Trik Agar Diterima Bekerja di Law Firm Papan Atas

Advertisement
Trik Agar Diterima Bekerja di Law Firm Papan Atas

SUDUT HUKUM | Lulus kuliah dengan cepat, lalu bekerja di firma hukum papan atas dengan gaji yang wah, mungkin menjadi harapan bagi banyak mahasiswa (lulusan) fakultas hukum. Namun, untuk direkrut di firma hukum bonafide di Indonesia, mahasiswa (lulusan) hukum harus memperhatikan beberapa hal.

Sejumlah partner dari Assegaf Hamzah & Partners (AHP) dan Hadiputranto Hadinoto & Partners (HHP) – dua firma papan atas di Indonesia - berbagi “bocoran” kepada hukumonline untuk mereka yang ingin bergabung di firma-firma tersebut.

Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan oleh mahasiswa (lulusan) fakultas hukum:

Paham Hukum secara Mendasar

Managing Partner AHP Ahmad Fikri Assegaf mengaku sempat men-survey 20 partner di law firm yang dipimpinnya. Pertanyaan utama adalah, “Apa yang mereka harapkan dari para pelamar kerja di firma ini?”

Jawabannya pun relatif seragam. “Nggak ada yang susah-susah seperti bilang harus ahli di hukum keuangan atau pengetahuan mendalam di hukum pasar modal atau ahli arbitrase. Nggak ada!” ujarnya, akhir Juni lalu.

“Semua (para partner,-red) cuma mencari orang yang paham ilmu dasar hukum. Artinya, dia memahami betul substansinya,” ungkapnya.

Fikri mengatakan yang dicari oleh firma-nya adalah orang yang belajar perlahan-lahan. Dia akan jadi ahli setelah dua atau tiga tahun bekerja, kemudian menentukan bidang hukum spesifik yang akan digeluti. “Yang kita cari itu amat sangat basic,” ujarnya.

Dihubungi terpisah, Managing Partner HHP Erwandi Hendarta juga memiliki kriteria yang sama. “Kalau kita tes itu adalah pengetahuan yang basic. Artinya begini, pengetahuan mengenai hukum perseroan terbatas, terus pengetahuan mengenai KUHPerdata. Nah, itu yang cukup general,” ungkapnya kepada hukumonline, awal Juli lalu.

Erwandi mengatakan saat di-interview di HHP, pelamar tidak akan ditanya hal-hal yang spesifik. “Karena tes itu kan bukan kayak tes ujian mau masuk universitas. Kita cuma mau tahu kira-kira orang ini tahu nggak hal-hal yang pokok di dalam masalah hukum,” tambahnya.

“Karena kita bergerak di bawah hukum korporasi, tentunya hukum yang bersangkutan dengan korporasi itu yang lebih kita berikan tesnya. Jadi general.  Karena kita tahu, kalau orang itu mau lebih spesifik, tentunya nanti kita dididik di dalam, bukan pengetahuan di luar,” ungkapnya.

Dapat Berpikir Sistematis dan Logis

Kriteria selanjutnya adalah mampu berpikir secara sistematis dan logis. Fikri mengatakan pelamar yang sangat diharapkan di firmanya adalah dapat berpikir sistematis. “Kalau dia bisa menulis dua paragraf secara concise (ringkas,-red) dan jernih, dia sudah bagus,” ujarnya.

Fikri mengatakan setiap meng-interview para pelamar, maka yang ditanya adalah skripsi yang mereka buat. Di sana, pelamar akan diminta untuk bercerita sedikit menganai apa yang ditulisnya.
“Kita harus tahu betul apa yang kita tulis. Seringkali nggak bisa. Nggak tahu apa yang ditulis. Atau (skripsi,-red) dibikinin. Atau nggak punya kemampuan untuk presentasi,” ujarnya.

Sedangkan, Erwandi mengatakan logika adalah poin penting ketika menerima seseorang masuk ke HHP. “Pertama dari segi pengetahuan, dan yang lebih penting itu dari segi logika,” ujarnya.
Di HHP, lanjutnya, tes masuk dalam bentuk menulis essay untuk mengetahui logika pelamar apakah runtut atau tidak. “Karena kalau dari pengetahuan, orang menghapal saja cukup. Nah, padahal kan menghapal nggak cukup ya. Karena itu yang selalu kita lihat itu adalah mengenai pengetahuannya plus logikanya,” jelasnya.

“Kadang-kadang jawabannya salah, tapi logikanya bagus. Kita bilang wah ini anak bagus ini logikanya,” tambahnya.

Bisa Berbahasa Asing

Kriteria lain, kemampuan berbahasa asing. Bahasa Inggris merupakan bahasa yang ‘wajib’ dimiliki bila seseorang ingin bekerja di firma hukum besar layaknya AHP dan HHP. Apalagi, klien firma-firma hukum semacam ini kebanyakan perusahaan-perusahaan asing.

Fikri menjelaskan di AHP, 50 persen klien adalah asing. Oleh karena itu, para lawyer harus menguasai bahasa mereka. “Kemampuan berbahasa inggris paling umum. Bahasa Jepang dan Mandarin nilai plus yg signifikakan,” ungkap Fikri.

Bahasa asing, khususnya Inggris, juga menjadi sorotan penting di HHP. Erwandi menilai kemampuan berbahasa Inggris merupakan persyaratan technical yang tak bisa ditawar-tawar lagi. “Kita mau continue sebagai law firm yang modern dan global,” ujar Erwandi.

Memiliki Passion Tinggi

Selanjutnya, Erwandi mengaku sangat menghargai pelamar yang memiliki passion atau semangat yang tinggi. Ini bisa dilihat ketika proses interview. Biasanya, Erwandi akan bertanya, “Kamu sebetulnya punya bayangan nggak mau jadi lawyer itu? Mau jadi lawyer apa karena kan bidang kita banyak?”

Dari pertanyaan singkat ini, ada yang menjawab, “Apa aja sih”. Jawaban seperti ini sudah pasti tidak akan “menarik” hati para partner.  “Bandingkan dengan orang kalau diinterview dia langsung bilang ‘oh saya sudah cek website HHP ini, bapak itu punya capital market, commercial, banking. Saya pengen tanya pak, capital market itu kerjanya apa aja? Banking kerjanya apa aja?’”.
Dari jawaban di atas, lanjut Erwandi, para partner sudah bisa melihat orang tersebut memiliki keingintahuan yang besar. “Wah, dia passionate nih karena dia benar-benar pengen jadi lawyer HHP,” ujarnya.

Erwandi menambahkan bahkan ada yang lebih “menarik hatinya” ketika pelamar sudah melakukan riset kecil-kecilan sebelum interview. Misalnya, ketika Erwandi memperkenalkan dirinya, “Saya Erwandi”, lalu sang pelamar langsung memotong, “Oh saya tahu bapak. Saya sudah baca CV Bapak. Bapak kan kerja di Bank Indonesia kan? Bapak ini ini ini..”

“Itu juga menunjukan passion. Karena dia “do the homework” kan? Udah riset duluan,” ujarnya.

Memiliki Pengalaman Organisasi

Selain itu, kegiatan extrakurikuler dan pengalaman organisasi di kampus juga bisa menjadi nilai tambah. “Karena kan kita kerja di bidang service ya, service industry, kita berhadapan dengan klien, dengan orang. Nah, kalau dia IPK-nya 4 kan bisa-bisa kutu buku,” ujarnya.

Itu tentu bisa mengkhawatirkan ketika bagaimana dia bergaul dengan klien. Oleh karena itu, ia juga meilihat pengalaman organiasi, baik nasional maupun internasional, seperti ikut moot court atau tidak. “Itu kan menunjukkan orang ini tidak hanya pintar tetapi juga aktif untuk sisi-sisi yang lain,” ujarnya.

Reputasi Sekolah yang Bagus

Sedangkan, Partner AHP yang mengurus Rekrutmen, Eko Basyuni mengatakan latar belakang sekolah dari pelamar juga kerap menjadi perhatian di firma tersebut. “Kalau sekolah sih, pastinya sekolah yang punya reputasi bagus gitu ya,” ujarnya ketika dihubungi awal Juli lalu.

“Kayak UI definitely itu punya reputasi bagus yang kita akan consider. Terus sebenernya ada universitas negeri lain di Indonesia. Kita tuh ada dari UGM, dari UNDIP, dari Hasanudin itu ada,” tambahnya memberi contoh.

Tak hanya dari Fakultas Hukum Universitas negeri, dari swasta pun juga ada yang dinilai bereputasi bagus di AHP. “Swasta juga oke sih kayak yang dari Trisakti, UPH (Universitas Pelita Harapan,-red), Atmajaya, itu juga ada di kita. Jadi kalau dari yang punya reputasi baik lah itu oke,” pungkasnya. /*hukumonline.
Advertisement