Biografi Hasbi ash-Shiddieqy

Nama lengkapnya adalah Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, beliau dilahirkan di Lhokseumawe pada tanggal 10 Maret 1904, 9 Desember 1975. seorang ulama dan cendekiawan muslim, ahli ilmu fikih, hadist, tafsir, dan ilmu kalam; penulis yang produktif dan pembaharu (mujaddid) yang terkemuka dalam menyeru kepada umat agar kembali ke Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. Nama aslinya Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy. Kata “ash-Shiddieqy” menisbatkan namanya kepada “Abu Bakar ash-Shiddieqy, karena Hasbi mempunyai kaitan nasab dengan sahabat Nabi SAW yang paling utama itu melalui ayahnya, Teuku Kadi Sri Maharaja Mangkubumi Husein ibn Mas’uf. Ibunya bernama Teuku Amrah binti Teuku Sri Maharaja Mangkubumi Abdul Aziz.

Jenjang pendidikan pertama dilalui Hasbi di pesantren yang dipimpin oleh ayahnya sendiri sampai ia berumur 12 tahun. Kemudian ia belajar di beberapa pesantren lain di Aceh sampai ia bertemu dengan seorang ulama, Muhammad bin Salim al-Kalali. 

Biografi Hasbi ash-Shiddieqy


Dari ulama inilah ia banyak mendapat bimbingan dalam mempelajari kitab-kitab kuning seperti Nahwu, Saraf, Mantiq, Tafisr, Hadits, Fiqih, dan Ilmu Kalam. Pada tahun 1926, dengan kemauannya yang besar untuk mendapatkan ilmu yang lebih luas dan mendalam, ia berangkat ke Surabaya untuk belajar di pesantren al-Irsyad yang dipimpin oleh Ustadz Umar Hubeisy. Dengan bekal ilmu yang telah diperolehnya di Aceh, maka dalam waktu hanya 1 tahun ia telah dapat menyelesaikan studinya di pesantren itu.

Kemudian, dengan bekal ilmu yang telah dimilikinya, ia mulai terjun ke dunia pendidikan sebagai pendidik. Pada tahun 1928 ia telah dapat memimpin sekolah al-Irsyad di Lhokseumawe. Di samping itu, ia giat melakukan dakwah di Aceh dalam rangka mengembankan paham pembaruan (tajdid) serta memberantas “syirik, bid’ah”, dan “khurafat”. Dua tahun kemudian ia diangkat sebagai kepala sekolah Al-Huda di Kruengmane, Aceh Utara, sambil mengajar di HIS (Hollandsch Inlandsche School, setingkat SD) dan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, setingkat SMP) Muhammadiyah. 

Karirnya sebagai pendidik seterusnya ia baktikan sebagai direktur Darul Mu’allimin Muhammadiyah di Kutaraja (sekarang Banda Aceh) pada tahun 1940-1942, di samping itu, ia juga membuka Akademi Bahasa Arab. Sebagai seorang pemikir yang banyak mengerahkan pikirannya dalam bidang hukum Islam, maka pada zaman Jepang ia diangkat menjadi anggota Pengadilan Agama Tertinggi di Aceh.