Perjalanan dan Karir Ibnu Khaldun

SUDUT HUKUM | Ibnu Khaldun hidup bermasyarakat sebelum berusia 20 tahun. Pada mulanya ia menjabat tukang stempel surat pada pemerintahan Abu Muhammad Ibnu Tafrakin. Tatkala Ibnu Tafrakin ini ditaklukan oleh Abu Yazid, penguasa konstantinopel, Ibnu Khaldun melarikan diri dan bekerja sama dengan Sultan Abu Inan di Tlemcen. Ibnu Khaldun digaji Oleh Abu Inan, sebagai sekretaris mengurus surat menyurat. Ibnu Khaldun mengaku menerima jabatan itu dengan setengah hati sebab dia menganggap sebagai kerja rendahan, dan tidak seorangpun leluhurnya melakukan pekerjaan serendah itu. Meskipun dia mengaku mendapat penghargaan tinggi dari sulatan, namun hasratnya menjadi orang besar dan disegani memaksanya untuk terjun ke dunia politik dan bekerja sama dengan pihak lain untuk menggulingkan Sulthan.

Dia membantu Amir Abu Abdullah Muhammad memperoleh kembali kekuasaannya, dengan syarat kalau usaha itu berhasil dia diangkat menjadi perdana mentri. Namun Abu Inan mengetahui persekongkolan itu dan segera memerintahkan politisi muda untuk menumpas. Ibnu Khaldun dimasukkan dalam penjara dan mendekam selama dua tahun (1357 M-1358 M), dan selama itu berkali-kali dia memohon Sulthan membebaskannya. Menjelang kematiannya, Sulthan berjanji membebaskannya.

Keluar dari penjara Ibnu Khaldun mendukung Abu Salim yang pada tahun 1359 M menjadi penguasa Maroko dan mengangkat Ibnu Khaldun sebagai sekretaris Negara dan penasehatnya. Setelah Abu Salim meninggal, dan karena intrik-intrik pengadilan, Ibnu Khaldun memutuskan untuk meninggalkan Maroko. Pada tahun 1362 dia bergabung dengan pemerintahan Mohammad V dari Granada. Mengingat betapa besar bantuan Ibnu Khaldun kepadanya dan kepada perdana mentrinya Ibnu al-Khatib ketika mereka berada di Fez sebagai buronan, Mohammad merasa berhutang budi dengan cara memberikan pelayanan sangat baik kepada Ibnu Khaldun.

Dia mengutus Ibnu Khaldun sebagai duta besar menemui raja Perdo si kejam dari Castila untuk menanda tangani perjanjian damai antara kedua Negara. Penguasa Kristen bukan hanya menghormati Ibnu Khaldun tetapi juga berusaha menggaetnya lewat tawaran membuka kembali perkebunan keluarga Khaldun di Selvia.

Ibnu Khaldun menolak namun di Granada, Ibn al-Khatib tidak mengizinkan Ibnu Khaldun mengembangkan kekuasaannya di pengadilan. Waktu itu Ibnu Khaldun gembira ditawari Abdullah Muhammad Al-Hafsi (yang merebut tahta Bijayah) untuk menjadi perdana menterinya. Dia menerima tawaran itu tanpa ragu-ragu, dan dengannya memiliki kekuasaan mutlak, mengatur semua urusan dengan serius, meredakan tikaian dengan cekatan dan berkunjung ke daerah-daerah untuk mengumpulkan pajak dengan mengandalkan kecerdasan dan pengaruhnya. Disamping itu dia menjadi dosen hukum di Bijayah.

Pemerintah Abu Muhammad berakhir setelah ia ditaklukkan dan dibunuh oleh sepupunya Abul Abbas. Ibnu Khaldun datang menyambut kemenangan Abbas itu dan kepadanya diserahkan kota Bijayah. Ibnu Khaldun bertahan kepada kedudukannya, hingga kemudian merasa pemerintah tidak mempercayainya karena itu dia memutuskan berangkat ke Basra. Disana dia dipanggil Amir Abu Hamu di Tlemcen untuk diangkat menjadi perdana menteri. Ibnu Khaldun menolak tawaran ini dan mengusulkan kakaknya Yahya sebagai penggantinya. Namun demikian, Ibnu Khaldun membantunya mengumpulkan beberapa suku untuk memihak Abu Hamu melawan Abul Abbas.

Setelah mengabdi kepada pemerintah yang satu ke yang lain, Ibnu Khaldun merasa lelah dalam petualangan politiknya. Ketika Abu Hamu memintanya agar mencari dukungan dari para suku lebih banyak, dia memanfaatkan kesempatan ini untuk meninggalkan politik dengan meminta kepada Banu Arif. Itulah masa dia menulis bukunya Muqaddimah.

Sebagaimana diungkapkannya. Sebagaimana dikutip oleh Fuad Baali dan Ali Wardi:
Begitu saya meninggalkan urusan rakyat, untuk hidup di pengasingan saya merasa cocok dengan awlad Arif; dan mereka menyambut baik kedatangan saya dengan memberi kehormatan. Saya tinggal bersama mereka dan mereka menjemput keluarga dan anak saya di Tilimisan. Mereka menjanjikan pada saat yang sama untuk mewakili Sultan. Inilah kesempatan yang sangat baik bagi saya untuk menyelesaikan tugas yang dipercayakan kepada saya dan kenyataannya mereka dapat membujuk Sultan untuk menerima alasan saya. Kemudian saya menetap sekeluarga di Qal’at Ibnu Salamah, sebuah pesanggarahan di daerah Banu Tujin yang diperoleh dari Sultan dengan Duwawidah di daerah kekuasaan Feodal. Saya menetap disana selama 4 tahun, sama sekali bebas dari kesibukan dan gangguan urusan rakyat dan disanalah saya mulai menulis karya saya (sejarah umum).
Dalam pengasingan Ibnu Khaldun menulis suatu karya asli yang di rancang dan disusun dari hasil penelitian yang serius. Di Qal’at Ibnu Salamah, saya menempati sebuah kamar pribadi yang luas dan menyenangkan yang telah dibangun oleh Abu Bakar Ibnu Arif. Selama saya tinggal bersama dirumah tersebut, saya sama sekali melupakan kerajaan Maghrib dan Tilimisan dan tidak memikirkan hal lain kecuali pekerjaan yang sedang saya tekuni.

Setelah menulis Muqaddimah, Ibnu Khaldun merasa jenuh di pengasingan, karena itu diniatkan pergi ke Tunusia., daerah kelahirannya. Pada saat itu Abu Abbas masih menjadi Sulthan di sana. Untuk mendekati Abu Abbas, Ibnu Khaldun mengirim surat yang mengharukannya, dengan menjelaskan mengapa beberapa puluh tahun belakangan ini dia mendukung kelompokkelompok oposan terhadap pemerintahnya. Ibnu Khaldun memohon maaf dan meminta izin agar dapat kembali ke Tunisia untuk mengadakan beberapa penelitian. Sultan mengizinkannya.

Kebahagiaan Ibnu Khaldun untuk dapat menikmati hidup ditanah kelahirannya ternyata tidak berlangsung lama. Beberapa temannya menunjukan sikap bermusuhan terhadapnya. Disamping itu, sulthan menyuruh para sarjana membantunya menumpas beberapa pemberontakan. Ibnu Khaldun tidak menyukai tugas yang berbahaya ini, karena itu dia putuskan pergi naik haji. Dia meninggalkan Tunisia pada tahun 1382 menuju Alexandria (Mesir) untuk melanjutkan perjalananya ke Mekkah, dia harus pergi ke Kairo yang sebelumnya telah memberi kesan baik kepadanya.

Di Kairo, Ibnu Khaldun meninggalkan karirnya semula dan mengambil jalur pendidikan. Para pelajar berkumpul di “Halaqah Masjid” tempatnya mengajar. Mereka menyukai penjelasannya yang mengesankan tentang fenomena sosial. Kemudian dengan ragu-ragu dia terima pengangkatan sebagai hakim, tetapi kebiasaan lamanya memanfaatkan kekuatan rakyat untuk mencapai tujuan pribadinya ia tinggalkan.

Ibnu Khaldun memulai pekerjaannya sebagai hakim dengan jujur dan tulus. Kejujuran yang dipertunjukkannya dalam mengambil keputusan ternyata membuatnya banyak dimusuhi. Ibnu Khaldun meletakkan jabatan itu setelah mendengar kabar yang menyedihkan bahwa keluarganya, yang sedang berangkat dari Tunisia hendak tinggal bersamanya, mengalami kecelakaan ketika penumpang kapal dekat Alexandria pada tahun 1384. Ibnu Khaldun kembali mengajar lagi dan diangkat segai guru besar hukum di Universitas Zahiriyah. Baru pada tahun 1387 M dia dapat menunaikan haji. Setelah menunaikan ibadah haji dia ditunjuk menjadi dosen Universitas Baybars.

Ibnu Khaldun meninggal dunia pada tanggal 26 Ramadhan 808 H (16 Maret 1406 M) dalam usia 74 tahun menurut hitungan tahun masehi atau 76 tahun menurut perhitungan tahun hijriah. Tak lama setelah ditunjuk keenam kalinya sebagai hakim. Dia dikebumikan di kawasan pemakaman orang sufi di Kairo.

Dapatkan Artikel Terbaru dari suduthukum.com Via E-mail: