Hikmah Puasa

Advertisement
SUDUT HUKUM | Hikmah puasa terlalu banyak untuk bisa diungkap lewat kata. Setiap orang tentu akan merasakan hikmah tersendiri, yang boleh jadi belum tentu dirasakan dengan rasa yang sama oleh orang lain. Sebab hikmah itu bukan dorongan atau motivasi, melainkan apa yang secara subjektif seringkali didapat oleh orang, secara tidak sama.

Hikmah Puasa


Agar Dapat Meningkatkan Rasa Syukur

Ibadah puasa bisa meningkatkan rasa syukur kita atas beribu dan beragam nikmat yang telah Allah STW curahkan. Sesungguhnya nikmat dari Allah itu tidak pernah bisa diukur dengan ukuran apapun, lantaran terlalu besar dan tidak pernah terputus.

Sayangnya jarang diantara manusia yang mau bersyukur, sebagaimana sindiran Allah di dalam Al-Quran:
Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih. (QS. Saba’ : 13)
Maka salah satu cara jitu untuk bisa membangkitkan rasa syukur kepada Allah SWT itu disiasati dengan cara berpuasa. Dimana dalam puasa itu kita akan merasakan lapar dan haus serta kelemahan yang banyak. 

Dengan berpuasa itulah kita akan merasakan derita sejenak saja, bahwa kalau Allah SWT tidak memberi kita makanan dan minuman, tentu rasanya tidak enak dan tersiksa.

Sarana Taqwa

Salah satu hikmah berpuasa yang ditegaskan Allah SWT lewat kalam-Nya yang suci adalah agar seseorang bisa meniti jalan menuju taqwa.
Wahai orang yang beriman, diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaiman telah diwajibkan kepada umat sebelummu agar kamu bertaqwa.” (QS Al-Baqarah : 183)
Memang ada banyak jalan menuju taqwa, tetapi puasa adalah salah satu jalannya yang secara eksplisit disebutkan di dalam Al-Quran.

Menahan Syahwat

Salah satu hikmah dari puasa adalah menahan hawa nafsu dan syahwat. Bukan hanya nafsu makan dan minum, tetapi juga nafsu-nafsu yang lainnya, dimana memang Allah SWT telah melarangnya dalam kehidupan.

Manusia adalah makluk yang Allah SWT ciptakan paling akhir, jauh setelah Dia menciptakan alam semesta dan isinya, bahkan setelah penciptaan para malaikat dan jin. Meski demikian, ternyata justru amanah untuk menjadi khalifah justru diserahkan kepada manusia.

Kenapa demikian?
Salah satu pertimbangannya adalah karena manusia punya beberapa kelebihan, sekaligus juga kekurangan. Di antara kelebihan manusia adalah Allah SWT jadikan tubuhnya sempurna, lengkap dengan akal yang bisa elakukan analisa, kajian, modifikasi, nalar, mengembangkan budaya dan peradaban. Manusia juga dilengkapi moral serta insting.

Namun di balik kelebihan manusia, ternyata juga ada kelemahan. Dan salah satu titik lemah manusia yang paling sering menjadi sumber celaka bagi manusia adalah nafsu dan syahwat, yang terkadang tidak mampu dibendungnya. Tidaklah Adam alaihissalam melanggar larangan memakan buah dari pohon di surga kecuali karena dorongan nafsu dan syahwatnya. Tidaklah anak Adam tega membunuh saudaranya kecuali karena dia tidak mampu menaham gejolak nafsu dan syahwatnya. Dan tidaklah manusia di muka bumi saling berbunuhan dengan sesamanya, kecuali juga karena faktor nafsu dan syahwatnya.

Intinya, nasfu dan syahwat itu selalu mengajak manusia ke arah keburukan, sebagaimana firman Allah SWT:
Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan (QS. Yusuf : 53)
Dari ‘Alqamah ia berkata: ketika saya berjalan bersama Abdullah r.a. ia berkata: Kami bersama Rasulullah saw lalu beliau bersabda: “Barangsiapa diantara kalian yang sanggup maka menikahlah karena ia dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu maka hendaknya ia berpuasa karena ia merupakan wijâ’. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, an-Nasai dan at-Tirmidzy).
Wijâ’ artinya mengekang testis atau mengekang pembuluh darahnya sehingga menahan syahwat.
Puasa adalah perisai api neraka sebagaimana perisai kalian dalam peperangan. (HR. al-Khuzaimah)
Untuk bisa menaklukkan hawa nafsu, seorang hamba diajarkan caranya, salah satunya dengan disyariatkannya ibadah puasa.

Dalam ibadah puasa, sesuatu yang hukumnya halal, untuk sementara diharamkan. Makanan dan minuman yang hukumnya halal, untuk beberapa jam menjadi haram hukumnya. Istri yang dinikahi secara sah, untuk beberapa jam lamanya diharamkan untuk digauli.

Mereka yang sudah terbiasa berpuasa, tentu akan terlatih jiwanya untuk menahan gejolak syahwat dan nafsunya dari apa yang telah Allah haramkan.

Melahirkan Kasih Sayang

Puasa juga melatih manusia untuk bisa menumbuhkan rasa kasih sayang kepada sesama. Sebab di dalam puasa itu, seorang yang kaya dan berkecukupan, dipaksa untuk merasakan bagaimana tidak enaknya menjadi orang yang tidak punya.

Ada rasa kebersamaan yang perlahan-lahan muncul manakala seseorang sering ikut merasakan tidak enaknya menjadi orang yang miskin. Pada gilirannya, puasa bisa menumbuhkan rasa kasih dan sayang di hati orang yang terbiasa hidup mewah.

Memboikot Setan

Hadits tentang dibelenggunya syetan di dalam bulan Ramadhan adalah hadits yang shahih menurut Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim.
Dari Abu Hurairah radiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW telah bersabda, “Apabila bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu surga akan dibukakan dan pintu-pitu neraka akan ditutup serta syetan-syetan akan dibelenggu.” (HR Bukhari Muslim)

Puasa juga bisa memboikot setan dari berbagai macam aktifitasnya. Sebab ketika seorang dalam keadaan puasa, nafsunya menjadi lemah, amarahnya mereda, egonya pudar, dan kesabarannya bertambah tebal.

Semua sikap itu jelas-jelas menjadi penghalang dari setan untuk menjalankan programnya. Sebab jerat-jerat yang dipasangnya menjadi tidak berguna. Ibarat orang memancing ikan, sudah lelah menunggu seharian, umpannya tidak sedikit pun dicolek oleh ikan-ikan, lantaran ikannya lagi puasa.

Maka wajar kalau Rasulullah SAW menggambarkan bahwa di bulan Ramadhan itu setan-setan terbelenggu tangannya. Salah satu penafsirannya adalah kesempatan setan untuk menjalankan misinya menjadi terboikot, seperti seorang penjahat yang dibelenggu tangannya.