Sukmawati, Jangan Sakiti Sukarno Lagi

Sukmawati, Jangan Sakiti Sukarno Lagi - Kurang lebih empat tahun lalu saya jadi hobi membaca buku-buku Sukarno. Tentu tidak semua, karena buku tentang Sukarno teramat banyak. Namun beberapa buku terbaru dan beberapa buku jadul sempat saya baca, judul-judul tertentu sengaja dicari sampai ke para penjual buku jadul.

Sukmawati


Semakin dalam membaca buku tentang Sukarno dan buku yang ditulis Sukarno, kita akan menemukan samudera ilmu yang begitu luas. Betapa hebatnya Sukarno. Betapa luasnya wawasan Sukarno, betapa tajamnya analisis Sukarno.

Bagi saya, Sukarno adalah sang pembelajar sejati. Sukarno layaknya anugerah yang diberikan Tuhan kepada bangsa Indonesia. Kegigihannya belajar sudah terpatri sejak belia. Sang otodidak ini juga memanfaatkan ketidakpunyaan keluarganya dengan menenggelamkan diri dalam lautan ilmu. 

Ketika belajar di sekolah yang mayoritas muridnya orang berpunya dan keturunan Belanda, Sukarno lebih banyak menyendiri di perpustakaan karena tidak punya uang untuk jajan dan berfoya-foya. Buku-buku yang dibaca Sukarno menjadi pembeda dirinya dengan siswa lainnya. 

Bukan hanya pengetahuan, keberanian Sukarno juga sudah tampak sejak dini. Ketika diskusi di kelas dengan teman-temannya, Sukarno berdiri di atas meja dan berorasi tentang kekejaman penjajah terhadap masyarakat pribumi. Kendati diberi hukuman oleh gurunya yang orang Belanda, Sukarno tetap kritis. 

Sejak muda Sukarno sudah khatam membaca buku-buku bernarasi besar. Sukarno membaca buku-buku Maxisme, Leninisme, Komunisme, juga tentu saja tentang Islam, politik, ekonomi dan sosial. Di pondok Cokroaminoto, Sukarno bukan hanya berguru tentang ilmu yang diajarkannya, tetapi secara otodidak mengasah diri untuk menjadi orator. Maka, Cokro yang terkenal dengan pidatonya yang menggebu-gebu kelak digantikan Sukarno yang tidak kalah hebatnya ketika berada di atas mimbar. Sukarno memang mengidolakan Cokro, khususnya dalam hal pidato. 

Dari bacaan-bacaan yang tidak biasa bagi manusia seusianya, Sukarno kemudian berkontemplasi tentang kondisi bangsanya yang terus dijajah. Berbagai analisis dilahirkan, bacaan sosial Sukarno berakar dari kearifan Nusantara. Walaupun banyak membaca buku-buku luar dengan beragam ideologi, namun Sukarno meyakini bahwa Indonesia berbeda dengan semua negara di dunia ini. Berbagai ideologi yang diterapkan di negara-negara lain tidak cocok untuk Indonesia. 

Sukarno paham betul bahwa Indonesia adalah Indonesia. Ideologi negara ini harus digali dari kekayaan budaya dan agama yang ada di negara ini. Maka, Pancasila menjadi sebuah simbol dari keragaman itu. Maka menjadi tidak beradab jika ada yang nyinyir terhadap keragaman yang menjadi kekayaan kita ini. 

Semangat pembebasan Sukarno kembali dikobarkan ketika menjadi mahasiswa di Bandung (ITB saat ini). Selain mengaktifkan forum diskusi dan berorasi di berbagai kesempatan, Sukarno pun membuat Majalah Fikiran Ra'jat. Sukarno semakin lantang. Semangat perlawanannya semakin mengaung. Hingga akhirnya Sukarno diancam dikeluarkan dari kampusnya jika terus menerbitkan majalahnya. Sukarno mengalah, menyelesaikan kuliah tanpa majalah yang dikelolanya hingga edisi 26. Namun setelah menjadi sarjana, api perlawanan kembali berlanjut.

Berada di pengasingan Ende (akibat suara kritisnya), Sukarno ingin mempelajari ilmu agama. Teringat seorang guru agama di Bandung, Sukarno kemudian berkirim surat kepada A. Hasan, seorang tokoh Persatuan Islam (Persis) yang memberikan warna terhadap pemahaman keagamaannya. Kepada A. Hasan, Sukarno selalu bertanya tentang ilmu agama dan segala permasalahan hidup. Bahkan kepada A. Hasan, Sukarno selalu meminta dikirim buku-buku agama untuk dibaca dan dipelajarinya.

Di tempat pengasingan yang jaraknya ratusan kilo meter, Sukarno tetap menunjukkan sebagai manusia pembelajar. Dengan cara apapun Sukarno terus belajar, untuk memenuhi hasrat ingin tahunya. 

Melebihi para pemimpin bangsa Timur Tengah, Sukarno adalah orang pertama yang melantunkan ayat al-Quran dalam sidang umum PBB. Kerasnya perlawanan terhadap imperialisme, bahkan konon Sukarno sampai menggebrak meja podiumnya. Semua mata dunia terbelalak, ada orang dari negara baru merdeka berani berbicara lantang, menggebrak meja, dan satu lagi, berani membacakan ayat suci umat Islam di gedung yang dikuasai non-muslim. 

Jiwa nasionalisme Sukarno tiada tandingnya. Bahkan untuk hal musik saja Sukarno serius menyikapinya. Bagi Sukarno, musik merupakan cermin sebuah bangsa, dan orang lain bisa menjajah kita juga lewat musik. Maka, dengan menjulukinya sebagai musik "ngak-ngik-ngok", Sukarno melarang musik Barat diperdengarkan di Indonesia karena tidak sesuai dengan kebudayaan kita.

Namun, keluhungan nama Sukarno kini seolah sirna. Beberapa saat lalu kita diusik oleh lantunan puisi picisan Sukmawati. Alunan yang berbau SARA, menyinggung agama Islam. Kehebatan Sukarno ternyata tidak tampak secuil pun pada puisi anaknya.

Bagi saya, Sukarno sangat terluka. Anaknya sendiri tidak mampu menangkap jiwa dan pemikiran besar ayahnya yang dielu-elukan bangsa yang besar ini, bahkan dikagumi berbagai bangsa di dunia. 

Sukma, Anda sudah mencederai ideologi kebinekaan yang diukir bapakmu sendiri, Sukarno, yang begitu menghormati perbedaan. Sukarno yang bagi sebagian orang dianggap sebagai pemeluk Islam taat. Walaupun berpikiran terbuka, Sukarno adalah orang yang mencintai agamanya (Islam) bahkan mendorong agar Islam menjadi agama yang maju, modern, dan necis. Namun, sikapmu telah merontokkan semuanya. Anda mengaku tidak tahu syariat tetapi Anda mengolok-oloknya --bukan belajar tentangnya. Anda juga sudah menilai sesuatu yang tidak Anda sukai sebagai sesuatu yang salah. Padahal agama bukan soal suka atau tidak suka.

Setelah sebelumnya Megawati menggadaikan dan menjual sejumlah aset negara, kini Sukmawati mengoyak jalinan kebinekaan. Sukarno tersakiti lagi.

Oleh: Roni Tabroni, penulis buku Komunikasi Politik Soekarno

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel