Hukum Operasi Plastik Menurut Islam

Advertisement
SUDUT HUKUMPada masa modern saat ini, banyak wanita yang melakukan segala cara demi memperoleh predikat cantik. Salah satu cara yang dilakukan yang ngetrend saat ini adalah melakukan operasi kecantikan atau operasi plastik. Dalam bahasa Arab disebut Jirahah al-Tajmil yaitu operasi bedah yang dilakukan untuk memperbaiki penampilan satu anggota tubuh yang tampak atau untuk memperbaiki fungsi dari anggota tersebut ketika anggota tubuh itu berkurang, lepas atau rusak.

Masyarakat beranggapan bahwa operasi plastik hanyalah berorientasi pada masalah kecantikan (estetik) seperti sedot lemak, memancungkan hidung, mengencangkan muka dan lain sebagainya. Akan tetapi ruang lingkup operasi plastik sangatlah luas. Operasi plastik tidak hanya masalah kecantikan saja, melainkan juga rekonstruksi seperti kasus-kasus luka bakar, trauma wajah pada kasus kecelakaan, cacat bawaan lahir, seperti bibir sumbing, kelainan pada kelamin.

Hukum Operasi Plastik Menurut Islam


Dalam kaidah fiqh disebutkan, segala sesuatu itu diperbolehkan sampai ada dalil yang mengharamkan.
Hukum yang pokok dari segala sesuatu adalah boleh, sehingga terdapat dalil yang mengharamkan.

Berdasarkan kaidah ini, maka dibolehkan melakukan sesuatu hal apapun sampai ada dalil atau petunjuk yang menyatakan keharaman melakukan suatu hal tersebut. Maka dari itu, operasi plastik haruslah dilihat dari tujuannya. Jika dilihat dari motifnya, operasi plastik dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu:

Operasi plastik yang bertujuan untuk mempercantik

Kehidupan manusia ketika mengikuti tren atau mode dampaknya sangatlah besar terutama pada kaum wanita terutama di bidang kecantikan. Wanita berlomba-lomba mempercantik diri mereka dengan melakukan operasi plastik yang hanya bertujuan untuk mempercantik diri mereka. Berdasarkan fenomena tersebut, maka para ulama sepakat apabila operasi plastik dilakukan hanya bertujuan untuk mempercantik diri semata, maka hal itu dilarang karena dianggap mengubah ciptaan Allah atau mengubah pemberian Allah.

Allah menyukai keindahan, sehingga Islam membolehkan wanita untuk mempercantik diri dengan catatan tidak boleh berlebihan. Sehingga apabila mempercantik diri sampai mengubah ciptaan Allah, maka hal itu sangatlah dilarang. Jika dipikir secara logika maka tidaklah rugi bagi Allah apabila ada yang melakukan operasi plastik dengan tujuan kecantikan. Karena Allah telah memberikan sesuatu yang baik, kemudian hamba-Nya berupaya agar pemberian itu menjadi lebih baik, tentunya Allah senang karena Allah menyukai sesuatu yang indah.

Persoalan inilah yang perlu disadari, karena tidak semua hal yang dianggap manusia itu baik, belum tentu baik pula dalam pandangan Allah. Mengubah bentuk pada salah satu anggota tubuh yang telah dianugerahkan Allah, merupakan tindakan yang tidak percaya dengan pemberian Allah, bahkan bisa dikatakan sebagai bentuk kehinaan terhadap ciptaan-Nya. Seperti halnya mengubah hidung yang pesek menjadi mancung. Jadi, mengubah ciptaan Allah sangatlah bertentangan dengan kodrat dan irodat-Nya. Manusia harusnya menyadari bahwa sesungguhnya apapun yang telah diciptakan Allah tidak akan ada yang sia-sia.

Allah berfirman:
Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu[33]. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?." Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.

Ayat tersebut secara tersirat menyatakan kepada manusia bahwa Allah menciptakan semua ini tidak ada yang sia-sia. Oleh karena itu apabila ada wanita yang melakukan operasi plastik karena merasa anggota tubuhnya kurang menarik dengan tujuan kecantikan, maka sesungguhnya orang tersebut tidak mengerti bahwa ciptaan Allah itu lebih baik dan bermanfaat baginya. Padahal dalam pandangan Allah, manusia yang memandang pemberian Allah itu kurang menarik, sebenarnya pemberian itu memiliki manfaat yang luar biasa. Seharusnya para wanita mensyukuri segala pemberian Allah dan memberdayakan pemberian tersebut dengan baik.

Firman Allah:
Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telingatelinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya[351], dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya[352]." Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.

Ayat tersebut menegaskan bahwa manusia yang mengubah ciptaan Allah seperti melakukan operasi plastik dengan tujuan kecantikan termasuk perbuatan setan yang dilaknat oleh Allah. Wanita yang melakukan hal seperti ini akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah baik di dunia maupun di akhirat. Sepanjang masa tidak diperbolehkan menginginkan operasi plastik kecuali dengan tujuan menghindari aib yang menyebabkan rasa sakit atau sesuatu yang menyusahkan. Secara umum operasi plastik yang bertujuan mempercantik, tidak untuk menghilangkan aib yang tidak wajar, syariat mengharamkan berdasarkan hadis.
Dari Ibnu Mas‘ud ra. berkata: Allah mengutuk wanita yang tukang tato, yang minta ditato, yang menghilangkan bulu mata, yang dihilangkan bulu mata dan para wanita yang memotong giginya yang semuanya itu dikerjakan dengan maksud untuk kecantikan dengan mengubah ciptaan Allah.

Kutukan itu tidak hanya berlaku pada kaum wanita saja, akan tetapi berlaku juga pada kaum laki-laki. Atau mereka yang meminta orang lain untuk melakukan hal itu pada dirinya. Adapun penyebutan wanita secara khusus sebagai sasaran kutukan, di sini semata-mata karena hal itu umumnya dilakukan oleh para wanita.

Operasi plastik yang bertujuan menghilangkan aib (akibat kecelakaan, cacat dan lain sebagainya).


Operasi plastik yang bertujuan untuk mengobati cacat akibat sakit, misalnya cacat yang timbul akibat penyakit kusta (lepra), kecelakaan dan luka bakar, dan yang lainnya, maka syariat Islam membolehkan si penderita menghilangkan cacat, memperbaiki, atau mengurangi gangguan akibat cacat tersebut melalui operasi. Sebab, cacat itu mengganggu si penderita secara fisik maupun psikis sehingga ia boleh mengambil dispensasi melakukan operasi. Dengan kata lain, setiap operasi yang tergolong sebagai operasi kecantikan yang memang dibutuhkan guna menghilangkan gangguan.

Cacat tubuh atau berubahnya bentuk tubuh karena kecelakaan dalam ilmu ushul fiqh dikategorikan sebagai mudharat. Sedangkan mudharat bisa mengakibatkan ketidakbaikan, yang akhirnya dapat membuat orang yang mengalaminya merasa tidak nyaman dalam beragama. Oleh karena itu, kemudharatan tersebut boleh dihilangkan, misalnya dengan melakukan operasi plastik.

Agama Islam selalu memberikan kemudahan dan tidak mempersulit bagi penganutnya ketika mengalami suatu masalah, apalagi yang dapat membawa kemudharatan. Maka dari itu, berarti operasi plastik diperbolehkan apabila tujuannya untuk menghilangkan kemudharatan. Adapun dalil yang dijadikan sandaran adalah keumuman hadis bahwa Rasulullah bersabda:
Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, kecuali Allah menurunkan obatnya juga.

Apabila terdapat keburukan dalam suatu hal, maka sebenarnya bisa mendatangkan keindahan dalam suatu hal yang lain. Akan tetapi banyak sekali yang memandang keburukan dari satu sisi dan tidak berusaha memperhatikan keindahan dari sudut pandang yang lain. Kecantikan adalah sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah berdasarkan kombinasi dari semua unsur-unsur keindahan pada wajah, mereka seharusnya terpenjara oleh standar-standar kecantikan yang dibuat oleh manusia.

Rujukan: 

  • Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi, Fiqhul Mar’ah al-Muslimah, terj. Ghozi. M, (Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2007).
  • Abu ‘Abdillah Muhammad b. Ismail b. Ibrahim b. Mughirah al-Bukhari, Shahih Bukhari, Juz 4, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1971).
  • Abdul Mujib, Kaidah-kaidah Ilmu Fiqh (al-Qawa’idul Fiqhiyyah), Cet. 2 (Jakarta: Kalam Mulia, 2001).
  • Mohamed Osman el-Khosht, Fiqh an-Nisa’: Fi Dhau’i al-Madzahib al-Arba’ah wa al-Ijtihadah al-Fiqhiyyahal-Mu’ashirah, terj. Abu Ihmadillaha, (Solo: Tinta Medina, 2015).
Ads