Ads

Biografi Abdurrahman Wahid

advertisements"
Kehadiran Abdurrahman Wahid ditengah-tengah masyarakat Indonesia saat ini (Presiden RI ke-4), tidak lain disebabkan oleh kualitas pribadinya yang luar biasa, disamping faktor keluarga yang sangat mendukung. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), adalah cucu dari dua serangkai pendiri Nahdlatul Ulama’ (NU). Bapaknya KH.A. Wahid Hasyim adalah putra Kyai Hasyim Asy’ari dan ibunya Shalihah, adalah putri Kyai Bisri Syamsyuri. Sejak kanak-kanak Ibunya diberi isyarat bahwa Abdurrahman Wahid, anaknya kelak akan mengalami garis hidup yang berbeda dan memiliki kesadaran penuh akan tanggungjawab terhadap organisasi NU.

Menjelang remaja tanggungjawab tersebut secara dramatis meningkat, setelah kematian Wahid Hasyim ayahnya dalam kecelakaan mobil, dan saat kecelakaan terjadi Abdurrahman Wahid duduk disamping ayahnya, di jok depan. Setelah kematian ayahnya (usia 40 tahun), ada sesuatu yang terasa berubah secara tajam, yaitu bahwa Abdurrahman Wahid mulai sepi dari orangorang penting negeri ini.

Biografi Abdurrahman Wahid


Abdurrahman Wahid dilahirkan pada tanggal 4 Agustus 1940, di Jombang, Jawa Timur, dengan nama Abdurrahman al-Dakhil, dan ayahnya adalah KH. A. Wahid Hasyim, menteri agama R.I pertama dan aktif dalam panitia sembilan yang merumuskan piagam Jakarta. Dalam tradisi keturunan ulama-ulama atau kyai di Jawa, anak seorang kyai disebut Gus, maka Abdurrahman Wahid akrab dipanggil Gus Dur.

Meskipun berasal dari keluarga santri, sebagian pendidikan formal Abdurrahman Wahid, ditempuh disekolah-sekolah sekuler. Ia lulus sekolah rakyat (SR) di Jakarta tahun 1953. Kemudian melanjutkan pendidikannya pada Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) Yogyakarta, tahun 1953-1957. Dikota ini ia tinggal dirumah salah seorang anggota Majlis Tarjih Muhammadiyah, KH. Junaidi.

Pergaulan dengan beberapa tokoh lintas NU ini telah membuka cakrawala Abdurrahman Wahid dalam memandang komunitas keberagamaan lain yang perlu dihormati. Dan bisa hidup sejajar secara humanis membangun kehidupan bersama yang penuh keadilan dan demokratis.

Dari tahun 1957-1959 ia belajar di pesantren Tegal Rejo Magelang dan kemudian pindah ke pesantren Mu’allimat Jombang sampai tahun 1963. Kemudian ia juga pindah ke pesantren Krapyak Yogyakarta, dan menetap dirumah tokoh terkemuka KH Ali Ma’sum. Disamping karena faktor keturunan ulama dan juga gesekan-gesekan intelektual dan sosial inilah, Gus Dur tumbuh menjadi tokoh yang cerdas, berwawasan luas dan menjadi pemikir yang inklusif dan pluralis. Bisa disebut sebagai tokoh yang berfikir, berbuat dan berprilaku diluar jangkauan manusia sezamannya.

Pada tahun 1964, Abdurrahman Wahid meninggalkan tanah air menuju Kairo Mesir, untuk belajar ilmu-ilmu agama di Ma’had Al-Dimsat Al-Islamiyah yang berada dilingkungan Al-Azhar Islamic University. Barangkali tidak terlalu mengejutkan jika Gus Dur sangat kecewa dengan atmosfir intelektual di Al-Azhar yang memadamkan potensi pribadi karena tehnik pendidikannya yang masih bertumpu pada kekuatan hafalan. Sebagai gantinya, ia kerap menghabiskan waktunya disalah satu perpustakaan yang lengkap di Kairo, termasuk American University Library.

Biarpun pada satu sisi ia kecewa dengan Al-Azhar sebagai lembaga, namun disisi lain ia tetap menikmati kehidupan kosmopolitan Kairo, bahkanberuntung karena terbukanya peluang untuk bergabung dengan kelompokkelompok  diskusi yang kegiatan tukar pikiran yang umumnya diikuti para intelektual Mesir. Dari Kairo lalu ke Bagdad, di Bagdad ia lewati dengan penuh bahagia, karena ia mempelajari sastra Arab, filsafat dan teori sosial Eropa, disamping terpenuhinya hobi dia untuk menonton film-film klasik.

Tahun 1971 ia mampir ke Eropa dengan harapan memperoleh penempatan University, tetapi sayang, ternyata kualifikasi mahasiswa Timur Tengah tidak diakui oleh Universitas-Universitas Eropa. Akhirnya ia pergi ke MC Gill University Kanada, untuk mengkaji keislaman secara mendalam. Ia memutuskan untuk kembali (1971) ke Indonesia, dan menjadi dosen bahkan Dekan di Fakultas Ushuluddin University Hasyim Asy’ari Jombang tahun 1974 sampai 1980.

Pendidikan yang ditempuh dari segala disiplin ilmu pesantren, pendidikan sekuler pribumu, sekuler Barat inilah menjadikan Gus Dur menjadi tokoh yang liberal, humanis dan demokratis. Sekaligus prototip manusia yang mengedepankan nilai-nilai kulturalnya.

Petualangan Gus Dur dalam pergerakan sosial di Indonesia sekan tak pernah berhenti. Pada bulan Desember 1984, Gus Dur terpilih sebagai ketua umum Tanfidziyyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Secara cepat ia mengadakan perubahan di tubuh NU, dan ia berhasil mengadakan perubahan tersebut, terutama pengembalian organisasi tersebut kepada khittah sebagai lembaga sosial keagamaan.

Disamping itu di luar organisasi NU, Gus Dur terlibat dibanyak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk program-program pemberdayaan masyarakat. mendirikan kelompok kerja Seperti aktif di Perhimpunan Pesantren dan Masyarakat (P3M), sebuah LSM yang sangat giat dalam memberdayakan pendidikan pesantren dan masyarakat di Indonesia; Terlibat aktif dalam Forum Demokrasi (FORDEM). Berdirinya fordem merupakan hasil keprihatinannya terhadap prilaku rezim yang sangat hegemonik terhadap rakyat. Dan juga asebuah kristalisasi keprihatinan atas praktek-praktek penindasan dan pelanggaran terhadap hak asasi manusia dan pengabaian atas demokrasi. Negara yang semestinya melindungi rakyatnya malah sebaliknya menindas, mengeksploitasi dan mengebiri hak-hak politik, sosial, ekonomi dan budaya rakyatnya.

Pemaduan antara semangat religiusitas Gus Dur dengan semangat kebangsaan melahirkan pemikiran dan gerakan yang jernih akan perjuangan hati nurani membela rakyat yang tertindas. Kerap perjuangan Gus Dur diwujudkan dalam bentuk tulisan-tulisannya di maas media sejak tahun 70-an hingga 90-an di saat menghadapi rezim otoriter Soeharto, disamping melalui gerakan bersama LSM dan Ormas kelompok pro demokrasi.

Sikap kritisnya menggila ketika harus menyebut Suharto orang bodoh dalam A Nation in Waiting. Menyebutnya sebagai Marcos, dan kontrofersialnya antara lain mengganti Assalamu’alaikum menjadi selamat pagi, termasuk perginya ke Israel. Sehingga muncul buku-buku anti Gus Dur. Seperti buku yang ditulis oleh Hartono Ahmad Jaiz dengan judul bukunya “Bahaya Pemikiran Gus Dur”.

Abdurahman Wahid merupakan figur yang nyleneh, vokal dan kontroversial, setidaknya sejak 1970-an dan dipertahankannya hingga sekarang. Salim Said menyebut, sejak kemunculannya sebagai scientis sampai kemudian menjadi aktor politik (political player), yang paling mumpuni atau sebagai politisi yang paling ulung di era 90-an.

Secara faktual asumsi ini tidak bisa dibantah, hanya saja menurut Al-Zastrouw, bila dikaji secara lebih jauh apa yang dilakukan oleh Abdurrahman Wahid sebenarnya hal yang wajar dan biasa dalam prosaes kehidupan. Jika dikatakan nyleneh dan kontroversi adalah lantaran keberaniannya untuk berbeda dan keluar dari kelaziman. Emha Ainun najib menyebut Gus Dur sebagai orang gila dalam sejarah. Maksudnya adalah orang yang menggagas apa yang tidak digagas orang lain, memikirkan apa yang tidak dipikirkan orang lain dan membayangkan apa yang tidak dibayangkan orang lain.

Disamping sikap kontroversialnya (kenyelenehannya) dan kevokalannya, ia juga dikenal sebagai orang yang mengedepankan watak dalam faham inklusivisme dan komitmennya dalam upaya menciptakan budaya demokratis. Semangat kebangsaan dan kebersamaan selalu dikedepankan dalam setiap gerak langkahnya dalam upaya membangun bangsa yang adil, demokratis dan damai.

Dalam rangka menciptakan situasi dan kondisi yang lebih demokratis di Indonesia Gus Dur dalam tulisannya lebih banyak bicara tentang Islam dan demokrasi, dengan melihat Islam masa Nabi, sahabat dan pemikir Islam, kemudian ia melihat ke depan menuju masyarakat Indonesia, karyanya banyak dimuat dalam Majalah, Koran, dan beberapa Jurnal di Indonesia, maupun di luar negeri.

Gus Dur juga aktif berceramah di dalam dan luar negeri berbagai persoalan-persoalan kegamaan, kemanusiaan, kebangsaan dan juga politik serta issu-issu tentang perdamaian dunia. Berbagai penghargaan demi penghargaan telah ia terima atas jasanya yang luar biasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan, perdamaian, demokrasi dan HAM. Perhatiannya yang cukup besar pada perdamaian dunia, pemimpin-pemimpin dunia menaruh hormat yang luarbiasa. Bahkan sempat dipercaya sebagai dewan pendiri Universitas Siomon Perez, Israel yang banyak mendatangkan kontroversi dan hujatan dari kalangan Islam sendiri.

Beberapa tulisan yang dibukukan antara lain: Bunga Rampai Pesantren; Muslim Di Tengah Pergumulan; Kyai Nyentrik Membela Pemerintah; Mengurai Hubungan Agama Dan Negara; Islam, Negara dan Demokrasi; dan karya lain dalam bentuk makalah, semenjak menjadi presiden masih banyak karyanya yang belum terbukukan.

Suara kritisnya tidak berhenti kendatipun belaiau telah menjadi presiden RI ke-4, sehingga kerap menjadi makanan yang empuk untuk menghantam Gus Dur oleh lawan-lawan politiknya. Kendatipun hanya menjadi presiden selama dua tahun, tapi sangat mengesankan dan membuat rakyat Indonesia menjadi cerdas, kritis dan mandiri.

Gus Dur dapat juga disebut sebagai tokoh multi dimensi. Dia dapat disebut sebagai seorang ulama, politisi, budayawan, seniman, dan scintis yang pendapat-pendapatnya sangat disegani oleh para pemikir lain. Pembacaan dan pembicaraan Gus Dur tentang relasi agama dan negara tidaklah diragukan. 
Advertisement