Teori Sosial Clifford Geertz

Advertisement
SUDUT HUKUM | Geertz adalah seorang Guru Besar di Universitas Chicago Amerika Serikat, ia melakukan penelitian pada bulan Mei 1953 sampai bulan September 1954 di Mojokuto Jawa Timur. Hasil penelitiaan Geertz ini diajukan kepada Departemen Hubungan Sosial di Harvard University dalam rangka memperoleh gelar Doktor Ilmu Sosial.

Hasil Disertasi Geertz yang kemudian dibukukan dengan Judul Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa memberikan gambaran yang mendalam terhadap karakteristik masyarakat pada masa lampau. Masyarakat Jawa di Mojokuto Jawa Timur dipandang oleh Geertz sebagai suatu sistem sosial, dengan kebudayaan Jawanya yang akulturatif dan agamanya yang sinkretik, terdiri dari tiga sub-kebudayaan Jawa yang masing masing merupakan struktur struktur sosial yang berlainan. Struktur sosial yang dimaksud adalah Kaum Abangan, Santri dan Priyayi.

Tiga varian tersebut masing masing memiliki karakteristik tersendiri, Varian Abangan merupakan masyarakat yang cenderung diartikan sebagai kelompok tidak memiliki ketaatan terhadap syariat agama islam, varian ini diidentikkan sebagai kaum kecil (wong cilik) yang orientasi hidupnya hanya bersifat keduniawian, biasanya bekerja sebagai petani ataupun buruh didesa desa, pada saat pemilihan umum varian ini memiliki kecenderungan (preferensi) pilihan politiknya pada Partai Nasionalis, khususnya Partai Nasionalis Indonesia (PNI), namun sekarang kultur dan ideologi PNI berpindah (transformasi) pada Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). 

Berpindahnya kultur dan ideologi PNI ke PDIP dinilai sangat wajar, hal ini dikarenakan faktor sejarah (history) bahwa PNI adalah Partai yang didirikan Ir. Soekarno Presiden pertama Republik Indonesia, setelah wafatnya Soekarno, PNI mengalami kemuduran drastis dipentas politik nusantara, pada akhirnya nakhoda kepartaian sebagai trah Presiden Soekarno diambilalih oleh putrinya Megawati Sokernoputri dengan mendirikan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dalam rangka melanjutkan dan menghidupkan ideologi dan cita cita Soekarno. 

Varian kedua adalah Santri, kelompok ini menekankan pada aspek aspek islam demi menegakkan dan menjunjung tinggi syariat agama, kelompok ini diidentikkan sebagai saudagar atau pedagang dipasar pasar, pada saat Pemilihan Umum Kelompok Santri biasanya memiliki kecenderungan untuk memilih Partai Islam sebagai sebagai sarana menyalurkan aspirasi politik mereka, Partai Masyumi dan NU menjadi pilihan ideal bagi varian ini. 

Namun, dinamika politik di Indonesia memaksa Partai Masyumi dan NU membubarkan diri atau lebih tepatnya dibubarkan oleh Pemerintah yang sedang berkuasa saat itu demi menjaga dan mempertahankan kekuasaan (status quo). Berkat kader kadernya yang militan, kini ideologi Partai Islam tersebut ada pada PPP, kemudian muncul dan berkembang pula PKB serta PAN. Varian terakhir adalah Priyayi, kelompok ini merupakan kelompok elit ditengah tengah masyarakat Mojokuto saat itu, Priyayi merupakan kaum birokrat teknokrat yang bekerja dikantor kantor ataupun instansi pemerintahan, didalam Pemilihan Umum Varian Priyayi biasanya menjatuhkan pilihan politik pada Partai Golongan Karya (Golkar).
Advertisement