Sejarah Kebakaran Hutan di Indonesia

Advertisement
Hutan hujan tropis merupakan suatu lingkungan alami di sebagian besar Asia Tenggara, mencakup hingga 6% dari seluruh hutan di dunia dan tumbuh subur dengan kondisi curah hujan yang lebat, tingginya temperatur, dan kelembaban yang membuat hutan tropik kurang terancam kebakaran (Asian Development Bank.2000:2). Kebakaran hutan sudah mulai terjadi di Asia Tenggara sejak zaman Pleistocene dimungkinkan karena adanya masa berkurangnya curah hujan, di mana dalam masa itu cukup lama hutan menjadi kering dan rawan.

Penelitian terhadap arang dari tanah Kalimantan menunjukkan bahwa hutan telah terbakar secara berkala dimulai. Setidaknya sejak 17.500 tahun yang lalu. Kebakaran besar kemungkinan terjadi secara alamiah selama periode iklim yang lebih kering dari iklim saat itu. Namun manusia juga telah membakar hutan lebih dari 10 ribu tahun yang lalu untuk mempermudah perburuan dan membuka lahan pertanian. Catatan tertulis satu abad yang lalu dan sejarah lisan dari masyarakat yang tinggal di hutan membenarkan bahwa kebakaran hutan bukanlah hal yang baru bagi hutan Indonesia.

Akhir-akhir ini perubahan iklim dalam jangka panjang disebabkan oleh Fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO) telah secara bertahap menjadikan kondisi makin rawan terhadap kebakaran bagi hutan tropis. El Nino diambil dari bahasa Spanyol yang artinya anak kristus. Fenomena ini adalah suatu fenomena kelautan dalam waktu-waktu tertentu di mana suatu pemanasan yang kuat dan berkelanjutan terjadi di laut bagian atas pasifik timur, hal ini dapat mengacaukan keadaan cuaca secara global. Efek dari El Nino mengakibatkan menguatkan arus laut panas yang mengganggu mekanisme cuaca.

Seperti halnya negara lain, sumber pencemaran udara di Indonesia terkombinasi antara faktor manusia yang melakukan aktivitas dan kebijakan serta aktivitas alam. Hasil kajian Center for International Forestry Research (CIFOR) menunjukkan bahwa kebakaran hutan yang terjadi setiap tahun di Indonesia merupakan dampak kompleksitas jaring kemiskinan dan pembangunan serta tata pemerintahan (Suparto Wijoyo.2002:626). Kebakaran hutan dari kebijakan dan regulasi pemerintah terhadap manajemen hutan di tahun 1970an, Indonesia menderita karena kehilangan hutan sebanyak 2,4 juta hektar setiap tahunnya. 

Semenjak pemerintah membuka kebijakan baru mengenai industri kayu di berbagai pulau, seperti Kalimantan, Sumatra dan kepulauan Maluku dan kepulauan lainnya, kebakaran hutan menjadi hal yang biasa. Dalam hal ini lebih dari 278 perusahaan kayu mendapat kelonggaran dari pemerintah dalam menggunduli hutan. Rata-rata 8.630 kilometer persegi hilang di tiap tahunnya antara 1982 dan 1992. hasilnya lebih dari setengah hutan di Kalimantan gundul dan terjadi kerusakan (Michael S Serrill dalam La Ode M.Syarif.2001:31-33).