Hargai dan Terapkan Aset Bangsa

Advertisement
SUDUT HUKUM | Istilah yang secara tradisional diberikan pada suatu teknik pemakaian Bahasa sebagai seni, yang didasarkan pada suatu pengetahuan yang tersusun baik sering disebut sebagai retorika. Pemakaian Bahasa yang kerap kali menjadi sorotan antara satu orang dengan orang lainnya ini, mampu memberikan kesan tersendiri bagi pembicara maupun pendengarnya. Mengingat Bahasa adalah suatu bahan yang digunakan secara universal secara perorangan, maka kedudukan Bahasa juga semakin tinggi jika dilihat dari indikator ciri dan fungsinya. Namun teramat disayangkan, kini pemakaian Bahasa tidak lagi menjadi prioritas utama bagi penggunanya. 

Di Indonesia saat ini contohnya, beberapa kaum intelektual telah dengan mudah menggunakan Bahasa tidak pada konteks dan situasi yang sedang terjadi, yang akibatnya mereka pun menjadi salah satu yang dirugikan atas ucapan yang telah dilontarkannya tersebut. Dampak lain yang terlihat ialah para pemakai Bahasa itu pula yang banyak dicari oleh golongan masyarakat-masyarakat tertentu, dan keadaan itu semakin diperparah dengan argumentasi-argumentasi lain yang datang entah dari mana. Sebenarnya ketika melihat kondisi masyarakat yang sekarang ini, seharusnya mereka tidak perlu berbicara yang itu di luar pengertian masyarakat secara umum dan golongan-golongan tertentu secara khususnya. 

Bukan menakuti, melainkan jika pemakaian Bahasa secara terus-menerus tidak diimbangi dengan kualitas bebahasa yang baik dan benar serta kecakapan menyampaikan Bahasa yang sesuai konteks dan situasi pendengar maupun pembaca, maka akan berakibat fatal bagi keberlangsungan sosial di masyarakat kita ini. Melihat perkembangan dan pergeseran ini, tentunya akan menjadi tugas panjang bagi Indonesia sendiri untuk membenahi kualitas-kualitas berbahasa dari masyarakatnya, terutama orang-orang yang dilihat sebagai panutan oleh masyarakat lainnya.

Kegiatan berkomunikasi tidaklah mudah untuk dapat disampaikan kepada yang berhak mendengarnya. Setiap yang akan berbicara maupun yang terlibat dalam kegiatan berkomunikasi itu, setidaknya berusaha benar agar yang disampaikan dapat dipahamai dan dimengerti secara penuh bukan hanya setengah-setengah, serta di samping itu pula mereka harus dapat memahami orang lain. Cara ini akan dapat menjalin komunikasi yang maksimal dan terbebas dari penalaran yang salah dari perorangan yang mendengarkannya. Tiap-tiap Bahasa yang dikomunikasikan seseorang pastilah memiliki satu gagasan atau ide yang disampaikan dengan maksud untuk memberikan informasi secara terbuka kepada seseorang lainnya. Sehingga untuk mampu memahami dan mengerti pendengar maupun pembaca informasi tersebut, maka seseorang perlu melihat konteks dan situasi yang sedang terjalin satu sama lain. Jika memang tidak memungkinkan untuk dilangsungkan, maka sebaiknya hanya melibatkan pikiran bukan emosi yang diunggulkan.

Hal lain yang diperhatikan ialah pilihan kata yang dipakai seorang komunikator atau pembicara. Jika telah masuk dalam persoalan ini, maka pembicara atau orang yang akan menyampaikan informasi secara tidak langsung memiliki bentuk karakteristik pemakaian Bahasa yang berbeda dengan orang lainnya. Tentunya perbedaan tersebut yang memberikan kesan artistik tinggi terhadap pengguna bahasa. Pemakaian Bahasa tidak hanya secara lisan namun juga secara tertulis, yang ini merupakan alat bagi setiap orang untuk menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan baik dalam bentuk kepentingan pribadi bahkan kepentingan bersama. 

Kemudian, tentang cara seseorang melisankan ataupun menuliskannya itu bergantung pada penguasaan kosa kata yang dipelajari oleh masing-masing. Penggunaan kata yang membentuk Bahasa ini, tidak terlepas dari makna yang belum dan akan direalisasikan. Kata yang mampu diucapkan secara lisan dan ditulis dengan bentuk tulisan, masing-masing memiliki bentuk, isi, dan ekspresi yang dikemukakan secara tersirat bahkan tersurat. Yang artinya dalam kemampuan manusia untuk melakukan komunikasi antara satu orang dengan orang lainnya adalah berdasarkan pengetahuan dan konsep penerimaan informasi tersebut. Sehingga di era sekarang ini, kita sebagai masyarakat Indonesia setidaknya dapat memahami dan mengerti maksud kosakata-kosakata yang diujarkan oleh lawan bicara kita, agar ke depannya tidak ada lagi keterbatasan ruang komunikasi antara masyarakat yang satu dengan golongan-golongan masyarakat lain serta masing-masing dari kita pun tidak lagi dengan mudah dapat terpengaruh konsep-konsep pemakaian Bahasa yang merugikan keberlangsungan aspek sosial di dalam masyarakat, terutama bangsa Indonesia sendiri.
Secara alamiah, bangsa Indonesia tumbuh sebagai hasil interaksi antara masyarakat Indonesia yang majemuk (bahasa, agama, ideologi, budaya, dan sejarah yang sama) yang kemudian itu menjadi pembeda dengan bangsa yang lain. Hal tersebut semakin membuktikan bahwa salah satu dari pemersatu persatuan bangsa ini adalah Bahasa. 

Oleh karenanya, sangatlah penting dalam membiasakan kepemilikan Bahasa ini sebagai aset mutlak yang harus dijaga dan dilestarikan benar. Karena dengan kita sebagai masyarakat Indonesia mampu memiliki Bahasa secara utuh, maka secara tidak langsung kita telah menghargai apa yang telah ada di bangsa kita sendiri.

/*Oleh
Nur Asiyah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang

Nur Asiyah
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Malang