Biografi Søren Kierkegaard

SUDUT HUKUM | Kierkegaard memiliki nama asli Søren Aabye Kierkegaard yang lahir dan besar di Kopenhagen, Denmark pada 1813-1855. Ia merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara. Ayahnya bernama Michael Pedersen Kierkegaard. Sedangkan ibunya bernama Anne Sørensdater Lund Kierkegaard. Dulunya ibunya merupakan pembantu yang bekerja di rumah Michael, ketika istri pertama Michael meninggal ia langsung menikahi Anne Lund. Kierkegaard kecil memiliki kekurangan fisik yaitu dibagian punggungnya memiliki semacam punuk, dan kakinya panjang sebelah yang mempersulit ketik ia berjalan.

Michael menghubung-hubungkan hal tersebut dengan dosa yang telah dilakukannya yang sangat terbekas selama kehidupannya. Ketika masih anak-anak Michael hidup dalam kemiskinan yang pahit. Suatu hari ia mengembala domba di padang tandus tepatnya di Jutland. Dengan menghayati kepedihan hidupnya tiba-tiba ia memandang ke langit dan menyatakan kekesalan dan amarahnya terhadap Tuhan.

Dosa selanjutnya yang ia perbuat ialah melakukan hubungan diluar nikah dengan Anne Lund (ibu Kierkegaard) kejadian tersebut dilakukan tidak lama setelah kematian istri pertamanya. Kemudian ia menikahi Anne Lund dan memiliki tujuh orang anak, anak yang pertama lahir hanya lima bulan setelah pernikahannya dengan Anne Lund. Lalu istri dan lima anaknya meninggal secara beruntut. Michael pun berpikir bahwa hidup Kierkegaard juga tidak akan lama lagi, karena kekurangan fisik yang dimilikinya. Maka dari kejadian tersebut Michael merasa berdosa dan melankolia sepanjang hidupnya. Ketika Kierkegaard beranjak dewasa, ayahnya menceritakan semua kejadian-kejadian tersebut kepadanya dan secara tidak disadari bahwa sifat melankolis Michael ini telah diwariskan kepada anaknya sendiri yaitu Kierkegaard. Hal itu juga memberikan dampak bagi kelangsungan hidup seorang Kierkegaard.

Kierkegaard dan ayahnya memiliki hubungan yang sangat erat. Ia dididik dalam lingkungan yang religius dan sangat terpengaruh dengan pengalaman keagamaan ayahnya. Ayahnya telah memberikan doktrin keagamaan yang sangat kuat terhadap Kierkegaard. Ketika usianya menginjak 18 tahun, dengan tujuan menyenangkan ayahnya Kierkegaard melanjutkan pendidikannya di Universitas Copenhagen dalam bidang teologi. Meskipun ia tidak meminatinya, dan ia lebih menyukai mempelajari filsafat, sastra, dan sejarah.

Kierkegaard memanfaatkan keadaan yang jauh dari ayahnya untuk menempuh pendidikan di Universitas Copenhagen juga dijadikan sebagai pelampiasan emosinya terhadap tekanan yang telah dilakukan oleh ayahnya. Ia ingin hidup bebas tanpa adanya aturan-aturan agama. Ia mulai mengambil jarak terhadap keyakinannya, karena menurutnya Tuhan telah runtuh bersamaan dengan terjadinya gejolak yang dahsyat dalam jiwanya akibat ungkapan rahasia ayahnya, ia juga melakukan kritikkritiknya terhadap agama Kristen. Kierkegaard pun sampai kehilangan kepercayaan moralnya dengan berusaha untuk bunuh diri, tetapi keadaaan tersebut dapat diatasinya.

Kira-kira dalam jangka setengah tahun ia meninggalkan ayahnya, peristiwa menyedihkan kembali menimpa dirinya. Guru besarnya yang dikaguminya bernama Paul Moller meninggal dunia. Paul Moller merupakan seseorang yang menghargai kecerdasan Kierkegaard. Guru besarnya ini pula dianggap olehnya sebagai semangat kebangkitannya. Seperti yang dinyatakan dalam bukunya The
Concept of Dread:
To the late Professor Paul Martin Moller – the happy lover of Greece, the admirer of Homer, the confident of Socrates, the interpreter of Aristotle,… the enthusiasm of my youth, the mighty rumpet of my awakening.” Kepada almarhum Profesor Paul Martin Moller – pencinta Yunani yang bahagia, pengagum Homerus, kepercayaan Socrates, penafsir Aristoteles,… semangat masa mudaku, sengkala perkasa dari kebangkitanku.
Setelah kejadian tersebut Kierkegaard melakukan pertaubatan, lalu kembali lagi menemukan hubungannya dengan Tuhan. Pada tahun 1938 ayahnya meninggal dunia. Saat sebelum meninggal ayahnya berpesan kepada Kierkegaard agar suatu hari ayahnya menginginkan ia menjadi seorang pendeta. Meskipun Kierkegaard merasa sangat terbebani untuk memenuhi permintaan ayahnya. Tetapi dia masih terpengaruh dengan sikap melankolis ayahnya yaitu bahwa kehidupannya adalah untuk menjalani hukuman Allah yang ditimpakan kepada keluarganya. Setelah ayahnya meninggal ia menyelesaikan studinya dalam bidang teologi dan telah mewujudkan apa yang dicitacitakan ayahnya.

Søren Kierkegaard


Perjalanan hidup Kierkegaard tidak berhenti di situ. Ia dipertemukan dengan seorang gadis yang bernama Regina Olsen. Pada tahun 1840, ia memberanikan diri untuk bertunangan dengan Regina. Namun sebelas bulan setelah pertunangan tersebut, Kierkegaard dengan penuh pertimbangan mengubah pendiriannya untuk memutuskan ikatan pertunangan. Dikarenakan ia merasa yakin tidak cocok untuk hidup berumah tangga dan memutuskan untuk tidak menikah. 

Ia takut mengecewakan Regina, karena menurutnya dalam ikatan pernikahan tidak ada hal yang harus disembunyikan oleh sepasang suami-istri, sedangkan Kierkegaard tidak ingin hal-hal yang intim diketahui oleh pasangannya. Ia ingin tetap menjalankan misi khususnya untuk menanggung dosa yang dialami keluarganya terutama ayahnya. Regina sangat kecewa dengan keputusan Kierkegaard, akhirnya pada tahun 1847, Regina bisa mengatasi permasalahannya dan ia menikah dengan Friedrich Schlegel.

Dapatkan Artikel Terbaru dari suduthukum.com Via E-mail: