Imam al-Ghazali: Jangan Pernah Menjilat pada Setan!

Advertisement
Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali Rahimahullahu Ta’ala berkata di dalam buku Bidayatul Hidayah, “Tidak pantas engkau tertipu oleh bujuk rayu setan. Boleh jadi, setan akan berkata kepadamu, ‘Engkau harus membela kebenaran!’ Akan tetapi, jangan pernah mau menjilat pada setan.”

Mengapa Imam al-Ghazali menyampaikan kalimat ini? Apakah konteks yang beliau maksud? Apa yang seharusnya kita hindari atau lakukan?

Kalimat ini merupakan peringatan agar kaum Muslimin waspada terhadap dosa-dosa yang dikerjakan oleh lisan. Beliau memberi nasihat agar kita tidak pernah menganggap rendah orang lain. Sebab bisa jadi, mereka yang dianggap rendah justru lebih mulia dari kita.



Ketika seseorang menganggap orang lain rendah, maka ia akan meremehkan orang tersebut. Terkadang, bentuk meremehkan itu menjelma dalam kalimat manis yang berbunyi, “Engkau harus membela kebenaran!” Padahal, kalimat itu palsu. Hanya bisikan setan.

“Sebab,” lanjut sang imam menuturkan nasihatnya, “setan itu selamanya ingin menyeret orang yang bodoh pada tindakan kejahatan dan itu mungkin saja dilakukannya dengan membonceng sebuah kegiatan yang baik.”

Meski berada di jalan kebaikan, meski melakukan kebaikan, meski mengingatkan orang lain agar senantiasa berbuat baik; tapi kita tetap harus waspada. Sebab setan amat lihai memoles keburukan agar terlihat baik dan indah.

“Jangan mau ditertawakan oleh setan. Karena ia pasti mengolok-olokmu setelah ia mampu menjebakmu ke dalam jeratannya.” lanjut sang imam.

Maksud beliau, berhati-hatilah dalam menyampaikan nasihat kepada orang lain. Jangan tertipu oleh setan dengan merasa benar. Nasihatilah dengan bijak. Sampaikanlah dengan niat yang tulus, bukan niat merendahkan yang dinasihati.

“Jadi,” simpul sang Imam, “jika engkau ingin menyampaikan nasihat pada seseorang demi menegakkan kebenaran, lakukanlah diam-diam. Jangan sampai merendahkan harga diri orang itu.”

Ada etika dalam menyampaikan nasihat. Tidak bisa sembarangan. Jika asal-asalan, nasihat bisa menjadi bumerang. Bukannya berdampak baik, nasihat yang disampaikan dengan cara salah bisa berdampak buruk untuk kedua belah pihak.

Pihak yang menasihati merasa sombong, sedangkan yang dinasihati merasa direndahkan.
Advertisement