Definisi Penistaan Agama

Advertisement
SUDUT HUKUM | Penistaan agama sudah terjadi dari sejak turunnya Al-Qur`an dan berlanjut hingga sekarang. Penghinaan ajaran agama ialah suatu hal/ kegiatan yang mengusik ajaran sakral dalam satu agama. Penistaan agama menjadi topik pembicaraan terhangat di masyarakat Indonesia. Hal ini menyebabkan tantangan yang dihadapi Polisi, MUI bahkan Pemerintah dan masyarakat semakin berat karena disebabkan semakin kompleknya permasalahan yang dihadapi umat Islam di negeri ini. Kebebasan yang tidak terbatas akibat reformasi yang disalah artikan telah melahirkan berbagai sikap dan perbuatan yang jauh menyimpang dari norma- norma agama yang sebenarnya.

Penistaan adalah ucapan atau perkataan yang disengaja dan tidak disengaja atau tindakan komunikasi yang dilakukan oleh suatu individu atau kelompok dalam bentuk provokasi, hasutan, ataupun hinaan kepada individu atau kelompok yang lain dalam hal berbagai aspek seperti ras, warna kulit, etnis, gender, cacat, orientasi seksual, kewarganegaraan, agama, dan lain-lain. Dalam arti hukum, Penistaan & Fitnah adalah perkataan, perilaku, tulisan, ataupun pertunjukan yang dilarang karena dapat memicu terjadinya tindakan kekerasan dan sikap prasangka entah dari pihak pelaku Pernyataan tersebut ataupun korban dari tindakan tersebut. R. Susilo menerangkan bahwa yang dimaksud dari "menista" adalah "menyerang kehormatan dan nama baik seseorang".

Yang terkena dampak hate speech biasanya merasa malu. Menurutnya, penghinaan terhadap satu individu ada 6 macam yaitu:
  1. Menista secara lisan (smaad) Pasal 310 KUHP
  2. Menista dengan surat/tertulis (smaadschrift) Pasal 310 ayat (2) KUHP
  3. Memfitnah (laster) Pasal 311 KUHP
  4. Penghinaan ringan (eenvoudige belediging) Pasal 315 KUHP
  5. Mengadu secara memfitnah (lasterlijke aanklacht) Pasal 317 KUHP
  6. Tuduhan secara memfitnah (lasterlijke verdachtmaking) Pasal 318 KUHP.

Menurut penulis pendapat R.susilo dalam keenam macam tersebut adalah penistaan terhadap satu individu ke individu yang lain, tetapi dalam kasus ini Penulis berpendapat penistaan agama dalam kasus tersebut tidak secara serta merta menjurus individu-individu melainkan suatu kelompok atau sebagian masyarakat, karena pelaku mengutarakan ujaran kebencian tersebut ketika sedang berpidato didepan banyak orang. jadi dapat dipastikan unsur pelanggaran pelaku penistaan agama dalam kasus ini tidak secara individu melainkan umum/publik.

Dalam bahasa Sansekerta istilah agama berasal dari “a” artinya kesini dan “gam” artinya berjalan-jalan. Sehingga dapat berarti peraturan-peraturan tradisional, ajaran, kumpulan bahan-bahan hukum. Pendeknya apa saja yang turun temurun dan ditentukan oleh adaptaasi kebiasaan. Menurut M. Taib Thahir Abdul Muin, agama adalah suatu peraturan yang mendorong jiwa seseorang yang mempunyai akal, memegang peraturan Tuhan dengan kehendaknya sendiri untuk mencapai kebaikan hidup di dunia dan kebahagiaan kelak di akherat.

Menurut Koentjaraningrat, agama merupakan suatu sistem yang terdiri atas empat komponen:
  • Emosi keagamaan yang menyebabkan manusia itu bersikap religius;
  • Sistem keyakinan yang mengandung segala keyakinan serta bayangan manusia tentang sifat-sifat Tuhan, wujud alam gaib, serta segala nilai, norma, dan ajaran dari religi yang bersangkutan;
  • Sistem ritus dan upacara yang merupakan usaha manusia untuk mencari hubungan dengan Tuhan, dewa-dewa atau makhluk halus yang mendiami alam gaib;
  • Umat atau kesatuan sosial yang menganut sistem keyakinan tersebut butir b, dan yang melakukan sistem ritus dan upacara tersebut butir c.

Agama adalah suatu system ajaran tentang Tuhan, dimana penganut-penganutnya melakukan tindakan-tindakan ritual, moral, atau social atas dasar aturan-aturanya. Indonesia bukanlah negara agama,sebab Negara Indonesia tidak didasarkan pada suatu agama tertentu, tetapi Indonesia mengakui eksistensi 5 agama, yaitu agama Islam, Katolik, Protestan, Hindu dan Budha. Islam merupakan salah satu agama yang diakui di Indonesia dan merupakan agama mayoritas penduduk Indonesia. Sebenarnya, masalah keyakinan terhadap suatu ajaran agama adalah urusan hati setiap manusia dan tidak bisa diintervensi siapa pun. Tapi mengubah, menambah, atau menghilangkan ajaran agama yang sudah ada dianut di Indonesia, bukanlah suatu hak asasi manusia yang harus dihormati dan dilindungi, karena itu adalah perbuatan menista suatu agama atau penodaan agama.

Pasal 156 KUHP dalam Surat Edaran Kapolri SE/X/06/2015 Tentang Ujaran kebencian mencakup bahwa penistaan agama adalah:
Barang siapa di rnuka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap suatu atau beherapa golongan rakyat Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. 

Perkataan golongan dalam pasal ini dan pasal berikutnya berarti tiaptiap bagian dari rakyat Indonesia yang berbeda dengan suatu atau beberapa hagian lainnya karena ras, negeri asal, “agama”, tempat, asal, keturunan, kebangsaan atau kedudukan menurut hukum tata negara. Agama adalah dilihat dari sudut muatan atau isi yang terkandung di dalamnya merupakan suatu kumpulan tentang tata cara mengabdi kepada Tuhan yang terhimpun dalam suatu kitab, selain itu beliau mengatakan bahwa agama merupakan suatu ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi.

Hukum pidana positif di Indonesia sesuai dengan penjelasan Surat Edaran Kapolri SE/X/06/2015 dalam pasal 156 KUHP tentang Barang siapa di rnuka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap suatu atau beherapa golongan rakyat Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.  erkataan golongan dalam pasal ini dan pasal berikutnya berarti tiap-tiap bagian dari rakyat Indonesia yang berbeda dengan suatu atau beberapa hagian lainnya karena ras, negeri asal, agama, tempat, asal, keturunan, kebangsaan atau kedudukan menurut hukum tata negara. Penafsiran dan kegiatan tesebut menyimpang kepada agama itu.

Menurut Penulis penistaan agama adalah sebuah penghinaan, celaan, atau penodaan pada suatu agama yang pada dasarnya mengutarakan kebencian atau ketidak sukaan secara lisan maupun secara gambar dengan kesengajaan di tempat umum dengan menyinggung berbagai aspek. Maka Pelaku melanggar Surat Edaran Kapolri SE/X/06/2015 tentang ujaran kebencian dalam Pasal 156 KUHP, jika dilihat Perkataan “menista” berasal dari kata “nista”. Sebagian pakar mempergunakan kata celaan. perbedaan istilah tersebut disebabkan penggunaan kata-kata dalam menerjemahkan kata smaad dari bahasa Belanda. “Nista” berarti hina, rendah, celah, noda.


Rujukan:

  • Aqib Suminto,1989, Refleksi Pembaharuan Islam, 70 Tahun Harun Nasution ,LSAF,Jakarta, 
  • Imam Syaukani dan Titik Suwariyati, 2008, Kompilasi Kebijakan dan Peraturan Perundangundangan Kerukunan Umat Beragama , Puslitbang,, Jakarta, 
  • Ibrahim Gultom, 2010, Agama Muslim Di Tanah Batak, PT.Bumi Aksara, Jakarta, 
  • Koentjaraningrat,1990, Pengantar Ilmu Antropologi ,Rineka-Cipta, Jakarta,
  • Jalaluddin, 2000, Phiscology Agama, Siantar, Jakarta, 
  • R. Soesilo. 1991. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal. Politeia: Bogor, Pasal 310, 310 ayat (2), 315, 317, 318 KUHP.
Advertisement