abi Mas’ud Al-Ansari.
[3] Muhammad Idris Asy-syafi’I. Al-Umm,. hlm. 13.
[4] Al-Baihaqiy, Al-Sunan Al-Kubra, “Kitab al-Buyu”, Bab Ma Jaa Fima Yahila Iqtinauhu min Al-Kalbi, edisi Al-Jauhar An-Naqiy, (ttp. : Dar al-Fikr, t.t.), VI : 9. Hadits dari Nafi’ dari Ibnu Umar 
[5] As-Sayyid Sabiq, Fiqh As-Sunnah,. hlm. 131.
[6] Asy-Syaukaniy, Nailul Autar, (Mesir : Mustafa Al Baby Al-Halabi wa auladuh, t.t.), V : 163.
[7] As-Sayyid Sabiq. Fiqh As-Sunnah. hlm. 131. 
[8] Safwah Al-Saqa (taqdim wa tahqiq). Musnad al-Imam Abu Hanifah. cet. 1, (ttp.: Rabi’ Halabi, 1382 H / 1981 M). hlm. 162. 
[9] Asy-Syaukaniy, Fath Al-Qadir, (Mesir : Mustafa Al-Baby Al-Halaby wa Auladuh, t.t.). II :13. 
[10] Ibnu Qayyim, Zad Al-Ma’ad, (Mesir : Mustafa Al-Baby Al-Halabi wa Auladuh, t.t.), III : 300.
[11] Ibid.
Ads