Biografi Sunan Kalijaga

Tanah Jawa menjadi wilayah terpenting bagi penyebaran dan pengembangan agama Islam di Nusantara sejak ber abad-abad lampau. Keterkaitan antara Islam dan Jawa tidak bisa dilepaskan dari peran dan kerja keras dakwah para wali di tanah Jawa, yang kemudian lebih dikenal dengan Walisongo. Pembentukan lembaga Walisongo pertama kali dilakukan oleh Sultan Turki Muhammad I, yang memerintah tahun 1394 M. Pada waktu itu Sultan Muhammad I menerima laporan dari para saudagar Gujarat (India) bahwa di Pulau Jawa jumlah pemeluk agama Islam masih sedikit.[1]

Biografi Sunan Kalijaga


Sultan Muhammad I kemudian mengirimkan sekelompok tim dakwah Islamiyah yang anggotanya dipilih dari orang-orang yang memiliki kemampuan di berbagai bidang, terutama bidang ilmu agama. Untuk membentuk tim ini Sultan Muhammad I mengirimkan surat pada para pembesar di Afrika Utara dan Timur Tengah, yang isinya meminta dikirimkanya beberapa ulama yang mempunyai “karomah”. Berdasarkan perintah Sultan Muhammad I itu kemudian dibentuk sebuah tim yang berintikan sembilan orang yang ditugaskan menjadi penyebar agama Islam di Pulau Jawa. kemudian tim berangkat pada tahun 1404 M, di mana tim tersebut diketahui oleh Syeh Maulana Malik Ibrahim yang berasal dari  Turki. Beliau adalah seorang ahli agama dan juga ahli irigasi yang dianggap piawai dan pintar dalam mengatur negara.[2]

Begitu sampai di tanah Jawa, tim sembilan ini langsung melakukan pertemuan untuk merancang rencana kerja. Oleh sebab itu pertemuan pada tahun 1404 M yang dihadiri oleh seluruh anggotanya dianggap sebagai sidang Walisongo pertama, yang kemudian disebut sebagai Walisongo angkatan pertama.[3] Istilah Walisongo sendiri baru muncul setelah ada beberapa wali pribumi dari golongan bangsawan Jawa yang menjadi anggota tim, bahkan ada yang menyebutkan bahwa istilah Walisongo baru muncul pada abad kedelapan belas atau kesembilan belas.

Versi lain menyebutkan Walisongo sebenarnya adalah istilah politik yang digunakan oleh Dewan Ulama di Tanah Jawa. Akibat serangan Kediri ke Majapahit, maka dakwah Islam terancam. Karena Penguasa Kediri sangat anti Islam, berbeda dengan Majapahit yang melindungi dakwah Islam tersebar di seluruh wilayahnya. Untuk menyelamatkan gerakan dakwah, Sunan Ampel berinisiatif untuk membentuk kekuatan politik tandingan dalam menghadapi kediri. Maka disusunlah suatu Negara Islam dengan Sunan Ampel sebagai pemimpinnya. Akan tetapi, Sunan Ampel wafat sebelum merealisasikan niatnya. Kepemimpinan Dewan Ulama diteruskan oleh Sunan Giri yang akhirnya merealisasikan Negara Islam di wilayah Jawa. Demak ditetapkan sebagai ibukota. Sistem pemerintahannya adalah kewalian. Wali adalah istilah syar’i untuk menyebut jabatan Kepala Daerah Negara Islam (Gubernur). 

Pada waktu itu, Dunia Islam tunduk kepada Kekhilafahan Utsmaniyyah. Sehingga dapat diartikan bahwa Demak merupakan Negara Bagian dari Khilafah Utsmaniyyah. Sunan Giri diangkat sebagai Wali ergelar Prabu Satmata. Sunan Giri dalam menjalankan pemerintahan dibantu oleh delapan orang ulama lainnya yang dikenal dengan sebutan Walisongo. Sunan Giri sendiri bertindak sebagai pimpinan. Walisongo adalah istilah Dewan Syura Eksekutif Demak. Anggota Walisongo yang lain mendapat peran sendiri dalam pemerintahan; misalnya Raden Patah bertindak sebagai Adipati Demak, Sunan Kudus sebagai Senopati Wilayah Timur, Sunan Fatahillah sebagai Senopati Wilayah Barat, Sunan Gunung Jati sebagai Adipati Cirebon, Sunan Kalijaga sebagai Qadi/Hakim dan lain sebagainya. Baru setelah Sunan Giri wafat, penggantinya Raden Patah mengubah sistem pemerintahan di Demak menjadi Kesultanan. Karena saat itu, wilayah bawahan Utsmaniyyah pada umumnya berbentuk Kesultanan.

Terdapat enam kali angkatan anggota Walisongo dan sedikitnya terdapat duapuluh dua orang tidak termasuk Maulana Malik Ibrahim karena beliau adalah tetalering waliullah, yaitu nenek moyang pertama kali para wali, dan terdapat sekitar empat belas wali yang belum diakui penuh sebagai angota Walisongo.[4] Bahkan ada pula yang menganggap bahwa jumlah Walisongo bukan sembilan tetapi enam orang saja, karenanya ada yang menyebut Sunan Kalijaga adalah wali penutup. Beliau dapat dikatakan sebagai wali yang namanya sering disebut oleh masyarakat Jawa karena kiprahnya dalam penyebaran Islam.

Lebih Lanjut:

  • Asal Usul Sunan Kalijaga.
  • Peranan Sunan Kalijaga dalam Agama Islam
  • Akhir Hayat Sunan Kalijaga.



RUJUKAN
[1] Hasanu Simom Misteri Syeh Siti Jenar; Peran Wali Sanga dalam MengIslamkan Tanah Jawa, Cet.IV, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007) hal.50.
[2] Hasanu Simon, op. cit., hlm. 50
[3] Agus Wahyudi, Makrifat Jawa; Makna Hidup Sejati Syeh Siti Jenar dan Walisongo, (Yogyakarta: Pustaka Marwa, 2007), hlm. 15.
[4] Hasanu Simon, Misteri Syeh Siti Jena. op, cit., hlm. 48-93

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel