Jenis-jenis Pencemaran Udara Lintas Batas

Advertisement
Sebagai titik awal dari klasifikasi klasik tentang tingkat-tingkat berbeda dari perjalanan pencemaran udara di atmosfer. Hal ini meliputi (Joseph H Alcamo dan Eliodoro Runca.1986:1-2):
  • Microscale (skala lokal), yang memiliki dimensi dengan jarak kira-kira sebesar lapisan perbatasan planet. Struktur yang berjalan dalam jarak ini biasanya berlangsung hingga beberapa menit;
  • Mesoscale, berjarak beberapa ratus kilometer. Perjalanan atmosfer dalam jangkauan ini berlangsung hingga satu hari;
  • Synotic scale, mencapai hingga seribu kilometer dan berlangsung antara satu hingga lima hari.

Tipe-tipe micro dan meso (pada tingkat rendah) dikategorikan pencemaran udara tingkat lokal, sebagai contoh pada Karbon Monoksida (CO) dalam jumlah besar dan Photooksidan dikarenakan kendaraan bermotor dan naiknya konsentran Sulfur Dioksida (SO2) dari pembakaran batu bara secara domestik. Dua contoh terkenal masalah pencemaran udara tingkat global adalah efek rumah kaca yang berhubungan dengan peningkatan Karbon Dioksida (CO2) di dalam atmosfer, dan adanya kemungkinan penipisan lapisan ozon yang dikarenakan Choloro-Fluoro- Carbons (CFC) dan emisi Nitrogen Oksida (NO). Skala meso (pada tingkat tinggi) dan synotic, adalah pencemaran udara lintas batas. Apabila terdapat perbatasan politik di antara jangkaun pencemaran, maka hanyalah sebuah pencemaran udara skala regional. Sebab itu, skala meso (pada tingkat tinggi) dan synotis memiliki aspek politik di dalamnya.

Pencemaran udara lintas batas negara dapat dibedakan berdasarkan unsur-unsur yang terkandung di dalamnya maupun berdasarkan akibatnya. Dijelaskan oleh Joseph H. Alcamo dan Eliodoro Runca (1986:2) bahwa ada beberapa unsur pokok pencemaran udara lintas batas, yaitu masuknya Sulfur dioksida (SO2), Sulfat (SO4), Nitrogen dioksida (NO2), Ozon (O3) dan unsur gas berat lainnya, seperti timah hitam, nikel dan jenis-jenis besi lainnya. Penting ditegaskan bahwa unsurunsur tersebut dapat dengan mudah dan tidak termasuk menjadi pencemaran secara jarak jauh tergantung bagaimana keadaan lapisan atmosfer, seberapa kuat angin yang meniup di daerah tersebut dengan kekuatan yang lebih dominan. Jika gas-gas tersebut lebih kuat maka udara akan kotor dan akan terjadi pencemaran udara.

Karena mobilitasnya, udara lebih mudah tercampur dan dibawa oleh angin. Variasi apapun yang terpenting dalam stabilitas atmosfer akan memberikan efek pada manusia. Ada tiga dimensi (Park, Chris. 2001:226-227), yaitu (1) variasi dari tempat ke tempat; (2) variasi dengan berat dalam atmosfer; dan (3) variasi waktu terjadi. Hal inilah yang menyebabkan pencemaran udara memberikan dampak buruk terhadap lingkungan global.