Maafkan Pasangan Anda Walau Ia Tidak Meminta

Advertisement
Setelah melewati Ramadan sebulan penuh dengan berbagai macam kegiatan ibadah baik yang wajib maupun yang sunnah, diharapkan akan ada peningkatan taqwa dalam diri setiap muslim. Hal inilah yang menjadi tujuan puasa sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur'an sebagai la'allakum tattaqun --agar kamu semua menjadi bertaqwa (QS. Al Baqarah : 183). Jika tujuan berpuasa ini tercapai, maka sifat-sifat orang bertaqwa akan semakin nyata dalam kepribadian kita.

Salah satu sifat orang bertaqwa adalah kemampuan untuk memaafkan kesalahan orang lain. Menariknya, yang dijadikan sifat taqwa bukanlah kemampuan meminta maaf kepada orang lain, namun justru memaafkan kesalahan orang lain. Allah Ta'ala berfirman:  "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa; (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan" (QS. Ali Imran : 133 -- 134).


Memberi Maaf adalah Sifat Taqwa


Salah satu sifat orang bertaqwa adalah kemampuan untuk memaafkan kesalahan orang lain. Menariknya, yang dijadikan sifat taqwa bukanlah kemampuan meminta maaf kepada orang lain, namun justru memaafkan kesalahan orang lain. Allah Ta'ala berfirman:

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa; (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan" (QS. Ali Imran : 133 -- 134).

Ayat di atas menggambarkan sifat orang bertaqwa yang kelak akan mendapatkan balasan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Salah satu sifat taqwa adalah 'aafiina 'aninnaas, yaitu memaafkan kesalahan orang lain. Dalam ayat ini, tidak ada keterangan tambahan tentang siapa yang diberi maaf, namun digunakan bentuk umum. 'Aafiina 'aninnaas bermakna memaafkan kesalahan manusia pada umumnya, walaupun mereka tidak meminta maaf kepada kita.

Jika kesalahan manusia pada umumnya saja dimaafkan, apalagi kesalahan orang-orang terdekat dan kita cintai. Tentu harus lebih mudah lagi untuk memberikan maaf, walaupun mereka tidak meminta maaf. Mengapa kita harus memaafkan kesalahan orang lain, padahal mereka tidak meminta maaf kepada kita? Jawaban pertama adalah, karena kita ingin memiliki sifat orang bertaqwa. Jawaban kedua adalah, karena sangat banyak ayat dan hadits Nabi Saw yang mengarahkan kita agar mudah memaafkan kesalahan orang lain. Dan jawaban ketiga adalah, karena memaafkan itu menyehatkan dan membahagiakan.

Memberi Maaf adalah Perintah Allah dan Rasul-Nya


Berikut ayat-ayat dalam Al Qur'an yang memerintahkan kepada kita agar memaafkan kesalahan orang lain, serta menunjukkan posisi orang-orang yang mudah memaafkan kesalahan orang lain:

"Jadilah kamu pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf" (QS. Al A'raf : 199).

"Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun" (QS. Al Baqarah : 263).

 "Jika kamu melahirkan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Kuasa" (QS. An Nisa : 149).

 "Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan" (QS. Asy-Syura : 43).

"Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim" (Asy Syura: 40).

"Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang" (At Taghabun : 14).

Keseluruhan ayat di atas memerintahkan kepada kita agar memaafkan orang yang berbuat salah kepada kita, tanpa ada tambahan persyaratan khusus, seperti "memaafkan kesalahan orang yang meminta maaf kepada kamu". Walaupun orang itu tidak meminta maaf kepada kita namun kita diperintahkan untuk memaafkan kesalahan orang tersebut.

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan, "Bila kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadamu, maka kebaikan ini akan menghantarkan orang yang berlaku jahat tadi mendekat denganmu, mencintaimu, dan condong kepadamu sehingga dia menjadi teman dekatmu. Ibnu 'Abbas menyatakan, Allah memerintahkan orang beriman untuk bersabar di kala marah, bermurah hati ketika diremehkan, dan memaafkan di saat diperlakukan jelek. Bila mereka melakukan ini maka Allah menjaga mereka dari (tipu daya) setan dan musuh pun tunduk kepadanya sehingga (berubah) menjadi teman dekat".

Demikian pula dalam berbagai hadits, Nabi Saw mengarahkan kita agar memberi maaf kepada orang lain:

"Sayangilah makhluk maka kamu akan disayangi Allah, dan berilah ampunan niscaya Allah mengampunimu" (Shahih Al Adab Al Mufrad no. 293).

"Tidaklah shadaqah mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah seorang hamba karena memaafkan kecuali kemuliaan, dan tiada seorang yang rendah hati karena Allah melainkan diangkat oleh Allah" (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

"Barangsiapa menahan amarahnya padahal dia mampu untuk melakukan pembalasan, maka Allah akan memanggilnya di hari kiamat di hadapan para makhluk sehingga memberikan pilihan kepadanya, bidadari mana yang ia inginkan" (Hadits ini dihasankan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah no. 3394).

Sekian banyak hadits mengarahkan agar kita memberi maaf kepada orang lain, karena memaafkan adalah akhlaq yang terpuji. Memaafkan adalah salah satu sifat Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al Munawi menjelaskan, "Allah mencintai nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya yang di antaranya adalah sifat rahmah dan pemaaf. Allah mencintai makhluk-Nya yang memiliki sifat tersebut" (Faidhul Qadir 1/607).

Memaafkan Itu Menyehatkan dan Membahagiakan


Sebuah penelitian di tahun 2016 yang dipublikasikan dalam Journal of Health Psychology, mengungkapkan fakta bahwa mereka yang selama masa hidupnya menyimpan dendam dan tidak mau memaafkan kesalahan orang lain, cenderung memiliki kesehatan mental dan fisik yang lebih buruk serta mengalami tingkat stres yang tinggi dan berkepanjangan. Sementara orang-orang yang sangat pemaaf ---baik terhadap diri mereka sendiri maupun orang lain--- cenderung memiliki kepribadian lebih menarik, kuat, terhindar dari stres dan gangguan mental sepanjang hidupnya.

Sementara itu penelitian dari Medical College of Georgia tahun 2014 mendapatkan temuan, orang-orang yang mengaku memiliki dendam selama bertahun-tahun, telah mengalami peningkatan risiko berbagai masalah kesehatan termasuk penyakit jantung, hipertensi, maag, sakit kepala dan bahkan sakit punggung.

Psikolog klinis dr. Seth Meyers, PsyD mengungkapkan, "Banyak studi menunjukkan bahwa menyimpan dendam serta senantiasa berperasaan negatif berakibat buruk bagi kesehatan mental Anda seperti gangguan kecemasan dan frustasi. Justru dengan memberi maaf perasaan kita jadi tidak stres. Selama ini dianggap dendam hanya ada di pikiran dan mental kita tetapi tubuh kita pun akan terpengaruh."

Agar tidak mudah mendendam, Meyer menyarankan ketika ada masalah dengan seseorang, pastikan dulu apakah orang tersebut sangat berarti untuk anda. Jika ia sangat berarti bagi anda, ada baiknya bicarakan hal yang membuat anda kesal, kecewa, dan marah hingga memiliki dendam pada orang itu. Namun jika ia tidak terlalu berpengaruh terhadap hidup anda, sebaiknya segera maafkanlah orang tersebut. Jangan menyimpan dendam dan kemarahan karena justru itu akan membuat anda semakin tidak nyaman.

Berbagai studi ilmiah telah menunjukkan betapa dahsyat pengaruh memaafkan dalam kehidupan seseorang. Dalam memaafkan tersimpan kekuatan. Orang yang mudah memaafkan bukanlah orang yang lemah. Justru mereka adalah orang-orang kuat yang sanggup memaafkan kesalahan banyak orang. Dalam memaafkan tersimpan manfaat kesehatan, bukan hanya kesehatan mental, namun juga kesehatan badan. Dalam memaafkan terkandung kebahagiaan. Semakin pandai memaafkan, semakin mudah mendapat kebahagiaan.

Maafkan Pasangan Anda, Tanpa Menunggu Ia Meminta Maaf


Setiap akhir Ramadhan dan memasuki bulan Syawal, ada tradisi dalam masyarakat di berbagai negara ---termasuk Indonesia--- untuk saling maaf memaafkan. Jika dilihat dari ajaran agama, sebenarnya tidak ada tuntunan khusus tentang maaf memaafkan yang dikaitkan dengan Iedul Fithri. Tidak ada perintah dalam Al Qur'an maupun sunnah Nabi Saw yang menyuruh kita untuk saling bermaafan saat lebaran. Namun juga tidak ada larangan dalam Al Qur'an maupun sunnah Nabi Saw untuk maaf memaafkan di hari lebaran. Jadi, ini adalah bab tradisi atau budaya masyarakat yang sudah berlaku turun temurun.

Kalaupun ini sudah menjadi tradisi masyarakat, hendaknya disertai dengan beberapa catatan dalam menjalankannya.

Pertama, hendaknya kita membiasakan diri untuk mudah saling memberi maaf di bulan apapun, bukan hanya Syawal saja. Karena pada dasarnya memaafkan adalah perbuatan mulia dan akhlaq terpuji. Dengan kebiasaan kita saling maaf memaafkan pada semua bulan, maka jika lebaran pun meminta maaf, tidak terkesan mengkhususkan diri meminta maaf hanya pada bulan Syawal. Sehingga tidak terkesan mengkultuskan serta mengkhususkan Syawal sebagai bulan permaafan, karena memang tidak ada tuntunannya dalam agama.

Kedua, hendaknya kita memulai dari dalam keluarga inti, sebelum ke orang-orang lainnya. Jika mulai dua atau tiga hari terakhir ini banyak kalangan masyarakat mulai menyebar pesan Selamat Iedul Fithri diserta permintaan maaf, hendaknya sudah dimulai dengan saling memaafkan antara suami istri, orang tua dengan anak, dan antar semua anggota keluarga. Tidak patut sudah sibuk meminta maaf dan memaafkan orang-orang jauh, namun tidak sanggup meminta maaf dan memaafkan orang-orang terkasih.

Karena memberi maaf adalah sifat taqwa sekaligus perintah Allah dan RasulNya, maka jangan menunggu pasangan meminta maaf kepada anda. Tidak penting apakah ia meminta maaf kepada anda, yang penting anda selalu memaafkannya. Yang penting selalu ada maaf untuk pasangan anda. Karena menyimpan dendam serta kemarahan kepada pasangan dalam waktu lama, yang akan anda dapatkan hanyalah rasa sakit hati yang berketerusan. Ini membuat anda tidak nyaman, tidak sehat, juga tidak bahagia.

Dendam dan kemarahan anda tidaklah menghukum pasangan anda, justru menghukum diri anda sendiri. Semakin lama dendam anda simpan, semakin membuat diri anda menderita. Ternyata dendam dan kemarahan tidak menghukum orang lain, bahkan yang terjadi semakin menyakiti diri sendiri. Dengan memaafkan, hati menjadi lapang dan tenang. Tidak menyimpan emosi negatif yang mengganggu pikiran serta perasaan. Maka dalam memaafkan selalu ada kekuatan, kesehatan dan kebahagiaan.

Maafkan pasangan anda, maafkan orang-orang tercinta di sekitar anda, sebelum anda memaafkan orang-orang lainnya. Orang-orang terdekat anda lebih berhak mendapat permaafan dari anda dibanding manusia pada umumnya. Jangan membuat syarat untuk memaafkan kesalahan dan kekurangan orang-orang tercinta. Maafkan saja, karena merekalah jantung hati dan cahaya mata anda, bukan yang lainnya.

Advertisement