Pandangan Annemarie Schimmel Tentang Nabi Muhammad

Advertisement
SUDUT HUKUM | Pandangan Annemarie Schimmel Tentang Nabi Muhammad

Muhammad Teladan Yang Baik

Adat kebiasaan para leluhur merupakan salah satu ukuram kehidupan sosial dalam masyarakat Arab Pra-Islam. Setelah kedatangan Islam, Sunnah daripada pelopor agama mengatur semua aspek kehidupan. Apapun yang bertentangan atau tidak sesuai dengan sunnah yang ditetapkan atau tidak sesuai dengan sunnah yang ditetapkan sebagai contoh oleh Nabi akan dicampakkan, sebab itu barangkali menyesatkan dan membahayakan. Penulis akan menguraikan bagaimana Schimmel memandang umat Islam yang begitu mengagungkan Nabi Muhammad sehingga segala perilaku serta perkataannya senantiasa di ikuti dan dianggap mempunyai nilai moral. Sementara Muhammad dikatakan oleh Schimmel adalah seorang sufi yang sempurna dan merupakan mata rantai pertama dalam rangkaian rohani tasawuf.



Penghormatan kepada Nabi dan perhatian kepada rincian yang paling kecil dari perilaku serta kehidupan pribadinya tambah sejalan dengan semakin jauhnya jarak waktu kehidupan kaum muslim dengan Nabi. Mereka ingin mengetahui secara mendalam tentang kepribadiannya, pandangan-pandangan Nabi dan perkataan-perkataannya, untuk meyakinkan bahwa mereka telah mengikuti dengan cara yang benar.

Pandangan Annemarie Schimmel Tentang Nabi Muhammad
Annemarie Schimmel


Dalam proses peniruan terhadap tindakan-tindakan Muhammad dan aktifitasnya yang disebarkan melalui hadis maka kehidupan Islam mempunyai keseragaman yang unik dalam perilaku sosial, suatu fakta yang telah selalu mengesankan orang-orang yang berkunjung keseluruh bagian dunia muslim.



Schimmel menyadari bahwa Muhammad benar-benar merupakan contoh dan teladn bagi setiap penganut Islam, yang diseru untuk menirunya dalam setiap tindakan dan kebiasaan yang tampaknya remeh akan sama takjubnya melihat cara para sufi mengembangkan doktrin tentang nur (cahaya primordial) Muhammad dan memberikan kepadanya, dalam kedudukannya sebagai manusia sempurna, suatu status dan fungsi yang hampir kosmik. Sebab Muhammad, yang terakhir dari serangkaian Nabi yang dimuali oleh Adam sebagai bapak seluruh umat manusia, adalah yang membawa wahyu penghabisan yang mencakup seluruh wahyu sebelumnya dan sekaligus mengikhtisarkannya dalam kesuciannya yang murni.

Dimasa sekarang ini, kesadaran diri baru kaum muslim telah menjadi suatu kejutan besar di dunia Barat, yang disana Islam telah lama dianggap sudah hampir mati. Kesadaran diri yang baru ini bagaimana juga, telah memaksa dunia Barat untuk mempertimbangkan kembali beberapa gagasan keagamaan dan sosial yang mendasar tentang Islam. Untuk mencapai suatu pemahaman yang lebih baik terhadap nilai-nilai yang telah dan masih merupakan pegangan bagi kaum muslim.



Kedudukan al-Qur’an secara fenomenologi, sejajar dengan kedudukan Kristus dalam agama Kristen. Kristus adalah Inkarnasi firman ilahi, al-qur’an adalah Inlibrasi firman ilahi. Oleh sebab itulah maka kedua perwujudan firman ilahi ini yang harus diperbandingkan, karena baik dalam pengertian teologikal maupun fenomenologikal Muhammad tidak dapat disamakan dengan Kristus dalam agama Kristen, sehingga kaum muslim menolak untuk dinamakan kaum “Muhammad”, yang menurut mereka mengisyaratkan kesejajaran yang keliru dengan konsep orangorang “Kristen”. Muhammad, seperti dalam “Jalan Muhammad”, digunakan dalam kaitan-kaitan khusus, biasanya oleh para sufi yang berusaha menyamai contoh Nabi bahkan melebihi yang lain-lainnya.

Peniruan terhadap tindakan-tindakan dan pemikiran-pemikiran luhur Muhammad, “teladan yang baik”, yang diajarkannya kepada umatnya melalui contoh pribadi, dimaksudkan untuk membentuk setiap orang muslim, seakan-akan seperti Rasul Allah itu. Demikianlah sehingga setiap orang, seperti juga dirinya harus memberikan kesaksian akan keesaan Tuhan melalui semua perbuatan dan eksistensinya.

Kepatuhan kepada Nabi tampaknya telah memainkan suatu peranan penting, dan mungkin paling utama dalam suatu perkembangan tasawuf. Dalam dua kesaksian iman, la ilaha illa Allah Muhammadur rasul Allah, “tidak ada Tuhan kecuali Allah, (dan) Muhammad adalah utusan Allah”, paruhan kedua, yang mendefinisikan Islam sebagai suatu agama yang khas, merupakan seperti yang dinyatakan secara tepat oleh Can’twell Smith, “sebuah pernyataan mengenai Tuhan dalam aktifitasnya di dunia dan bukan tentang pribadi Nabi. Sebab dengan mengutus Nabi-Nya kepada dunia, Nabi adalah menurut Nathan Soderblom, “Suatu aspek dari aktifitas Tuhan”. Muhammad telah di tonjolkan oleh Tuhan ; dia benar-benar orang pilihan, Al-Musthafa, dan karena alasan ini maka sunnahnya, cara hidupnya, menjadi satu-satunya aturan perilaku yang sah bagi kaum muslim. Seperti dikatakan oleh Nabi : “siapa yang tidak mencintai sunnahku tidak termasuk dalam golonganku”. Sebab Muhammad adalah benar-benar sebagaimana dikatakan al-qur’an seorang uswatun khasanah, “teladan yang baik”.

Dalam pengertian teori keagamaan Islam klasikal sunnah Muhammad terdiri atas tindakan-tindakan nya (fi’il), kata-katanya (qawl), dan perseetujuannya yang diam-diam terhadap fakta-fakta tertentu (taqrir). Cara bertingkah lakunya yang dinilai baik atau setidaknya cara yang dianggap cukup baik dan terbukti secara historikal benar menjadi nilai normatif bagi generasi-generasi sesudahnya setidak-tidaknya sejak abad kedua Islam. Dikarenakan pentingnya teladan baik Nabi, ilmu hadis lambat laun menempati kedudukan utama dalam kebudayaan Islam.

Muhammad Rahmat Bagi Alam Semesta

Riwayat-riwayat yang menonjolkan kelembutan dan kebaikan Muhammad selalu mengacu kepada pernyataan al-qur’an bahwa Muhammad di utus “sebagai Rahmat bagi seluruh alam semesta (Q S Al-Anbiya, 21 : 107). Schimmel mengatakan bahwa “kalimat-kalimat al- Qur’an semacam itu merupakan dasar bagi pemuliaan Muhammad yang jauh melampaui penghormatan yang biasanya diberikan kepada seorang Nabi, dan bahkan kini kaum muslim yang taat tidak akan pernah menyebutkan sesuatu yang dimiliki oleh atau berkaitan dengan Nabi tanpa menambahkan atribut syarif (“mulia”).

Meskipun beribu-ribu doa dan syair membicarakan tentang harapan kaum muslim akan upaya penengahan Muhammad untuk diri mereka sendiri dan keluarga mereka, ada satu sarana untuk mencapai tujuan ini yang jauh lebih kuat dibanding yang lain-lainnya : memohon kepada allah agar memberkahi Muhammad dan keluarganya. Al-Qur’an sendiri menyatakan (Q.S 33 : 56) bahwa Allah dan para malaikat-nya “mendoakan”, yaitu bersholawat atas Nabi. Dapatkah orang beriman melakukan sesuatu yang lebih baik daripada mengikuti contoh yang diberikan oleh Allah sendiri ? dalam kenyataannya, Rumi menjelaskan bahwa “perbuatan menghamba dan memuja serta memperhatikan ini, tidak berasal dari kita, dan kita tidak bebas melakukannya, itu milik Allah ; itu bukan milik kita, tetapi milik-Nya. Kalimat shalawat sholla Allahu ‘alaihi wa sallam, “Allah memberkahinya dan memberikan kedamaian kepadanya” dikenal sebagai tashliyah, sholat ‘ala Muhammad atau (dalam bentuk jamak) sholawat syarifah, telah digunakan sejak masa paling awal, dan kaum muslim yang saleh tidak akan pernah menyebut nama Nabi atau mengacu kepadanya tanpa menambahkan kata-kata itu.

Salah satu makna shalawat adalah “rahmat”. Jadi, ketika Allah bershalawat kepada Nabi mengandung arti bahwa dia senantiasa mencurahkan rahmat-Nya kepada Nabi. Dengan demikian, Nabi Muhammad dapat disebut sebagai “manusia rahmat”, karena dalam dirinya selalu tercurah rahmat Allah dan kemudian rahmat tersebut dia sebarkan bagi seluruh umat manusia. Sehingga, dengan demikian layaklah kalau beliau disebut sebagai pembawa “rahmat bagi semesta alam”.

Sementara itu, agar manusia dapat menyerap rahmat Nabi, tidak ada jalan lain kecuali dengan mencintai dan mengikuti teladan beliau. Untuk menanamkan kecintaan kepada Nabi, maka kitapun diperintahkan pula oleh Allah untuk bersholawat kepadanya. Jadi, sholawat atas Nabi merupakan sarana bagi kita untuk menerima curahan rahmat Allah sebagai konsekwensi dari keimanan kepada Allah dan Nabinya.

Kecintaan kita kepada Nabi agar memperoleh rahmat Allah, pertama-tama harus ditujukan kepada kecintaan dan keterikatan kita pada al-qur’an. Dan untuk dapat mengikuti al-Qur’an mestilah mengikuti Nabi. Karena, seperti dinyatakan dalam hadis, akhlak Nabi adalah al-qur’an. Ini mengandung arti bahwa seluruh kepribadian Nabi merupakan gambaran hidup dari al-qur’an, dan dengan demikian ini merupakan bentuk kongret dari pengalaman ajaran Islam.

Kecintaan kepada Nabi dan risalah yang dibawanya harus diikuti dengan kecintaan kepada keluarga Nabi (Ahlul Bait). Al-Qur’an mengatakan, “katakan (hal Muhammad), tidaklah aku meminta upah atas setuanku, melainkan kecintaan kepada keluargaku”. (Q.S Asy-Syuro :23). Ahlul Bait Nabi merupakan pasangan dari Al-Qur’an, kesucian mereka dijamin oleh Allah, sehingga mereka menjadi tolak ukur dalam pengalaman ajaran al-qur’an dan sunnah Nabi Jalaluddin Rakhmat dalam “membuka tirai kegaiban” : Renungan-renungan sufistik “mengatakan”, inilah logika kecintaan yang agung. Dari kecintaan kepada Allah, kita mencintai Rasulullah dari kecintaan kepada Rasulullah, kita mencintai keluarganya. Dari kecintaan kepada keluarganya, kita akan mencintai apa yang mereka cintai”.

Al-Qur’an dan ahlul bait adalah dua rakhmat Allah yang ditinggalkan Nabi kepada kita untuk dijadikan pegangan hidup yang akan menuntun manusia pada jalan keselamatan melalui al-qur’an kita dapatkan kebenaran ajaran dan risalah ilahiah yang dibawa Rasulullah, dan melalui ahlul bait Nabi kita dapatkan contoh nyata penerapan ajaran al-qur’an dan sunnah Nabi secara benar dan konsekwen. Arti dan makna maulid Nabi bagi umat Islam adlah sebagai sarana untuk memupuk dan menanamkan kecintaan kepad Nabi dengan mengingat kembali sejarah perjuangan beliau dan meneladani akhlak serta kepribadian beliau, melalui dua pusaka yang ditinggalkannya. Seorang darwisy Turki abad ke 17 berpantun:
Malam kala rasul lahir Sungguh serupa dengan laylat Al Qadr (malam ketentuan). Yaitu serupa dengan malam ketika Al-Qur’an diwahyukan untuk pertama kalinya. Satu abad kemudian, Mufti Mazhab Maliki Aljazair, Ibn ‘Ammar, mengemukakan tiga hujjah ilmiah untuk gagasan ini : (1) hari kelahiran (maulid) telah mempersembahkan Nabi kepada seluruh dunia, sedangkan Laylat Al-Qadr di khususkan baginya : (2) kehadiran Muhammad lebih penting bagi umat, daripada “turunnya para malaikat” dan (3) Maulid adalah sebuah hari yang sangat penting bagi segenap alam semesta, sedangkan pewahyuan pertama Al-Qur’an dikhususkan bagi orang-orang Muslim saja. Dua pernyataan ini dengan jelas menunjukkan derajat penghormatan kepada Nabi di sepanjang akhir zaman-zaman pertengahan dan betapa hal itu mewarnai kesalehan orang kebanyakan dan ulama.
Ads