Keadaan Memaksa (overmach)

Advertisement
Seseorang yang tidak dapat membuktikan bahwa tidak terlaksanya prestasi bukan karena kesalahannya, diwajibkan membayar gantirugi. Sebaliknya orang tersebut bebas dari kewajiban membayar gantirugi, jika ia dalam keadaan memaksa tidak memberi atau berbuat sesuatu yang diwajibkan atau telah melakukan perbuatan yang seharusnya ia tidak lakukan.

Keadaan memaksa adalah suatu keadaan yang terjadi setelah dibuatnya perjanjian, yang menghalangi seseorang untuk memenuhi prestasinya, dimana orang tersebut tidak dapat dipersalahkan dan tidak harus menanggung resiko serta tidak dapat menduga pada waktu persetujuan dibuat. Keadaan memaksa menghentikan bekerjanya perikatan dan menimbulkan berbagai akibat yaitu:

  1. Penggugat tidak dapat lagi memintai pemenuhan prestasi;
  2. Tergugat tidak lagi dapat dinyatakan wanprestasi, dan karenanya tidak wajib membayar ganti rugi;
  3. Resiko tidak beralih kepada tergugat;
  4. Penggugat tidak dapat menuntut pembatalan pada persetujuan timbal-balik.
Mengenai keadaan memaksa ada dua teori, yaitu teori obyektif dan teori subjektif:
  • Menurut teori obyektif, Tergugat hanya dapat mengemukakan tentang keadaan memaksa, jika pemenuhan prestasi bagi setiap orang mutlak tidak mungkin dilaksanakan, misalnya penyerahan sebuah rumah tidak mungkin dilaksanakan karena rumah tersebut musnah akibat bencana tsunami.
  • Menurut teori subyektif terdapat keadaan memaksa jika Tergugat yang bersangkutan mengingat keadaan pribadinya tidak dapat memenuhi prestasinya. Misalnya, A pemilik industri kecil harus menyerahkan barang kepada B, dimana barang-barang tersebut masih harus dibuat dengan bahanbahan tertentu, tanpa diduga bahan-bahan tersebut harganya naik berlipat ganda, sehingga jika A harus memenuhi prestasinya ia akan menjadi miskin, dalam hal ini ajaran subyektif mengakui adanya keadaan memaksa, akan tetapi jika menyangkut industri besar maka tidak terdapat keadaan memaksa.

Keadaan memaksa dapat bersifat tetap dan sementara, jika bersifat tetap maka berlakunya perikatan berhenti sama sekali, misalnya barang yang akan diserahkan diluar kesalahan Tergugat terbakar musnah, sedangkan keadaan memaksa yang bersifat sementara berlakunya perikatan ditunda. Setelah keadaan memaksa itu hilang, maka perikatan bekerja kembali, misalnya larangan untuk mengirimkan suatu barang dicabut atau barang yang hilang ditemukan kembali.